cermin-angker-dan-berhantu-dilelang-anda-berani-beli

Amy memandang genit pada cermin kaca di hadapannya.

Amy membatin pada diri sendiri. Cermin, kau adalah sahabat terbaikku. Saat aku menangis, kau tak pernah tertawa. Saat kita bertemu, aku bisa melepas rindu pada diriku sendiri. Kau sungguh dapat diandalkan, kasih.

Lalu, Tanpa sebab lain, Amy pun tertawa seorang diri sekeras-kerasnya.

Wanita yang sedang dalam kematangan umur itu tampak sangat bahagia. Ada penghuni baru di dalam kamar kecilnya. Belum lama ini ia membeli sebuah cermin. Tak sengaja saat ia menghabiskan liburan di sebuah kota. Jepara, Jawa tengah. Kota yang memang terkenal dengan seni ukir-mengukir. Tapi, Amy tak mau menceritakan tentang seluk-beluk kota itu. Cermin. Ya, hanya cermin itu saja yang mau dia ceritakan.

Cermin ini sebenarnya tampak biasa-biasa saja. Ukiran khas jawa membingkai di sekujur empat sisinya. Ukiran kayu yang mengkilat sebab sudah diberi plitur. Terlihat coklat, seperti kulit para tani yang hangus mengkilat dibakar sinar matahari. Ukurannya tak kecil, juga tak dapat dikatakan besar. Tingginya sekira satu meter saja, dan lebarnya setengah dari itu. Hanya gantungan kaca itu saja yang unik, diberi hiasan berbentuk kepala burung gagak. Nah, benda itulah salah satu yang membuat Amy tergoda untuk meminangnya.

Tapi. Sabar dulu. Ada satu hal lagi yang membuat Amy tambah jatuh hati. Ini mungkin yang terpenting. Hal yang tak dapat dirasakan oleh orang lain. Hanya Amy yang paham bagaimana rasanya. Dia adalah perasaan yang muncul begitu saja saat Amy memandang manja padanya. Seolah cermin itu melukis kembali diri secara acak. Setiap ia bercermin, lukisan wajahnya tak pernah serupa. Semacam ada hal yang selalu baru, yang diceritakan cermin itu kepada Amy lewat pantulan buramnya yang memancarkan sejuta kisah.

***

Ya, ini sudah beberapa hari berjalan sejak Amy membeli cermin kaca.

Petang datang seperti biasanya. Amy pulang membawa penat yang terpikul terpaksa di pundak. Tapi hatinya senang. Ia sudah tak sabar ingin bertemu kekasihnya. Cermin kaca yang telah menunggu dengan anggun. Tertambat pada dinding yang dingin. Cermin tempat ia mencurahkan keluh-kesahnya.

Ada banyak rahasia yang hanya Amy ceritakan pada kekasihnya itu. Tak seorangpun yang berhak tau. Kecuali sang cermin. Ya, kini  memang hanya cermin itu saja yang boleh. Dan sekarangpun, ada satu lagi rahasia kecil yang bersembunyi di biliknya. Bukan. Bukan rahasia tentang celana kolornya yang tergantung sembarangan di dalam ruangan. Tapi rahasia. Ya rahasia. Biarlah Amy sendiri yang menceritakannya nanti.

***

Amy baru saja selesai mandi. Kini ia berpakaian piyama, tanpa bedak, tanpa remah-remah pemanis muka. Polos saja wajahnya, seperti gadis yang belum mengenal kata haid, shoping, dan sulam alis.

Sebelum beranjak dari sadar, untuk kemudian bangkit dalam bunga-bunga tidur; mimpi, Amy menyempatkan diri memandang lamat-lamat pada cermin kaca di sebelah tempat tidurnya. Tempat dimana rahasia-rahasia berlindung. Rahasia yang selama ini hanya dia yang tahu. Drama tanpa kabel dan jaringan televisi yang membuatnya betah berlama-lama di depan sang kekasih. Wajah yang selalu berbeda hadir di dalam cermin kaca itu.

Hampir lima menit Amy hanya termenung saja, menatap dirinya sendiri. Belum ada apa-apa yang berarti. Masih lukisan diri yang terpampang. Ditambah beberapa perabotan yang berhadapan dengan cermin. Meja kerja yang di atasnya berserak buku-buku belum selesai dibaca. Sebuah lampu kecil penerang saat membaca. Dan lemari kecil setinggi setengah badannya.

Tapi kemudian. Barulah rona mukanya berubah. Nah, cerita akan segera dimulai. Wanita itu menyeru pelan dalam hati. Ia majukan kursi lebih ke depan. Dagunya ia sandarkan pada tangan. Bibirnya tetiba saja tertarik ke atas; tersenyum. Apa yang dia nanti akan datang.

Dari dalam cermin itu. Wajahnya perlahan menghilang. Semakin buram. Buram. Menjauh. Dan hilang lenyap. Tak ada lagi bayangan diri. Ranjang. Meja. Lemari. Semua di sekitarnya tak terpantul di dalam cermin. Bahkan kamarnya pun tak lagi di sana. Hampa. Hanya menyisakan putih. Jernih. Tanpa noda.

Beberapa jenak di balik sana hanya ada kekosongan. Kemudianlah, Cermin itu mulai menampakkan bayang yang muncul satu persatu. Sebuah ranjang kayu yang tampaknya sudah berumur sangat tua. Ada sedikit keropos pada kaki-kakinya. Muncul lagi sebuah lemari tinggi yang menjulang menyentuh langit-langit kamar. Pakaian kotor bertebaran dimana-mana. Aihh, Amy menjijik di dalam hati. Melihat celana kolor yang tergantung di sebalik cermin sana. Berserak sungguh kamar baru ini. Ah, itu bukan lagi pantulan kamar Amy. Entah kamar siapa. Wanita itu masih tercenung saja. Seolah menunggu lanjutan dongeng sebelum tidur yang didendangkan para ibu.

dali_girl-standing-by-the-window_qjpreviewth

***

“Hari yang melelahkan.”

Sesosok suara berat datang memasuki kamar. Bukan kamar Amy. Tapi kamar dari seberang sana. Dari balik cermin kaca itu. Itu suara lelaki. Amy bisa merasakannya. Amy menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu melenguh panjang. Tapi bibirnya masih saja tetap tersenyum.

Akhirnya lelaki itu muncul. Lelaki muda itu menggantungkan jaketnya pada paku di dinding. Lalu hilang sejenak dari pandangan cermin. Beberapa detik hening. Tetiba kembali lagi membawa sebuah kursi. Dan lelaki itu kini duduk tepat di muka Amy. Ya, kini mereka saling berhadapan. Amy jadi sedikit canggung. Awalnya dia tertunduk malu-malu. Karena mereka jadi hanya berdua saja di dalam kamar itu. Ah, tapi pikir Amy, dia toh hanya bayangan. Tak nyata. Buat apa pula harus tersipu malu.

“Haa, ada cerita apa malam ini, kekasihku sayang?”

Lelaki itu bergumam seorang diri. Sayang? Siapa sayang yang dia maksud. Kekasih? Akukah? pikir Amy. Tentu saja bukan. Pastilah kekasih yang dia maksud adalah cermin kaca yang sedang senang ia pandang.

“Ooo, jadi malam ini kisah pemilik lain lagi? Ya, ya, ya. Itu dia pemilikmu sebelumnya? Ya, ya, ya.”

Lelaki di seberang sana berceloteh-celoteh seorang diri. Entah apa yang dilihatnya. Amy melongo saja.

“jadi lelaki tua itu tak jadi bunuh diri? Ya, ya, ya. Karena kau ceritakan padanya tentang seorang pecinta yang dulunya amat kesepian. Tapi ia malah menjadikan kesepian itu sebagai taman-taman firdaus yang menenangkan hati? Ya, ya, ya.

Kau ceritakan juga tentang rindu yang merdu. Tentang rindu yang berada jauh di dalam relung. Bahwa rindu tak semestinya menyakitkan. Bahwa rindu sejatinya menghidupkan jiwa. Bertanda bahwa kita manusia. Bertanda cinta dan kasih masih bersemayam dalam diri. Tanpa sebilah rindu sebenarnya kita tak pernah paham tentang arti tajam mencintai. Ya, ya, ya. Kau benar cermin kekasihku.

Sungguh malang bapak tua yang ditinggal mati istrinya itu. Ya, ya, ya.”

Lelaki itu diam. Kenapa belum berkata-kata lagi. Amy menunggu penasaran. Dengan wajahnya yang genit-genit manja. Seperti kucing yang menunggu belaian halus pada lehernya oleh sang tuan.

“ Aiihh, lelaki tua itu mengajakmu menikah?!!! Benar saja?!!”

Lelaki itu melotot. Kenapa menatap begitu. Amy merasa risih. Padahal bukan untuk dia tatapan itu tertuju.

“Lah? Kenapa pak tua itu mendadak hilang!!!??”

Lelaki muda itu memiringkan kepala, menggaruk rambut yang tumbuh tak terawat di atasnya. Amy memandang heran pada wajahnya. Lelaki itu mendekatkan tubuh pada cermin kaca. Lalu mengelus pelan-pelan penuh cinta pada kayu yang membingkai cermin itu. ia raba sedikit demi sedikit, hingga tangannya yang basah juga mengusap kaca cermin.

Ia berkata pelan, namun penuh kepastian. “Andai manusia-manusia di luar sana dapat bercerita sehebat kau, kekasih. Tentu akan indah duniaku. Tak kisahlah tentang pak tua yang hilang mendadak itu. Kau tetap sanggup membuatku senang. Membuatku belajar banyak hal. Bercerita kisah. Tanpa sedikitpun meminta balasan. Inikah yang sebenarnya cinta? Apakah aku akan rindu jika berpisah dengan kau nantinya? Ahh, tidak, tidak. Kau tak akan pergi jauh. Kau akan kuikat. Selalu kugantung di dinding kamar ini. Akan kusimpan selamanya di sini.”

Amy masih bertopang dagu. Tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah laku lelaki muda di balik cermin itu. Sungguh bodoh, pikirnya. Tapi ia merasa ucapan lelaki itu bukan saja diucapkan sekadar hanya untuk cermin. Kata-kata itu juga diam-diam menyelinap dalam hatinya.

“Kalau perlu aku nikahi saja kauuuuu.” Lelaki itu melanjutkan ucapannya dengan lirih bergetar.

Hap!! Tetiba amy mundur dari cerminnya. Kursinya sampai terdorong ke belakang. Ia merasa malu. Ia merasa seperti baru saja dilamar oleh lelaki muda tadi. Perasaan aneh muncul dalam benaknya. Tapi lebih aneh lagi, lelaki itu malah hilang dari pandang. Hilang. Persis seperti lenyapnya pak tua yang diceritakan lelaki muda tadi.

Kaca diri

***

Amy mengacak-ngacak rambutnya. Antara pusing kepalanya atau gatal. Atau, entah apa yang sedang ia pikirkan. Kini di dalam cermin kaca itu, kembali terlukis dirinya. Kembali kamarnya yang terpantul di sana. Namun, Amy masih mencoba mencari-cari dimana kira-kira lelaki muda tadi bersembunyi. Ia dekatkan wajahnya pada cermin. Tak ada. Tak terlihat di sudut manapun. Dia hembus nafasnya jauh-jauh. Membuat embun buram pada cermin, kekasihnya itu.

Kenapa semua mendadak lenyap hilang? Setelah mereka ucapkan kata-kata yang hampir sama. Saat mereka benar-benar telah jatuh pada perasaan yang serupa. Pertanyaan-pertanyaan lahir dari kepalanya. Lalu amy berucap keras pada cermin itu, seolah meminta jawaban.

“Apa salahnya ingin memiliki?!! Kenapa mereka harus hilang, lenyap?! Kenapa saat mereka mulai dipenuhi rindu memiliki, mereka harus merasakan juga kehilangan? Kaukah yang menelannya, sayang?”

“Apa salah jika aku juga mengajakmu hidup bersama selamanya, hai cermin?”

***

Tersisa hanya ranjang. Lemari kecil. Meja kerja dengan lampu duduk dan buku-buku yang belum selesai dibaca di atasnya. Serta baju-baju yang tergantung berserak pada dinding.

Kursi itu masih di sana, menemani cermin kaca antik milik para kekasih. Tapi, Amy tak lagi di sana. Tidak lagi di dalam kamarnya. Amy hilang. Lenyap dari pandang. Masuk ke dalam cermin kaca itu. Amy hanya dapat melihat tanpa bergerak dari sebaliknya. ia melihat kamarnya sendiri, kosong tanpa penghuni.

Sebab Amy sudah menjadi penghuni baru cermin kaca milik para perindu. Dia yang memilih untuk ada di situ.

“Selamat datang penghuni baru”

kisah-nyata-nenek-ini-pernah-meninggal-dan-dikubur-dua-kali

Jogja, 21 Juli 2015 // 02:12 AM

 

Advertisements