Abstration, mystery and surrealism painting 7

Jalanan masih lengang ketika aku menyusuri bagian kecil Kota Yogyakarta pagi ini. Aku sengaja bangun begitu pagi, selain untuk menghindari macet,  usai solat subuh, sekitar pukul setengah enam ini aku ada janji untuk menjemput seorang teman. Teman lama, sudah hampir 11 tahun aku tak berjumpa dengannya. Dulu kami berada di bawah atap yang sama, lima tahun lamanya, tapi kini, setelah lulus bersamaan dari sebuah Perguruan Tinggi ternama di Kota ini, ia pergi pulang ke kampung halaman, jauh di ujung pulau Sumatera. Kota Serambi Makkah, Aceh, ke sana ia kembali pulang. Sedangkan aku telah jatuh pada rindu yang dalam, dalam ketenanganku pada kota berhati nyaman ini, Yogyakarta.

Dari kontrakanku yang berada di sekitaran Jalan Kaliurang kilometer enam; beberapa kilometer jaraknya dari kampus utama Universitas Gajah Mada, aku mengayuh sepeda sejauh lima sampai enam kilometer untuk sampai ke Stasiun Tugu. Untung pula jalanan belum lagi padat. Yogya kini tak sama dengan Yogya saat pertama aku datang. Limabelas tahun yang lalu jalanan tak berjubel kendaraan seperti saat ini.

***

Stasiun Tugu Jogjakarta. Kereta pertama dari Jakarta sudah sampai sejak pukul lima pagi tadi. Sekarang sudah pukul setengah enam. Aku masuk lewat gerbang timur. Sudah banyak manusia yang ada di sana. Para wanita dengan bayi tergendong di dadanya. Para  lelaki menggandeng dan memanggul tiga sampai empat tas sekaligus di badannya yang tampak semakin menua dalam balutan pakaian lusuh berwarna oren. Penjaja Koran memanggil-manggil menawarkan kertas-kertas mereka. Pengecer makanan ringan, rokok dan minuman mondar-mandir membawa dagangan mereka. Stasiun ini sudah begitu ramai di hari sebuta ini.

Sinar suci sudah mengintip malu-malu dari sudut timur bumi, tapi kawanku belum lagi terlihat batang hidungnya. Saat akan mengetikkan sebuah pesan singkat padanya, aku lihat seorang yang baru saja keluar dari toilet. Mengenakan jaket jeans abu-abu yang tampak lusuh, seperti belum pernah dicuci sejak barang itu pertama kali dibelinya. Rambut pria itu panjang diikatnya mengepang. Kacamata di atas hidungnya mengkilat terkena cahaya lampu stasiun yang masih menyala. Ya itu dia.

“Rayah!!!”

Teriakkanku menyelinap di antara kuping-kuping. Dalam sepersekian detik suaraku masuk ke dalam telinga pria itu, seketika itu pula ia berpaling menatap ke arahku.

“Hey, Umara!!”

Kami saling berjalan cepat, seperti saling mengejar, sudah semacam dalam film-film India. Berjabat tangan dan berpelukan. Hampir saja kuciumi pipinya, tapi untung aku urungkan. Tetiba rasa jijik menyelinap dalam otakku. Akhirnya aku pilih untuk membawakan beberapa barang bawaannya saja.

“Lelah?”

“Sudah jelas.” Ia jawab sambil mengambil sebuah kotak kecil dari dalam saku celananya. Aku kira ia ingin memberikanku cincin.

“Masih merokok?” Tanpa menjawab atau mengangguk aku ambil sebatang rokok dari kotak kecil miliknya.

“Langsung pulang ke kontrakanku? Sepeda sudah menunggu di parkiran.”

“Santai dululah, kita bercengkrama sebentar di sini. Kau lihat itu rel, begitu indah dia. Lihat juga itu pohon kersen, bunga mawar dan melati, kita nikmati dulu sambil minum kopi, bagaimana?”

Rayah menuju sebuah kursi panjang di salah satu sudut stasiun. Sedang aku menuju kantin stasiun membelikan dua cangkir kopi hangat untuk menemani pagi kami. Pagi yang sudah sebelas tahun lamanya kami menunggu ia datang.

Suara pengumuman berkumandang di setiap sudut stasiun. Memberi peringatan dan berita pada para calon penumpang dan sebenar penumpang. Pagi begitu sejuk. Embun masih memeluk daun-daun yang membuatnya terbalut basah. Tak ada angin. Hanya ada hawa sejuk yang membelai lembut.

“Yogya tak berubah.” Rayah berseru saat aku datang membawakan dua cangkir kopi ke tempat duduk panjang di sudut timur Stasiun Tugu itu.

“Ya begitulah. Masih dengan keramahan dan keklasikannya.” Hening sebentar.

“Angin apa pula yang membawamu kembali?”

“Kau tak senang aku datang?” Tanya rayah sambil menyeruput kopi hitam pekatnya.

“Bukan begitu hay kawan. Aku hanya penasaran saja, tiba-tiba kau beri aku kabar mau ke sini. Eh, malah benar-benar datang. Aku kira kau hanya bercanda.”

“Aku rindu ketenangan dan hawa seni kota ini, Mar.” Ia diam beberapa jenak. “Haa, kau lihat itu, bangau yang terbang ke utara, berombongan, membentuk huruf V. kau tahu apa alasannya?”

“Setahuku itu agar penerbangan mereka berjalan baik. Formasi itu membuat mereka lebih baik saat terbang. Ujung formasi di titik V yang paling depan mengurangi gangguan angin untuk yang belakang, yang belakang lagi mengurangi angin yang di belakangnya pula dan begitu seterusnya sampai ke belakang cabang.”

“Dan saat yang di depan lelah, ia akan berganti dengan yang di belakang. Saat ada yang lelah tak dapat terbang lagi, ia tak akan berhenti sendirian, akan ada seekor dua ekor yang menemani ia istirahat. Kemudian kembali terbang mengejar rombongan.” Tambah Rayah menjelaskan padaku dengan hembusan asap putih dari kerongkongannya.

“Lantas?” Tanyaku, sedikit heran, kenapa pula tiba-tiba ia membahas bangau.

“Indah bukan sebuah persahabatan? Aku rindu kau Umara. Bukankah dulu kita juga seperti itu, saling membantu. Saat aku lelah akan dunia, kau di depanku, membantu, menarik tanganku untuk kembali berdiri, bahkan dari belakang kau juga mendorong. Begitu pula sebaliknya yang aku lakukan padamu.”

Kami berdiam sejenak. Aku tak tahu harus mengeluarkan kata-kata apa sepagi ini. Sejenak kami tenggelam dalam bayang masa lalu. Meraba-raba sejarah hidup. Menggali-gali tanah kenangan. Tatapan kami bedua tertuju ke depan pada gerbong-gerbong kereta dan rel.

Entah apa, tetiba saja muncul suara dari depan sana. Beberapa suara yang tampak saling berbicara hangat.

“Kau lelah?” Tanya sebuah suara.

“Tapi tak selelah kau. Kau hampir setiap hari menarik kami yang berjumlah banyak ini.”

“Tapi kalian pun menampung begitu banyak manusia. Aku hanya perlu membawa Masinis dan anak buahnya yang tak seberapa di atasku.”

Hey, lihat itu. Aku dan Rayah saling tatap, dan kembali melihat dengan terheran-heran pada gerbong dan lokomotifnya yang saling berbicara. Kami lihat sekeliling. Tetiba saja sepi.

“Tak perihkah badanmu setiap hari harus beradu dengan rodaku?”

“Bagian-bagian tubuhku hanya dalam beberapa waktu saja terlintas oleh rodamu. Tak masalah. Justru rodamu yang begitu hebat tak lelah-lelahnya berputar sampai tujuan.”

Rel pun mulai mengeluarkan suaranya. Apalagi setelah ini?

“Apakah manusia-manusia itu tak lelah harus mengendalikan dan merawat kita?” Salah satu gerbong menyahut.

“Jangan kau hirau. Itu memang sudah tugas mereka. Mereka butuh uang. Mereka rawat dan kendalikan kita supaya mereka dapat penuhi perut. Aku tak percaya manusia. Kau tahu siapa pemilik kita? Pernah kau lihat dari semenjak ia membeli kita, apa pernah dia datang menjenguk kita? Tidak, dia hanya perlu kita mengantar orang-orang, dan orang-orang akan membayar untuk itu. itu. Itu yang dia mau.” Suara itu datang dari deretan paling belakang gerbong.

“Nanti kalau kita sudah tua. Berkarat. Tak mampu lagi berlari. Dibuanglah kita, masuk tempat rongsokan. Tak dipedulikan lagi. Barangkali hanya dikilo.”

“Tenanglah.” Kini suara dari lokomotif, memecah udara, “biarkan mereka dengan pikiran mereka. Lurus saja pada tugas kita. Ikhlaslah, toh kita tetap setia satu dan lainnya. Kita akan tetap mengantar orang dari satu tempat ke tempat yang lain. Asal kita tetap bersama melakukannya, aku sudah sangat senang. Semua memang punya waktunya, jika tiba waktu kita jadi rongsokan, kita jalani bersama, dan tetap bersama. Siapapun yang naik kita angkut dan antar. Tanpa niat palsu. Tanpa pandang bulu.”

Kemudian hening. Lama kami menunggu suara-suara, namun tak muncul lagi. Dan kemudian, herannya pula stasiun kembali ramai.

Aku dan Rayah saling tatap kembali.

“Begitulah yang aku rindukan. Kata-kata yang mirip dengan apa yang kita bicarakan dulu.” Rayah berkata lirih.

Tetiba saja daun-daun gugur. Pohon-pohon merontokkan segala yang ada di badannya dengan sangat cepat. Semua pohon dan tanaman di sekitar stasiun tugu itu menjadi botak. Waktu berjalan dengan cepat. Seperti dipercepat.

Tapi dengan cepat pula mereka bersemi kembali. Rayah menatapku lagi.

Daun-daun kembali tumbuh secara perlahan. Dari ujung rantingnya tumbuh tunas-tunas baru. Daun-daun melihatkan cikalnya. Dan mekar dengan bunga. Mawar dan melati pada pot di tepian lorong-lorong kembang dari kuncupnya.

Apa ini? Aku menoleh pada Rayah. Ah, tapi tak ada. Rayah? Kemana dia? Lenyap. Aku lempar pandang sejauh mata memandang.

Kini semua hilang. Tak ada seorang pun di Stasiun Tugu ini. Hanya ada sepi, hanya ada semi.

***

Aku terbangun. Ternyata hanya mimpi. Itu tadi hanya mimpi. Jam di dinding menunjuk angka lima. Aku bangun di angka yang tepat, sesuai inginku. Aku harus ke Stasiun Tugu. Aku cuci muka dan bersegera mengambil sepeda.

Jalanan masih lengang ketika aku menyusuri sebagian kecil Kota Yogyakarta pagi ini. Aku sengaja bangun begitu pagi, selain untuk menghindari macet, usai solat subuh, sekitar pukul setengah enam ini aku ada janji untuk menjemput seorang teman. Teman lama, sudah hampir 11 tahun aku tak berjumpa dengannya. Dulu kami berada di bawah atap yang sama, tapi kini, setelah kami lulus bersamaan dari sebuah Perguruan Tinggi ternama di Kota ini, ia pergi pulang ke kampung halaman, jauh di ujung pulau Sumatera. Kota Serambi Makkah, Aceh, ke sana ia kembali. Sedang aku telah jatuh pada rindu yang dalam, dalam ketenanganku pada kota berhati nyaman ini, Yogyakarta.

Tapi aku baru ingat. Kawanku Rayah sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu. Lantas siapa pula yang mengaku sebagai dia. Dan anehnya kenapa pula aku percaya begitu saja dan tak mengingat sama sekali bahwa ia sudah tak ada di dunia.

Ah, terlanjur sudah kukayuh sepeda. Kepalang tanggung aku susuri saja jalanan. Daun-daun berembun pagi ini begitu indah. Bersemi, baru tumbuh sebagai tunas. Akupun teringat hal-hal dalam mimpiku tadi. Sudah lama aku tak merasakan persahabatan yang dalam, sejak kematian Rayah. Ingin rasanya aku kembali mencari kawan seorang manusia. Tak hanya tetumbuhan, kini hatiku pun seolah bersemi kembali. Kembali ingin memiliki sahabat sejati yang tahu tempat dan menempatkan sesuatu.

Di tengah kayuhan sepeda, aku lihat seorang Pria berjalan di antara taman-taman sekitaran Gedung Graha Universitas Gajah Mada. Jaket jeans abu-abu lusuh itu. Rambut panjang dikepang. Dan berkacamata pula. Wajah itu. Rayah!!!

Yogyakarta, 4 Januari 2015 // 23:35 PM

Advertisements