016827600_1461990112-2

“Ketika harapan tak pernah terwujud. Hanya satu yang tersisa bagi kita, Olivia. Jangan pernah kecewa, jangan kecewa, jangan kecewa. Jangan pernah kecewa. Olivia!!”

Olivia. Adalah gadis bermata abu-abu yang pendiam itu. Tak seorangpun yang benar-benar mengenalnya. Tak seorangpun yang memahami jalan pikirannya. Tidak untuk saudara-saudaranya, tidak untuk teman-temannya. Bahkan tidak juga untuk kedua orang tuanya. Hanya dia, sungguh hanya dia dan Tuhannya saja yang paham apa yang terpatri dalam batinnya.

Pada satu malam yang ganjil, Olivia termenung menatap purnama yang bundar. Pikirannya melayang dalam pekat. Ketika jutaan manusia berlomba-lomba coba menunjukkan diri mereka pada dunia. Mendaki, menanjaki aktualitas diri. Merenangi lautan eksistensi. Olivia, berputar-putar kebingungan mencari dirinya sendiri. Menyelami batin terdalamnya. Masih mencoba berkenalan dengan seorang yang diam-diam bersembunyi di dalam palung jiwanya sendiri.

“Tak adakah yang tersisa dari serpihan kemewahan dunia ini, sayang? Selain prasangka dan dendam?”

“Adakah tempat di sudut bumi ini, dimana aku terlepas dari segala tuntutan?”

“Untuk apa ada harapan? Jika di belakangnya bersembunyi kekecewaan?”

Begitulah pertanyaan-pertanyaan telah lahir dari bibirnya yang mungil. Di atas sebuah bukit, pada desa pinggiran kota, tempat aku melepas penat. Di sanalah aku bertemu Olivia.

**

Belakangan ini aku merasa sangat melankolis. Jalan-jalan terasa sepi. Deru mesin terdengar berhembus seperti angin yang kesepian. Rintik hujan saja mampu membuat aku terbuai kosong. Entah apa yang terjadi pada diriku. Aku hanya merasa sendiri. Sendiri seolah dapat berdiri. Padahal sesuatu di dalam sini berusaha menjauh, menghilang, sungguh pondasi batinku sedang roboh.

Jiwa-jiwaku yang kuat tengah menghindar, tak sudi mendekati aku yang bodoh ini. Kemana lari rasa percaya diri yang memuncak seperti North Face? Kemana mayoritas jiwaku yang penuh gelora itu? Kecerdasan, logika, beranjak berselimut ke dalam ketakutan dan kebingungan. Jika aku tak salah mengingat, inilah mungkin yang para manusia katakan rasa khawatir. Benarlah kini aku sedang dipeluk mesra oleh kekhawatiran yang biadab itu. Rasa yang entah darimana muncul begitu saja.

Tapi beruntunglah aku, si Olivia. Ada satu hal yang masih tersimpan dan tak ikut pergi bersama kekhawatiran itu. Hanya satu ini saja yang dapat aku andalkan. Hanya sesuatu ini saja yang dapat mengembalikan sekali lagi jiwa-jiwaku seperti sedia kala. Memori. Kenangan. Tetaplah dia di sana, membersamai aku dalam kejatuhan kecil ini.

Selagi akalku masih sanggup menyimpan memori sejarah hidupku, mengingat setiap detail puing-puing batin yang mampu kuserap dengan susah payah. Maka, aku akan tetap hidup. Saat itulah jiwaku tak akan pernah mati.

Ada beribu kisah yang ingin kubagikan padamu. Dan ada lebih banyak pertanyaan tanpa jawaban untukmu. Ketika yang lainnya mencari-cari jawaban, aku justru terus menerus mencipta pertanyaan. Sibuk dengan segala tanya yang aku reka-reka seorang diri.

“Apakah itu takdir? Dapatkah ia berubah sesuai inginku?”

“Apa guna hari kemarin? Jika aku hidup hari ini, dan menggelinding untuk esok?”

“Apakah Tuhan melihat aku? Sudah tertuliskah seluruh laku dan luka-ku di atas sana?”

“Hey, kawan. Beri aku lebih banyak pertanyaan, tanpa jawaban. Sungguh aku ingin memakan seluruhnya, hanya untukku.”

Aku Olivia. Aku tumbuh bersama tanya.

***

Olivia, setiap aku bertemu dengannya di atas bukit itu, aku akan pulang dengan ribuan jawaban. Dia tak pernah menjawab, hanya tanya yang bersimbah dari mulutnya. Tapi sungguh, justru di sana aku temukan jawaban.

Olivia, adalah gadis yang selalu aku temui. Ketika malam tiba dan aku duduk menghadap lampu-lampu kota yang terlihat dari atas sini, ia akan muncul dari belakang rumah tetangga, tetangga rumah yang aku tinggali. Dia memberi makna hanya dengan tanya. Kami berjalan-jalan habiskan malam berdua, dengan lebih banyak celotehnya. Aku sudah lama memang tidak ke desa ini. Begitu banyak yang telah berubah. Dan gadis kecil inipun telah tumbuh begitu cepat dari yang pernah aku kenal.

“Maukah kau kuberi satu rahasia?” bibir kecil itu bertanya, matanya yang tajam menatapku dalam.

“Kau harus tahu, bahwa hidup, bukan hanya untuk masa depan. Bukan. Tapi kita, hidup untuk masa lalu.”

Begitulah kata-kata yang keluar, setelah sekian banyak pertanyaan, baru malam inilah ia mengeluarkan pernyataan.

***

bulan (1)

Ini adalah hari, dimana aku akan segera kembali pada riuhnya kota. Meninggalkan desa berbukit yang teduh ini. Berpamitan pada Olivia. Gadis bermata kelam, yang hanya aku temui pada kedatangan malam.

Aku telah berdiri pada pintu rumahnya. Dan keluarlah kedua orangtuanya, dengan rambut yang telah memutih.

“Pak, Ibu, saya pamit dulu. Terimakasih atas segala hal yang telah bapak dan ibu berikan selama saya di tempat ini. Terimakasih atas keramahannya. Oh ya, kemanakah Olivia? Masih tidur? Saya titip salam padanya, tolong katakan padanya nanti kapan-kapan kita bertemu lagi. Sampai berjumpa di lain hari.”

Kedua orangtua itu memandangku dengan tatap yang begitu sayup.

“Anak kami, Olivia, telah meninggal dua tahun yang lalu. Tertanam jasadnya di atas bukit belakang sana.”

 

Jogjakarta, 8 Juni 2016 // 00:14 AM

Advertisements