IMG_4158

Perkenalkanlah.

Namaku Adalgisa. Kini pada waktuku, tepat pukul satu lewat tigapuluh satu tengah malam. 11 Maret 616 MB (Masehi Baru). Aku telah menuliskan surat ini.

Aku adalah gadis dari masa depan yang berselubungkan masa lalu. Seorang pemberi kabar yang tersisa. Aku telah diutus oleh nasib yang penuh dengan ironi dan tragedi. Kan kuhikayatkan pada kalian tentang waktu. Tentang hidup yang diburu-buru oleh takdir. Tentang nyawa-nyawa yang terabaikan. Saat darah menggenang ibarat kubangan rintik hujan yang tak berarti. Ketika harapan telah terkoyak-koyak mati. Kutorehkan kisah ini dalam keadaan setengah sadar. Akal yang lelah. Hati yang kelu dan beku yang tengah dihantam palu godam kekhawatiran.

Tepat sebelas ribu bulan sejak dari malam ini, aku telah melihat zaman yang mengerikan. Dimana air telah enggan untuk mengalir. Api tak lagi sanggup berpijar panas. Tanah tempatku berpijak runtuh ke dalam bumi. Besi dan baja meleleh seperti garam yang larut oleh air. Huru-hara menuju permulaan tanpa ujung telah diperankan.

Kuusahakan tetap sadar, sebab memang hanya kesadaran yang dapat membuatku tetap hidup. Untuk menceritakan kisah ini pada kalian.

Maapkan aku, jika kisah ini terbaca begitu terburu-buru. Aku hanya bergegas. Saat ini waktu tak seperti biasanya. Putaran jarum jam tak lagi genap dua puluh empat. Rotasi bulan telah kehilangan purnamanya. Revolusi bumi tak setia mengitari mentari, kini ia berada tepat di atas kepala. Siap membakar apapun yang dikangkanginya.

***

Gelap menggantung pada langit malam. Lampu-lampu jalan berpendar, membuat bayang-bayang samar pada dinding rumah yang sudah tak berpenghuni. Siulan angin menerbangkan daun-daun kering yang terlepas dari rantingnya. Sesekali terdengar langkah kaki yang berat di tengah sunyi ini. kemudian suara itu menghilang di ujung jalan entah dimana.

Sebagian warga kota ini telah pergi menyelamatkan diri mereka, jauh berpencar kemana-mana. Sebagian lagi tetap bertahan dengan sembunyi. Di dalam bunker. Di atas rumah pohon. Pada ruang di atas langit-langit rumah mereka. Bahkan pada gorong-gorong mereka mencari selamat.

Sedang aku, Adalgisa. Seorang diri di dalam gedung tua ini. Ayahku sudah mati sejak tujuh tahun yang lalu. Adik perempuanku mati bunuh diri setelah gila diperkosa oleh serdadu yang menyerang kota sejak 10 tahun yang lalu. Kakak lelaki-ku juga mati di hadapan moncong senjata serdadu musuh itu. yang tersisa hanya ibu. Dan ibuku, baru saja keluar saat cahaya di langit barat mulai tenggelam ditelan oleh gelap. Hanya ibu harapanku untuk tetap hidup, yang tersisa untukku selain ketakutan dan kegelapan yang sunyi senyap ini.

 

“Adalgisa, tetaplah di dalam. Jangan keluar apapun yang terjadi. Sekalipun matahari kembali terbit dalam lima jam lagi, dari empat penjuru mata angin.”

Begitu Pesan ibuku sebelum ia hilang di balik semak-semak belakang gedung. Aku mencium cemas yang menyelimuti ucapannya. Cemas yang menyengat. Seolah peringatan dan ancaman, sekaligus petuah dan warisan kata terakhir. Khawatir pun sembunyi diam-diam di dalam hati.

Gedung tua ini adalah rumahku. Satu-satunya rumah masa lampau yang dapat dipertahankan. Rumah bercorak khas Renaissans. Tembok-tembok setebal tigapuluh senti, dipenuhi ukiran bergaya para seniman realis. Pagar tinggi menjulang. Dua buah menara setinggi tiga meter tersemat di kedua pojok gedung utamanya.

Di gedung dan senyap malam inilah kutuliskan takdirku. Sebab ketakutanku pada hari yang telah lalu. Hari dimana peristiwa mengenaskan benar-benar telah terjadi. Aku lihat manusia saling makan sesamanya. Saling tumpas hanya untuk memperebutkan sepotong roti keras yang sudah basi.

Di depan mataku seorang bocah ditendangi kemaluannya oleh seorang kakek. Dan bocah itu balas menggigiti pahanya. Padahal apa yang mereka perebutkan tak lebih hanya sejumput keju kering, yang itupun sudah sobek dipreteli anjing. Mayat-mayat kelaparan yang tubuhnya hanya tinggal kulit berselimutkan daging bergelimpangan hampir sepanjang hari. Hanya para serdadu yang membereskannya, jika sudah muncul bau menyengat.

Selamat datang di neraka sebelum neraka. Selamat datang di dunia penuh gunjang-ganjing penuh airmata.

Manusia yang tersisa hanya keluar dari persembunyiannya saat perut benar-benar telah meronta. Mengorek-ngorek tong sampah, mengais sedikit makanan bekas para serdadu. Atau bergumul dengan tanah di belakang semak-semak. Mencari tumbuh-tumbuhan dan serangga yang bisa dimakan. Oh, terpaksa dimakan.

Segala ingin telah punah pada era ini, yang tersisanya hanya harap untuk melihat nyawa masih di kelopak mata, pada detik itu juga. Tak ada lagi cita tentang hidup sejahtera dan damai. Haiiihhh? Damai? Hewan apa itu? benar telah terhapus dari kamus kehidupan kami. Kini semua telah jadi jahanam. Hampir tak bersisa kata-kata indah. Musnah. Punah dimakan cacing-cacing waktu.

Di kota ini. Sepanjang hari. Para serdadu berkeliling memanggul senjata. Entah berpeluru atau tidak. Menakut-nakuti para ibu yang kebetulan membawa segenggam gandum, untuk kemudian merampasnya. Pagi. Siang. Sore. Dan malam. Para serdadu ini bersandiwara, memainkan peran lama mereka. Berpura-pura melindungi warganya. Tapi saat musuh datang menyerang, dia lari tunggang-langgang. Seperti anjing lapar, menggonggong, kemudian lari terkaing-kaing sebab dilempari batu-bata.

Ah, tapi tau apa serdadu-serdadu itu. Apalagi aku. Mereka hanya babu yang diperbudak oleh badut-badut teater di pusat kota sana. Badut yang telah menyebabkan semua hal ini terjadi. Ah, kawan, tampak terlalu kasar perkataanku malam ini untuk seukuran gadis remaja berusia Sembilan belas tahun. Tapi inilah kekhawatiranku. Aku tau ini adalah masa depan yang dibawa oleh masa lalu kalian. Ya, masa lalu kalian dan aku.

Kini, gelap telah menjuntai di ujung ufuk. Ibuku belum juga pulang. Kemana nasib menyembunyikannya.

Eh, Sebentar kawan. Aku mendengar suara percikan. Bukan. Bukan percikan air tanda kehidupan. Aku mendengar suara berbeda dari itu. Itu suara percikan api.

Benarlah kata ibuku. Aku tak boleh keluar sama sekali malam ini.

Sebentar kawan. Kumatikan sejenak lentera ini.

images (15)

***

Mari kulanjutkan. Kali ini benar-benar harus kuselesaikan. Sebelum aku pun dimangsa oleh waktu.

Limabelas menit tadi. Sesaat kumatikan lentera yang menerangi satu ruangan saja di dalam gedung ini. Sepercik api menyumbul dari arah barat rumahku. Percikan makin membesar. Terlihat sangat jelas dari dalam gelap. Di era ini tiap rumah tak ada lagi yang dialiri listrik. Hanya gulita dipeluk lentera. Satu-satunya yang dialiri listrik hanya rumah para badut dan lampu-lampu jalanan. Tapi malam ini. Tiba-tiba Seluruh kota hitam dihiasi titik-titik jingga. Diiringi dentuman-dentuman yang berbisik ke telingaku. Jeritan dan raungan memenuhi langit. Getir. Sunyi tersayat. Kenapa terdengar selalu memilukan?

Suasana apa ini? belum pernah sekalipun kulihat dalam hidup.

Ribuan janji terserak di jalanan. Ibu, kau dimana?

Dari balik jendela buram, kulihat para serdadu berlari berbalik arah. Seperti takut akan sesuatu. Tapi aku tak melihat apa-apa di belakang mereka. Hanya hitam. Itu, ah, aku melihat sosok itu, tergeletak di pinggir jalan. Ibu!

“Adalgisa, tetaplah di dalam. Jangan keluar apapun yang terjadi. Sekalipun matahari kembali terbit dalam lima jam lagi, dari empat penjuru mata angin.”

Sayang, ibu. Kata-katamu memang kuat menancap, tapi telah kalah oleh rasaku sebagai anak.

Aku menyelinap diam-diam di balik gelap. Keluar gedung melewati pintu belakang. Merunduk. Sebab desingan peluru melayang-layang di atas kepalaku. Semakin lama semakin banyak rentetan serangan yang datang. Kini aku tak lagi merunduk. Sudah merayap. Bajuku penuh akan tanah. Penuh akan darah yang berserak. Aku merayap dari ujung pagar rumahku ke ujung pagar yang lainnya. Hingga sampai di ujung jalan. Jalan tempat ibuku tergeletak. Terbaring tak bernyawa sudah.

Dengan derai airmata yang tak mengalir lagi, kuseret ibu bersama sisa-sisa harapan. Masih saja harapan. Kuseret dengan penuh kehatian. Desingan peluru bisa saja mengenai ibu atau aku. Ah, tapi untuk apalagi ketakutan ini!!? Ibu memang sudah kembali. Aku? Apalagi yang bisa diharapkan? Kematian sudah di urat nadi. Mati sekalian di jalanan pun sudah tak lagi ada arti.

Tapi, tetap saja berhasil kubawa ibu kembali ke dalam gedung. Harapku untuk mati sekalian pun tak lagi dikabulkan.

Kulihat dunia bergoyang, berputar tak tentu arah. Bahkan hingga saat ini. Seluruh air berhenti mengalir. Api-api kalah terang oleh sesuatu yang baru saja muncul. Tanah tempatku berpijak bergetar. Dan besi-besi mulai leleh oleh waktu.

Sebelum aku kembali pada kertas ini, telah kulihat pasukan-pasukan dari balik hitam itu, dari segala penjuru mereka datang. Aku tak tahu kemana lari orang-orang kota ini. Tetiba mereka lenyap. Bahkan para badut pun tak tampak lobang hidungnya. Entah lari kemana.

Atap dan tembok rumahku mulai retak dan serpihannya kini jatuh menimpa kepalaku. Tapi sudah tak ada waktu untuk lari dan sembunyi. Aku tau, ini satu-satunya waktu yang kupunya. Sekarang atau tidak sama sekali. Sedikit demi sedikit kesadaranku mulai hilang. Aa a..aakuu.. terombang. Sadarlah Adalgisa!!

Kini darah menjadi tintaku.

Aku tulis peringatan ini untuk kalian manusia dari masa lalu. Aku adalah Adalgisa. Gadis pemberi kabar dari masa depan. Aku tak tau apa yang sudah kalian perbuat pada masa lampau. Tapi sekarang. Aku sudah jadi tumbal.

Aku kabarkan pada kalian. Bahwa di masaku seluruh bangsa telah runtuh dan bangkrut karena kebodohan mereka sendiri.
Kuharap kalian menemukan surat ini, jika kalian sudah sampai pada era-ku, meningggalkan masa lalu kalian. Kuselipkan surat ini di bawah tubuhku. Di dalam katong kecil di pakaianku. Jika aku mati tertelungkup, telentangkanlah. Dan temukan surat ini. Aku telah datang pada kalian sebelum sebelas ribu bulan dari hari ini, demi sebuah kabar. Berjanjilah padaku dengan kesetiaan yang mulia. Di era yang cinta dan kasih telah musnah punah. Sungguh. Bersama kemusnahan.

“Matahari telah terbit dari empat penjuru mata angin.”

10156573307ccf17563be1719a17bb6e

Jogja, 1:31 AM // 10 Juli 2015

 

 

Advertisements