gerimis

“Untuk apa aku lakukan semua ini, jika akhirnya untuk kutinggalkan juga?”

Suara itu bertanya dalam nada yang datar.

Lelaki itu bermata kecil. Ia sedang termenung, berpangku pada kusen jendela. Matanya yang tajam menatap keluar ruangan yang dipenuhi cahaya lampu kota. Bahunya terlihat berat, pundak itu membungkuk seakan ia telah merasakan beban yang amat sangat. Bicaranya terdengar begitu waspada, seolah telah ia rasakan seluruh kesulitan dalam hidup, yang membuatnya selalu siaga, bahkan hanya untuk bersuara.

Di balik tubuh muda itu nyatanya terdapat jiwa yang sangat ringkih. Melihatnya orang-orang mungkin tak akan berpikir, bahwa dalam dirinya ia telah menjalani hidup sebagai orang yang berumur panjang. Hampir-hampir tak bersisa kegagahan berciri pemuda yang terpahat di jiwanya. Lelaki itu selalu merasa bahwa hidupnya adalah sebuah kehilangan.

“Aku hanya mendapat sedikit hal, tapi aku telah kehilangan begitu banyak.” Ucapnya menatap lirih mata sendiri.

Malam ini, lagi-lagi ia duduk seorang diri. Di dalam kamar remang yang menceritakan ribuan macam kenangan. Ia teringat akan suatu sore lembayung. Saat seorang anak kecil  menawarkan jasa ojek payung padanya.

“Mari payungnya, Pak. Mari saya antarkan jika hujan nantinya turun.” Senyumnya merekah di bawah bayang teduh payung hitam.

Lelaki itu hanya tersenyum meringis. Ketika itu hari sangat normal. Seperti biasa. Mendung tidak, cerah pun tidak. Sudah dua tahun lamanya tempat ini seolah tak akan pernah menurunkan lagi rintik-rintik harmoni. Hujan seakan marah pada tanah-tanah yang kering. Seakan benci dengan segala keangkuhan yang ditunjukkan oleh penghuni bumi. Sedang anak itu datang menawarkan dengan menggandeng tangannya. Memberi harap yang begitu dalam. Seakan ia tahu bahwa hujan sebenarnya tak pernah hilang. Hujan itu selalu ada. Selalu membanjir di dalam jiwanya.

Tapi lelaki muda merasa tak punya alasan untuk menerima tawaran anak kecil itu, tak juga punya alasan untuk menolak. Yang ia bisa hanya diam mematung di tempat. Menunggu anak itu pergi tanpa diminta.

Berhari-hari saat ia sedang menghabiskan sore di sebuah pohon besar dekat kantornya, ia akan kedatangan tamu kecil yang menawarinya payung itu. Dan selalu saja sama apa yang ditawarkannya.

“Mari payungnya, Pak. Mari saya antarkan jika hujan nantinya turun.”

Dan malam ini. Ia benar-benar teringat kembali pada sesosok kecil itu. Entah kenapa, apa yang dilakukannya kini tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan bocah itu. Hanya bedanya, bocah kecil berpayung selalu penuh semangat. Seolah ia tahu dimana akhirnya. Tahu bahwa hujan akan kembali turun.

Namun lelaki itu. Dia terus menerus melakukan suatu hal yang ia pun tak tahu kemana akhirnya.

Teringin banyak hal dalam benaknya. Di umurnya yang sedang berada pada puncak hari, senja masih separuh jalan. Tapi, semakin waktu memakan usia, semakin hilang arah tujuan. Dia telah mempersiapkan segala hal sejak muda, demi menyambut kebijaksanaan di waktu yang tepat. Namun, entah kenapa ujung itu tak juga kunjung datang. Hingga cahaya kian pudar, surut menuju senja lembayung yang pucat.

162718_620

***

Udara panas mengibaskan sayapnya, membelai tubuh-tubuh yang bermandi keringat. Angin bertiup kencang. Lelaki itu tau bahwa hujan akan segera datang. Musim itu sudah waktunya menemani mereka dengan kesejukan. Lihatlah, lilhatlah. Dengan nyanyian rintiknya. Nyanyian katak-katak yang merindu. Akhirnya rintik pertama menabuh tanah yang kering. Terdenger olehnya satu persatu titik kehidupan itu turun.

Lagi dan lagi, bayangan anak kecil itu muncul. Bukankah ini waktu dimana ia seharusnya hadir. Waktu yang ia tunggu untuk membawa lelaki itu di bawah payung hitamnya. Ya,lelaki itu berpikir bahwa esok ia harus menunggu di bawah pohon seperti biasa. Dia ingin dipayungi oleh anak kecil itu. Kini telah tiba saatnya.

Lelaki itu duduk dengan harap. Harap yang menggantung pada langit. Ini adalah hujan pertama sejak dua tahun. Hujan yang tentu saja menjadi tanda kekuasaan Tuhannya. Sejak tadi malam hujan ini tak juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Seolah mendekap dengan rindu yang sangat. Sedang memeluk mesra tanah yang menantinya. Aroma tanah yang menguap itu. memberi tanda kehidupan baru.

Lelaki itu. Dia masih saja berbasah-basah menunggu. Harusnya ia datang sebentar lagi. Lelaki kecil. Bocah berpayung hitam teduh itu. Ia menanti sampai datang seorang gadis membawakan payung merah mendekatinya. Sosok yang bukan ia harapkan.

“Mari, Pak. Payungnya.”

Memandang heran, kenapa tidak lelaki kecil berpayung hitam itu? bukankah ia yang selalu membuat harapan hujan akan datang.

“Kemana anak kecil berpayung hitam itu? yang selalu berucap, ‘Mari payungnya, Pak. Mari saya antarkan jika hujan nantinya turun.’ Kemana dia?”

“Oh, Lelaki kecil berpayung hitam itu. Ia adikku, Pak. Marylin namanya.” Gadis muda bermata tajam itu menatap dengan tersenyum.

“Ya, anak itu. Marylin. Kemana dia?”

Wanita muda itu mendekatkan wajahnya sambil memayungi lelaki yang tampak pucat, dingin hujan menambah kesenduan wajahnya. Kini mereka di bawah payung merah yang dibawa oleh si gadis. Dan gadis itu berbisik pasti. Suaranya jelas, sejelas lebat hujan yang menghantam dedaunan.

“Lelaki kecil itu telah menjadi hujan.”

Ya, dialah yang menjadi hujan.

mandi hujan2

 

Jogjakarta, 8 april 2015

Advertisements