Ego-Mask

Sebelum lenyap tanpa bekas, ia telah janjikan padaku terang. Tentang masa depan yang akan kami jalani. Tentang waktu yang abadi, tentang kebebasan yang tak memiliki tempat perhentian. Semua hal tentang mimpi-mimpi seindah puisi itu telah ia tanamkan pada jiwaku, dan mereka pun tumbuh menjadi pohon harap yang begitu subur. Tapi sekarang, hanya tinggal-lah aku. Aku yang kesepian. Aku yang diam-diam mencoba memetik buah-buah harapan yang membusuk.

Pernah satu hari, ketika siang tergelincir di kaki barat, ia bisikkan padaku dengan lembut dan mesra sebuah kata, rantaian kalimat yang tak bernada, “Tenanglah, sayang, dunia ini hanya sementara, sedang kita, singgah untuk menggenapi takdir yang tertunda.”

Selalu begitu cara yang ia gunakan untuk mengajarkan aku sebuah rahasia. Tapi kini ia telah mati. Dia telah mati. Kematian yang ditikam oleh sepinya sendiri. Seperti kata-kata para pujangga, bahwa penyair tak berumur lama. Dan ia telah membuktikan itu padaku. Bahkan dengan cara yang belum pernah kubaca dalam buku cerita manapun.

Jauh sebelum malam kematian yang murung itu. Kami telah menghabiskan ratusan rotasi bintang bersama. Menenggak nikmatnya rasi kata-kata yang menenggelamkan kami dalam ribuan tanya. Satu pertanyaan muncul dari pikirannya yang liar saat itu, ketika semburat jingga mulai tampak di ufuk timur.

“Hidup itu untuk apa? Jika jingga hari ini tak beda dengan kemarin, lalu untuk apa kita selalu menunggu di tempat yang sama?”

“Kita lahir dari ketiadaan, untuk menuju ketiadaan. Lalu, bagaimana mungkin kita takut pada sebuah kehilangan?”

 

images (9)

Di antara padang rumput yang menghitam diselimuti malam, dia menggenggam tanganku. Danau yang biasanya tampak hijau di siang hari, saat itu membiru seakan paham apa yang tersembunyi di dalam diri kami masing-masing. Hati ini sedang mengharu dalam bisu yang begitu riuh.

Terkadang aku balik bertanya padanya, walaupun dengan ketakutan yang aku ciptakan tanpa sebab. Saat malam kembali sembunyi. Sunyi berganti suara pagi yang tak lama lagi. Aku coba melontar sebuah tanya padanya.

“Kenapa kau selalu merasa bahwa hidup hanya sementara?”

Maka telunjuk ringkihnya itu ia arahkan pada jingga yang mulai memerah.

“Lihatlah, cahaya sepuitis itupun tak abadi. Dan malam baru saja berlalu”

Dalam bayangnya yang mulai pudar, aku bertanya sekali lagi. Sebelum ia pergi dengan sayap-sayap mimpinya. Seperti yang biasa dia lakukan sebelum-sebelumnya.

“Jika benar tak ada yang abadi, kemana kita setelah mati?”

Dia tersenyum memandang pada matanya sendiri. Seolah mendapat jawaban untuk dirinya seorang.

“Sekarang, aku akan melihat dan menuju ketiadaan. Sebab kau telah menemukan keberadaan. Kau telah berani bertanya. Aku hanya akan menunggu, hingga saatnya tiba nanti, kita sama-sama akan berhenti bertanya, ‘hidup itu untuk apa?’ Maka esok, pada hari di mana kita bertemu kembali, kita akan mendapat bukti, ‘apakah benar ketiadaan itu tiada’?”

in_search_alter_ego__iii_by_anelowy-d3aj3dv

Dia benar-benar adalah makhluk sakral yang tak aku kenal. Dia hanya muncul ketika malam menuju dini hari, menjelang kedatangan mentari. Dia adalah egoku sendiri, yang sedang mencoba bunuh diri. Membunuh dirinya dengan pertanyaan, dengan kegilaan. Seperti penyair yang sok-sok’an, seperti telah menemukan Tuhan.

alter-ego-l

Jogjakarta, 13 Juni 2016 // 03:43 AM

Advertisements