218844_karya-seni-dari-kertas-oleh-yulia-brodskaya_663_498

Ketika itu langit dipermainkan bintang. Bulan mengintip malu-malu di balik kabut malam yang liar. Jangkrik bersenandung harmoni, memberi tanda bagi hawa panas untuk membelai tubuh-tubuh kaum tropis.

Aku tak berbaju, hanya memakai celana tanggung yang ujung bawahnya menutupi sampai ke betis. Pinggang celana kuangkat sampai ke pusar. Agar tak terlihat bagian-bagian intimku. Panas benar malam ini. Keringat sebesar-besar beras menempel pada kulit. Membuat risih siapapun yang punya badan. Kutenggak buru-buru air perasan jeruk bercampur es batu, yang dari tadi melambai-lambai saja rasanya di atas meja. Haaah, segarnya.

Kulirik sedikit ke dalam rumah, melihat jam yang tertempel di dinding. Pukul Sembilan malam. Anak-anak yang tadinya ramai bermain, berlari-larian, kini sudah pulang ke induk mereka masing-masing. Ayah dan ibuku tampaknya juga sudah terlelap dalam lelah. Kini hanya tersisa aku di halaman depan rumah.

“Selamat malam, Tuan.”

Seorang kakek tua sudah berdiri di depan pagar rumahku. Wajahnya tampak lelah. Entah sejak kapan dia berada di sana. Pakaiannya serba kuning. Kaosnya kuning, ditutupi jaket kain berwarna kuning juga. Celana kain berwarna kuning. Baret kuning. Hampir semuanya berwarna kuning. Hanya sepatunya saja yang berwarna kuning kotor, hampir kecoklatan. Selembar selendang tampak hampir mencekik lehernya. Dan seperti biasa, ia menyandang sebuah tas di bahu kirinya.

“Selamat malam kembali Pak Tua.” Aku menatapnya gugu. Kenapa rumahku? Angin apa pula yang membawanya kemari. Tampaknya orang di rumah sehat-sehat saja. Harus kehilangan siapa aku? Pasti ia salah alamat lagi, pikirku.

Mari aku perkenal pada kalian siapa dia ini. Kami memanggil kakek itu Pak Pos Mati. Ya, aku kenal dia. Sangat kenal, Karena dia memang pengantar surat kematian di kampung kami. Sejak aku dapat mengingat, memang sudah begitu gaya pakaiannya, tak pernah berubah sampai kini. Serba kuning. Dari ujung kepala hingga telapak kaki.

Kerjanya mondar-mandir keliling kampung. Ada tak ada surat, tetap ia berkeliling. Seolah burung mengincar daging yang siap membangkai. Jika ada rumah yang ia datangi, dan surat sudah dipegang penerima. Artinya, cerita berakhir buat sang penerima kabar. Tunggu saja dua-tiga hari. Mesti kematian yang ia terima.

Bahkan, bukan sekali dua kali orang mencoba lari. Pura-pura tak ada di rumah, saat Pak Tua tiba-tiba sudah bertengger di depan pintu. Pergi keluar kampung, saat tahu Pak Tua sudah mengincar rumahnya. Bersembunyi di hutan. Berkurung di dalam kamar. Tapi heran, entah bagaimana caranya, Pak Tua itu selalu saja dapat menyentuhkan suratnya ke tangan penerima. Dan tunggu dua-tiga hari, matilah sudah. Dulu, ya itu dulu-dulu.

Sekarang, beberapa minggu belakangan ini, Pak Pos mati ini tampak sangat lelah. Beberapa surat yang ia antar tak lagi berfungsi. Ada seorang tetanggaku, sudah dua minggu semenjak ia menerima surat peringatan, tapi sampai sekarang ia masih sehat di rumahnya. Dan masih ada beberapa orang lagi yang “selamat”, padahal mereka sudah menerima surat lebih dari dua-tiga hari.

Aku ingat betul. Saat tetangga dekatku, Pak Muna, umurnya sudah lebih kepala delapan. Dua minggu lalu ia kedatangan Pak Pos Mati. Berteriak ia sekencang-kencangnya. Seperti orok yang baru keluar dalam rahim ibunya.

“Akuuu, matiiii akuuu.” Mukanya pucat pasi, seolah ia sudah benar-benar akan mati saat itu juga. Melompat-lompat memegangi kepalanya.

Setelah dapat surat peringatan itu, Pak Muna ini jadi Rajin sholatnya. Baik lakunya. Menjelang dua-tiga hari, hampir habis hartanya buat dibagi-bagikan pada orang sekampung. Ckckck, Memang manusia perlu diancam.

Tapi, aiiihh, sudah lewat dua-tiga hari, belum mati juga ternyata. Jangankan orang sekampung. Pak Muna, sebagai tervonis saja heran bukan kepalang. Senang.

Habis kejadian itu, perlahan berbalik lagi sifatnya. Bolong-bolong kembali sholatnya. Lakunya pulang seperti dulu, tak baik. Bahkan hartanya yang sudah dibagi, diminta kembali. Tak tahu malu.

Dan malam ini, Pak Tua itu tersesat kemari. Ke rumahku. Tak mungkin pura-pura tak ada. aku sudah tertangkap basah sedang menikmati segelas es jeruk. Telanjang dada pula. Tanpa aku silakan, dia sudah mendekatiku, ia beri aku sebuah kertas kuning, semacam sertifikat. Tertulis di sana. Tulisannya terang berwarna hitam.

“Kepadamu yang terhormat, Tuan Kehidupan”

WAKTU SUDAH TIBA, SAATNYA PULANG

buvZHzS

Itu surat buatku. Ya!! Buat aku!!

Itu artinya, dua-tiga hari. Hanya dua-tiga hari lagi saja yang tersisa. Ingin rasanya berteriak-teriak seperti Pak Muna, lompat-lompat keliling kampung. Akuu matii, Akuu Matii, berteriak begitu. Tapi, tidak, aku urungkan saja.

Pak Tua, Pak Tua. Apa yang dapat aku lakukan dalam dua-tiga hari dengan kabar semacam itu. Di usia sepagi ini?

***

Mulai malam itulah, sejak aku menyentuh “surat vonis mati” dari Pak Pos Mati, hingga dua-tiga hari berikutnya. Dengan sedikit terpaksa, Aku lakukan hal yang sama seperti tetangga-tetanggaku yang lain. Semacam sudah budaya. Adat dan drama yang mesti dilakoni jika Pak Pos Mati sudah bertandang. Semua jadi baik. Aku harus menjadi lebih baik lagi. Apapun itu. berperilaku baik, sebelum dua-tiga hari. Dan dua-tiga hari berlalu. Ternyata, sama. Tak terjadi apa-apa. Tampaknya memang benar. Surat Pak Pos Mati, sudah habis masa berlakunya.

Bukan hanya aku. Hari-hari selanjutnya, semakin banyak orang selamat dari ancaman surat Pak Pos Mati.

Kampungku mendadak jadi pesta pora. Mereka lupa. Mereka merasa tak lagi ada ancaman dari Pak Pos Mati. Kekuatannya sudah musnah. Lenyap, sertifikatnya kadaluarsa.

Setiap Pak Pos datang ke satu rumah. Tuan-tuan rumah menerimanya dengan wajah berbeda; tersenyum mencibir. Tak ada lagi ketakutan. Rasa was-was hilang.

“Silakan masuk Pak Tua, letakkan saja suratnya di meja. Nanti saya baca. Tidak mampir dulu? kita minum?”

***

Berlalu berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Orang-orang seakan lupa pada Pak Pos mati ini. Seakan ia tak pernah menjadi peringatan.

Sampai datang suatu hari. Hari yang membuat orang sekampung bersorak-sorai gembira di atas kedukaan. Di sebuah Pohon beringin tua. Terbaring sesosok tubuh. Rambutnya putih sudah. Sebuah baret tergeletak lepas dari kepalanya. Pakaiannya serba kuning. Surat-surat berserak.

Ya. Pak Pos mati, ditemukan mati.

Setelah kematian yang menggemparkan itu. Semakin membangkai saja kehidupan di kampungku. Orang-orang sudah lupa diri, seolah kaki tak berjejak ke bumi, pandangan tak lagi ke langit. Pikir mereka, kalau Pak Pos mati, mati. Maka kematian pun berhenti datang. Ancaman hilang seketika.

Sayang, yang berlaku sebaliknya. Pak Tua yang jadi pengingat itu sudah tak ada. Ancaman justru datang mendadak. Kini, tak ada lagi peringatan. Taubat tak lagi sempat. Semua datang tiba-tiba. Kematian hadir tanpa tanda. Menyerang bak busur panah dari dalam hutan.

Mendadak pula ketakutan mendekap. Satu persatu warga kampung ini mati tiba-tiba. Tanpa ancang-ancang. Tanpa surat. Semua orang disekap kekhawatiran. Bersembunyi di rumah-rumah ibadah. Menjadi baik setiap harinya adalah pilihan. Sebab, tak ada lagi peringatan. Justru matinya Pak Pos Mati, memunculkan peringatan keras.

Memang manusia. Hidup harus selalu diancam agar tak lupa diri.

Pak Tua pengantar pesan itu boleh saja mati. Tapi kematian? Tidak! Dia tetap mengintai, dan meminta kehidupan kembali pulang.  Kembali ke Penciptanya.

Dalam kegemparan itu, aku hanya berani sembunyi. Ketika malam datang, aku tak berani di luar rumah. Mendekam saja di kamar. Hingga, sebuah suara mengetuk jendela kamarku. Aku tak membukanya. Dan semakin keras saja ketukan-ketukan itu.

Aku intip sedikit dari celah kecil di jendela. Aku lihat seorang berpakaian hitam membawa sebilah pedang panjang mengkilat.

Oohh, kini aku paham. Justru di saat terakhir ini aku paham. Kematian datang tiba-tiba. Dengan mendadak. Tanpa memberi waktu jeda. Harusnya Pak Pos Mati, jangan mati. Kini aku kira, pasti orang-orang kampung sedang berdoa, agar Pak Pos Hidup kembali.

Sayang, terlambat.

images (21)

 

Jogja, 7 Oktober 2015 // 02:07 AM

Advertisements