The imaginarium- Born in mind

Aku lebih memilih desa dengan keluasan sawahnya. Aku lebih cinta pada bukit-bukit hijau yang terbentang menatap langit. Pada ontel dengan segala kelambanannya menyusuri setapak jalanan desa. Pada langit kampung yang dipermainkan bintang, di mana aku bisa menikmati diri sebagai manusia seutuhnya.

Dan aku mulai membenci kota dengan segala riuh aspalnya. Aku benci Pada gedung-gedung mengkilat yang berkilau sombong. Pada langit megah yang dipenuhi cahaya kemapanan, di mana para manusia kehilangan rasa sebagai manusia yang memanusiakan dirinya.

***

Seringai wajah ibu terbayang. Entah kenapa rindu itu tiba-tiba menancapkan durinya begitu dalam secara seketika. Wajah yang telah melahirkan aku ke dunia, wajah itu mengawang dalam ruang yang tak dapat kugapai. Mungkinkah ini, yang mereka bilang rindu karena jarak dan waktu? Tapi bukan itu. Bukan waktu dan jarak yang menimbulkannya, aku tahu benar itu. Aku sedang merasakan hal yang lain. Hal yang tidak dapat aku jelaskan dengan benar. Bukan tidak, mungkin hanya belum dapat aku gambarkan saja.

Kota ini benar-benar kejam seperti apa yang dikatakan orang-orang padaku. Saat aku masih kecil dulu. Kota yang sangat banyak dikunjungi oleh orang sekelilingku. Kota yang memberi segala janji. Kota yang dapat mengabulkan cita-cita. Setidaknya begitu yang aku dengar. Dulu.

Kini aku sudah menginjaknya dengan pasti. Kota besar ini. Jakarta, sebut saja begitu namanya. Kota tempat banyak tubuh manusia menggantungkan diri mereka. Dan juga tempat, yang manusia banyak menggadaikan jiwa mereka demi kemapanan. Sebuah kata yang belum dapat aku pecahkan hingga kini. Bahkan terkadang aku takut untuk membayangkannya. Bukannya karena aku tak bisa. Aku hanya khawatir. Aku khawatir setelah melihat bagaimana manusia-manusia yang menuju kemapanan harta dan tahta di kota ini, bagaimana mereka menjadi beringas mengejarnya dan tambah beringas saat sudah mencapainya.

“Nak, jika kau sudah di sana nanti, ingat kata emak, jangan kau tinggalkan Kepercayaanmu. Dan jagalah moralmu sebagai manusia yang memanusiakan.”

Emakku bukan seorang lulusan sarjana atau master sebuah Perguruan Tinggi bidang Filsafat. Ia hanya wanita tua mulia yang lahir saat Negeri ini masih cabang bayi yang imut. Dan beliau hanya sempat merasakan nikmatnya bangku pendidikan selama 12 tahun, cukup mapan memang sebenarnya. Tapi bukan tingginya pendidikan formal yang menjadikan kata-kata beliau begitu bijaksana. Tapi lebih dari itu. Ya, akupun tak tahu darimana. Mungkin ceritaku nantinya yang akan menjawab darimana kebijaksanaan kata-kata itu muncul.

***

Ini adalah saat jenuh benar-benar sudah mendekap aku begitu erat. Aku bosan dengan pencarian di kota besar ini. Bahkan aku sudah sampai taraf muak pada manusia-manusianya. Tetiba saja, sewaktu-waktu aku menemukan kebenaran dalam setiap kata-kata emak, lima tahun yang lalu.

“Nak, jika kau sudah di sana nanti, ingat kata emak, jangan kau tinggalkan Kepercayaanmu. Dan jagalah moralmu sebagai manusia yang memanusiakan.”

Hal itu malah terjadi padaku. Bagaimana tidak. Kini aku hampir meninggalkan kepercayaanku. Aku bahkan sudah kehilangan moral sebagai manusia yang memanusiakan. Aku sudah tak lagi manusiawi.

Dulu, aku sangat senang bermain di sawah, begelimang dengan lumpur. Aku menikmati setiap waktu yang aku habiskan untuk bercocok tanam. Menggarap tanah, mengairi sawah yang kering. Menunggu dengan sabar tiap padi yang kutanam tumbuh dengan perlahan menjadi kekuningan. Saling menyapa antara petani. Dan berbagi lauk saat lelah, di siang hari, untuk makan bersama. Bercanda, bersenda gurau. Dan akhirnya dengan waktu pula aku mendapat kebahagian memanen padi yang menawan.

Tapi kini. Aku sibuk bergelut dengan aspal. Jalanan adalah tempat memacu waktu. Tak ada keramahan. Suara klakson yang bergema di mana-mana. Tak menyapa, aku tak kenal mereka, dan mereka pun takkan pernah mengenal aku. Kami berpacu dengan dunia masing-masing. Aku adalah aku, dan kau adalah kau. Aspal yang tak mengenal saling berbagi. Malah berebut siapa dulu yang sampai tujuan. Tak mengindahkan lagi aturan lalu lintas. Saling memarahi saat yang lain berjalan sangat lambat. Sungguh aku benci itu.

Dulu, aku sangat senang bermain pada bukit-bukit yang ditumbuhi ilalang. Bermain dengan lembutnya angin yang membelai hangat, menatap rumah-rumah yang terlihat dari puncak bukit. Tapi kini, aku sibuk di dalam gedung-gedung peninju langit. Bersembunyi di balik sejuknya pendingin ruangan. Merasa hebat, mapan dan seolah sudah sampai setinggi langit. Dan kesombongan itu aku bawa ke jalan-jalan kota, hingga terbawa ke mana-mana, bahkan hingga ke desa-desa.

Dulu, aku ditemani oleh langit desa yang bermain dengan bintang. Aku dapat menyatu dengan mereka. Merasa rendah di bawah lindungannya. Langit bersih yang tak terkotori oleh lampu-lampu penuh aroma kemaksiatan. Langit yang saat itu aku sadari sebagai sebuah kebesaran dari Tuhanku Yang Maha Kuasa.

Tapi kini. Langit-langit tempat kubernaung terkotori oleh lampu gemerlap dunia malam. Aku habiskan berteguk-teguk minuman pahit yang memabukkan di soroti oleh langit yang berkelap-kelip. Aku terayu oleh indah langit perkotaan yang membuat aku tak lagi manusiawi. Manusiawi dalam artian manusia yang sadar bahwa dunia bukan hanya tentang kesenangan duniawi.

Kini, aku sadar apa arti ucapan emak. “Nak, jika kau sudah di sana nanti, ingat kata emak, jangan kau tinggalkan Kepercayaanmu. Dan jagalah moralmu sebagai manusia yang memanusiakan.”

Manusia kota, sudah berubah menjadi makhluk yang sangat mengerikan. Segala hal menjadi sangat cepat. Pembicaraan tak lagi membutuhkan tatap muka. Dan akhirnya membatalkan janji hampir menjadi biasa. Perjalanan tak lagi membutuhkan waktu berhari-hari. Hingga semua bisa meninggalkan amanah kapan saja, pergi jauh saat masalah melanda. Semua menjadi serba instan. Saat gundah, kau tak perlu lagi berjalan ke masjid dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk berzikir meminta ketenangan jiwa.  Hanya butuh seteguk air kenikmatan beserta pernak-perniknya untuk menghapus segala keresahan.

Tapi segala yang cepat didapat, juga secara cepat dapat menghilang. Keresahan cepat berlalu, dan akan kembali tanpa butuh waktu yang lama. Dan aku terjebak dalam lingkaran setan yang selalu itu-itu saja. Hingga aku kehilangan pegangan, dan kehilangan rasaku sebagai manusia yang manusiawi. Aku seolah menjadi robot tanpa perasaan. Yang semangatnya diisi oleh energi harta dan tahta. Dan saat jatuh, hanya harta dan tahta yang dapat membuat aku segera dapat berdiri kembali. Sungguh, itulah motivasi terhina yang aku rasa.

Aku melihat kota ini berjalan dan berlari terlalu terburu-buru. Seolah mereka takut tertinggal dari yang lain dalam mencari harta duniawi. Seakan mereka akan tertinggal takdir, yang membawa mereka pada kemapanan semu, yang hanya memberikan janji kesenangan sesaat.

Kota ini, kota yang terlalu terburu-buru mengejar waktu. Seakan tak cukup waktu untuk mereka hidup mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. Hingga, tak adalagi tersisa waktu untuk saling menyapa. Beramah-tamah di bawah langit gemintang. Penuh kasih pada alam yang berkembang. Dan jalanan bukan tempat saling menyapa, hanya jalur cepat mereka mengejar harta. Pergi pulang hanya demi sebungkus kesenangan dunia.

Sungguh, Emak. Kota ini berjalan terlalu terburu-buru. Tak seperti di desa. Tak seperti saat aku kecil dulu di dalam pelukan hangat masyarakat nusantara yang ramah.

Kini, kota ini semacam ingin menerkamku dalam kecepatannya, membunuh rasaku sebagai manusia yang memanusiakan manusia.

Kini aku rindu padamu Emak. Bukan karena jarak dan waktu. Tapi aku rindu pada kata-katamu yang terukir dalam. Oleh kebenaran kata-katamu. Juga rindu pada tenangnya suasana dan takdir pedesaan yang tak terburu-buru.

 

Vier AL

Jakarta, 7 februari 2015 // 01:28 AM

Inspirasi lahir darimana pun, bahkan dari jalanan yang menggelikan ini

Advertisements