hqdefault

Aku ingin menulis sekali lagi malam ini, seperti pesakitan menjelang kematiannya. Memasang kembali jemari yang telah lama kulepas. Memetik kenangan yang berserak, menjemputnya, merangkainya, menjadikannya kisah yang terabaikan.

Aku akan bercerita padamu tentang seorang gadis yang memotong jari-jemarinya. Wanita kecil pendendam yang telah melempar seribu kata pada jantung nuraniku. Menembus aorta aliran perasaanku. Dimana ia memberiku arti, setelah menusukku dengan tanya, “Bagaimana hidup dapat begitu kejam?

Pada suatu ketika yang tak kan pernah kalian ketahui. Gadis kecil itu telah mengirimiku sepucuk surat hitam bertinta darah.

Hay saudaraku, kukirimi kau sepucuk surat berita. Hari ini aku sangat bahagia. Kau tahu apa penyebabnya? Bacalah, akan kuceritakan padamu. Sepulang sekolah tadi, aku dihadang oleh dua orang pemuda. Ya, mereka hanya berdua. Awalnya mereka tersenyum memperhatikan seluruh tubuhku, aku belum berpikiran apa-apa. Tapi tiba-tiba, mereka berubah jadi begitu beringas seperti binatang. Mata mereka merah menyala. Aku mencium aroma alcohol yang kuat dari mulut mereka. Pakaianku dilucuti, aku diseret hingga ke semak yang tersembunyi. Aku tak mampu melawan. Tubuh mereka terlalu besar. Kepalaku ditampar oleh seorangnya, yang seorang lagi mencekik leherku. Ketika aku lemas tak berdaya, entah apa, seperti ada yang terjadi pada tubuhku. Semua terasa berat, dan perih. Aku sempat berpikir pada remangnya pikiran, apakah aku sedang diperkosa? Perkosaan seperti yang diberitakan Koran-koran setiap paginya. Sakit. Beginikah sakitnya? Tubuhku serasa lebam. Dan yang kulihat hanya mereka telah bertelanjang dada.

Tapi tak berapa lama, mereka pergi. Aku ditinggal bugil tak berbaju. Dalam keadaan yang begitu biadab!!!

Surat itu habis pada kertas pertama. Begitu naïf surat yang ia tuliskan. Aku mencari-cari dimana letak kebahagiaan yang didapat gadis kecil itu, selayak yang ia katakan di awal. Di sana hanya ada derita yang kubaca.

Dan tahukah kau saudaraku, Hal yang tetiba membuatku begitu bahagia, adalah ketika aku mencoba merangkak keluar dari kehinaan itu. Kulihat seorang gadis yang lebih kecil dariku, baru saja melewati jalan setapak yang kulewati tadi. Saat itulah segala kesakitan, lebam, dan malu berganti bahagia dan perasaan lega. Untunglah aku yang lewati jalan setapak itu lebih dulu, hingga saudari kecilku tak merasakan apa yang kurasa.

Stevens_Linda_Journalist

Kisah dalam surat itu berhenti tanpa tanda. Tak ada alamat, tak ada tanggal, dan tak bernama. Keesokan hari datanglah padaku lebih banyak kertas. Kegetiran bergelayut dalam kata-kata yang tertulis. Aku tak pernah tau siapa yang menuliskannya. Bahkan aku tak pernah bertemu siapa yang mengantarkannya, yang kutahu, surat-surat itu telah tergeletak di depan pintu rumahku, di pagi hari.

Hay, saudaraku. Aku ingin bercerita lagi. Aku harap kau belum tidur di kasur empukmu. Hari ini aku mendapat sebuah kejutan bahagia. Ibuku mempersilakan aku berhenti bersekolah. Aku yang meminta. Yaa, bagaimana lagi saudaraku. Aku malu, bagaimana mungkin aku keluar dengan membawa kehinaan ini, membawa tubuh kotor ini. Tatapan-tatapan di luar sana lebih menyakitkan di banding tatapan pemuda-pemuda yang mengotoriku. Seolah akulah penjahat itu. Dan satu lagi kabar yang membuat jantungku rasanya berdarah, adalah kabar tentang dua pemuda itu tertangkap, hanya saja, mereka dihukum beberapa tahun penjara. Adilkah itu, saudaraku? Sedang aku membawa derita ini sampai mati?  Sampai ke liang lahatku?

Semakin hari, surat-surat itu semakin merasuki kehidupanku. Aku tak tenang. Bagaimana aku harus menolong penderitaannya? Aku tak kenal gadis itu. Tak tahu dimana dia. Tak mengerti harus mencari kemana. Aku hanya bisa membaca derita demi derita. Hingga suatu hari yang tak biasa. Surat itu datang dalam keadaan yang janggal. Di pagi hari saat aku bangun membuka mata. Kata-kata itu tertulis di langit-langit kamar.

Hay, kuberitahu kau satu hal terakhir. Hari ini aku mendapat pembelaan!! Dan itu pula yang membuat hilangnya kepercayaan terakhirku. Puluhan wanita berkumpul di satu titik. Mereka membunyikan lonceng tanda bahaya, sebagai tuntutan bahwa kaum kami harus diselamatkan. Mereka ciptakan kebisingan, entah untuk kepentingan siapa. Mereka berkumpul menuntut hentikan diskriminasi terhadap wanita, tapi pakaian mereka menampakkan segala bentuk tubuh. Mereka menuntut bahwa hentikan kekerasan terhadap wanita, dengan latar iklan billboard yang mempromosikan minuman keras, tapi tak mereka hiraukan. Mereka tuntut penjagaan kehormatan wanita, sedang poster-poster yang menampilkan lekuk tubuh dan keindahan wanita yang menggiurkan di sepanjang jalan, mereka biarkan bertebaran begitu saja.

Saudaraku, aku bingung. Setiap aku menulis satu kata, setiap itu pula seolah hatiku tak pernah menembus jiwa yang lainnya. Kesakitan di dalam sini terasa semakin nyeri, setiap jariku menuliskan kalimat. Seolah apa yang aku ingin, tak pernah tersampaikan. Semakin hari, aku lihat tak hanya aku yang menjadi korban. Aku frustasi, saudaraku. Besok tak akan ada surat lagi. Saat kau baca ini, aku telah memotong jemariku. Aku lelah menulis.

tangan

Surat itu berhenti. Benar-benar berhenti, tak ada lagi. hanya tulisan di langit-langit kamarku saja yang tertinggal. Dengan garis yang begitu aku kenal. Seperti tulisan tanganku 20 tahun yang lalu, ketika aku masih begitu muda.

Jogjakarta, 30 Mei 2016 // 23:32 PM

Advertisements