back-to-bed_sc_1

“AKU belum gila! Kalian yang sudah gila! Jangan menggangguku. Biarkan aku dengan surat-surat ini!”

Kedua orangtuanya tak tahu lagi harus berbuat apa. Anak lelaki ini, Marylin. Berkelakuan aneh sejak tiga bulan yang lalu. Semenjak tak ada lagi surat-surat yang masuk ke dalam kotak pos di depan rumah mereka. Sejak Krincing sepeda Pak Pos tak lagi terdengar setiap sore. Saat tak ada lagi kertas-kertas yang dapat ia baca. Semenjak itu pula Marylin berbuat hal yang di luar kebiasaan. Semacam gila memang.

Anna, kawan pena Marylin. Sudah tiga bulan tak lagi mengirimkan surat. Hal ini yang membuat bocah lelaki itu tenggelam dalam kegelisahan yang sunyi. Tak ada lagi suara yang muncul dari kertas. Tak ada lagi tempat ia berpidato tentang harinya. Alunan kata yang terlalu kata itu telah meninggalkannya seorang diri. Hari-hari Marylin, yang selama dua tahun belakangan selalu ditemani goresan tinta Anna, telah lenyap dimakan rayap kebisuan. Anna hilang tanpa ucapan selamat tinggal. Tak sepatah kata pun.

“Mungkinkah Anna bosan padaku? Atau Anna sedang sibuk? Atau Anna pindah rumah sehingga surat-suratku tak pernah sampai, kemudian ia marah padaku? Atau Anna benci padaku? Tapi kenapa? Atau jangan-jangan dia? Anna??! Ahhhhhhh!!! Tidak! Anna tak mungkin mati!!”

Pertanyaan-pertanyaan macam itulah yang sepanjang hari berkeliaran dalam kepala lelaki berusia enambelas tahun itu.

Marylin kehilangan rasa sebagai manusia. Kesendiriannya semakin menjadi-jadi. Bagaimana tidak? Dia tak punya sababat lain di dunia ini, selain Anna. Anna, yang entah siapa, bahkan iapun tak pernah tahu. Tak pernah bertemu. Hanya kata-kata yang terlukis di atas kertas-kertas berwarna hijau toska itu saja yang menjadi lambang wajah Anna dalam benaknya. Garis huruf yang terbentang di kertas itulah yang menjadi sahabatnya berbicara dari hati ke hati selama ini.

Hampir tiap malam Marylin terkubur bersama surat-surat yang dikirim oleh seorang yang mengaku bernama Anna itu. Surat-surat yang dikirim dari sebuah tempat yang bernama Waverly Hills. Sebuah tempat yang Marylin pun tak pernah tahu di mana letaknya. Tempat dimana harapan absurd-nya berlabuh. Tapi itu tak penting bagi Marylin. Marylin hanya butuh kata-kata yang dituliskan oleh Anna, kata-kata yang mengerti dirinya. Kata-kata yang memiliki tenaga magis. Sangat kelam, seolah menyampaikan kesedihan mendalam.

Jangan sedih Marylin

Peri-peri akan menusukkan satu jarum pada dadaku

Atas setiap tetes air matamu yang jatuh

Kesunyian adalah keluarga kita

Derita adalah hiburan bagi jiwa

Marylinku sayang, duniaku sesak

Tapi aku tak pernah kecewa

Karena aku tahu di balik kesesakan ini ada nafas yang lapang

Nafas yang panjang

Di balik kesepian ini ada keriuhan yang ramai

Tenanglah sayang, damailah

Begitu isi surat yang pada satu malam dibaca kembali oleh Marylin. Entah untuk yang ke berapa kalinya. Hingga lusuh kertas itu, dikeluar-masukkan dari amplopnya. Dibolak-balik, diciuminya dengan bumbu harapan.

***

time-461281_640

Marylin benar-benar sudah sampai pada puncak kesunyian. Bermula pada suatu malam, setelah surat-surat tak lagi datang. Anak yang beranjak dewasa ini sibuk dengan kegiatan barunya. Sepanjang malam ia tak tidur untuk menulis dan membaca kembali kata-kata. Bukan. Ia tak menulis untuk Anna, dan ia bukan pula membaca kembali surat-surat dari Anna.

Tapi, Mulai tengah malam ia akan menulis untaian demi untaian di atas selembar kertas berwarna hijau toska. Menari. Berdansa. Bernostalgia. Dialog ribuan arah di kepalanya mengawang di langit-langit kamar. Hingga tercipta sebuah puisi pada kertas hijau toska. Sandiwara tepatnya.

Dan keesokan pagi, Marylin akan berangkat ke kantor pos terdekat dari rumahnya. Dan ia tuliskan sebuah alamat, 1118 Flat Rock Rd, Louisville KY, 40245. Alamat siapa itu? Anna-kah? Atau alamat kawan pena barunya? Bukan, sayang. Ternyata bukan. Itu adalah alamat rumahnya sendiri. Ya, alamat rumahnya sendiri, ia mengirim surat untuk dirinya sendiri. Kepada dirinya sendiri surat itu tertuju.

Sore harinya, Marylin akan menanti Pak Pos datang mengantarkan surat yang ia kirimkan pagi hari tadi. Ia menanti, dan selalu menanti. Seolah menunggu surat-surat dari Anna. Menanti dengan keyakinan akan kesetiaan yang tak dibuat-buat. Seolah ia tak kenal akan adanya pengkhianatan.

“Kriing!” akhirnya suara krincing sepeda pak pos merambat ke telinganya.

Dengan riang hati, Marylin meloncat dari tempat tidurnya di lantai atas. Terburu-buru menuruni anak tangga yang curam. Ia ambil sepucuk surat dari tangan Pak Pos yang masih berdiri di pagar depan rumahnya. Kemudian, Marylin melompat-lompat girang. Persis seperti saat ia masih menerima surat-surat dari Anna. Kawannya tercinta. Ahh, lagi-lagi Anna.

Saat matahari mulai jatuh di langit barat, Marylin akan tenggelam dalam surat-surat yang ia buat sendiri. Menuliskan dan membacanya kembali. Dan begitulah sepanjang hari apa yang ia lakukan. Terkubur dalam kegilaannya seorang diri.

Semakin hari, Marylin semakin tak mengenal lagi siapa dia sebenarnya. Ia terlampau bahagia dengan kertas-kertas dan kata yang ia ciptakan. Ia menjadi Marylin, dan Anna sekaligus. Ia mulai menjadi sutradara dalam sandiwaranya yang mewah, megah. Ia tak lagi ingin berangkat sekolah selayaknya anak seusianya. Bertambahlah senyap dalam hidup. Tapi itu adalah riuh bagi Marylin.

Kedua orangtuanya yang melihat tingkah laku aneh itu mulai merasa harus berbuat sesuatu. Mereka akhirnya mengajak Marylin untuk pergi ke Psikiater. Mereka mulai khawatir pada anak semata wayangnya. Tapi selalu. Ya, selalu saja Ia tolak dengan meronta.

“Aku belum gila!! Kalian yang sudah gila! Jangan menggangguku. Biarkan aku dengan surat-surat ini!”

Semakin jauh sudah. Marylin tenggelam dalam tenggelam. Ia telah mati sebelum mati.

Tapi hari itu datang lagi. Hari yang menjadikan jiwanya bukan hanya mati. Tapi, lebih dari itu. Ayahnya datang membawa sebuah Surat Kabar lawas. Disana terpampang satu tajuk berita. Sebuah tulisan yang menyebutkan bahwa Waverly Hills, alamat yang dipakai Anna untuk mengirim surat-suratnya selama ini adalah sebuah rumah sakit jiwa yang sudah tak lagi berpenghuni jauh berpuluh tahun yang lalu. Itu artinya. Anna. Kawan pena Marylin selama ini, yang menemaninya selama dua tahun belakangan itu tak pernah ada. Tak pernah ada. Anna tak pernah ada Marylin sayang.

Mulai saat itu juga, ia telah mati didalam mati. Hatinya remuk redam. Tak ada lagi surat. Tak ada lagi sandiwara.

Kenapa kesetiaan tak pernah lepas dari pengkhianatan, pikirnya. Keyakinan akan kesetiaan kenapa harus selalu berdampingan dengan pengkhianatan semacam ini. Kenapa harus ada kebohongan, jika kejujuran sudah sanggup membuat kita hidup?

“Anna sudah mengkhianati aku.” Gumam Marylin dalam hatinya di tengah malam yang sejuk, di tengah malam gelap yang dipermainkan bintang.

***

Suatu hari. Pagi-pagi sekali. Suara krincing sepeda Pak Pos berteriak di bawah sana. Dari halaman depan rumah marylin. Rumah bernomor 1118 itu. Tegaklah telinga Marylin. Awalnya ia ragu. Ingin tak peduli. Tak mungkin Anna, batinnya. Tapi rasa penasaran muncul juga. Sulit memang hilang. Barangkali hanya surat dari kawan-kawan sekolah. Anak lelaki itu bergegas turun tangga, segera merogoh kotak pos yang bertengger di depan pagar rumahnya.

Hanya sebuah amplop berwarna hijau toska yang ia temukan. Dari Waverly Hills. Jantungnya sejenak berhenti memompa darah. Ia hafal benar dengan tulisan itu. Garis yang membentuk huruf itu, ia tahu siapa yang menulisnya.

Dear, marylin

Aku baik-baik saja.

Kau jangan khawatir, aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Aku ingin memberitahukan padamu bahwa aku telah mati. Aku telah mati bersama dengan jiwa lamamu yang juga sudah mati. Aku tidak benci padamu, aku hanya kecewa pada sikapmu, yang sudah menjadikan aku tempat pelarian atas kesunyianmu. Aku adalah sunyi, dan bukan kesunyianmu temanku. Aku minta maaf. Mulai sekarang carilah keriuhan. Jadilah manusia sebagaimana adanya.

Semoga kau mengerti Marylin. Aku selalu menyayangimu. Ini adalah surat terakhirku, untukmu.

Anna.

 

Jogja, 1 Februari 2015 // 11:01 PM

Advertisements