img_3807

“Wahai jiwa, larilah, ke ujung dunia pun akan kukejar kau!! Panah malamku akan menembus jantung sepimu. Sedalam-dalamnya!! Kenyataan telah musnah, kemarilah, kembali pada ayah mimpimu”

Aku terbangun dengan suara televisi masih menyala. Menampilkan gambar-gambar bercahaya menusuk mata di dalam gelapnya kamarku. Aku benar-benar tak menyangka kalau peristiwa tadi hanyalah sebuah mimpi. Kenapa bisa begitu nyatanya. Bahkan sesak di dada sampai sekarang masih aku rasakan. Keringat bersimbah dari keningku. Seolah memang baru saja diburu dan berlari kencang menjauh dari seorang lelaki bertubuh tinggi, hitam, dan wajahnya penuh bekas luka itu. Aku benar-benar merasakan lelahnya. Wajah lelaki itupun masih segar dalam ingatan.

Aku duduk sejenak, bangkit dari tidur, mencoba menemukan kembali nafasku yang sempat hilang. Aku segera menuju dapur, mencari secangkir air dingin. Aku pikir-pikir sekali lagi kejadian dalam mimpi tadi sambil tersandar di kursi. Saat aku meletakkan pantatku pada kursi kayu di dapur, aku merasakan nyeri, dan nyeri itu datangnya tepat dari tempat yang dipukul oleh lelaki berwajah seram di dalam mimpiku tadi.

“Dasar muka seram sialan! apa yang sudah dilakukannya padaku?!” Aku menggerutu dalam hati.

Keringat di jidatku mulai mengering. Dengan sedikit sempoyongan aku menuju kamar mandi. Membasuh wajah, berharap segala bayang itu pudar bersama sapuan air. Sebuah westafel terletak di bagian pojok kamar mandi, kaca berukuran besar menempel di dinding yang dingin. Kutatap wajah di seberang sana.

“Kurang ajaaaar!!!! Lebam dari mana lagi ini?!!” Kali ini suaraku benar-benar meloloskan dirinya dari kerongkongan.

Lebam keunguan memenuhi pipi dan jidatku. Kuraba perlahan selembut mungkin. Ahh, nyeri benar rasanya. Mimpi apa aku sebenarnya. Aku ingat-ingat lagi mulai dari terbangun tadi. Aku tak terjatuh dari tempat tidur, aku sadar betul, saat bangun aku masih di atas tempat tidur. Kuambil obat-obatan dari kotak yang terletak di atas kaca westafel. Kuoles sedikit balsem yang bisa mengobati memar. Aku benar-benar bingung. Mimpi sialan itu mengapa bisa senyata ini.

Setelah mengobati memar di sekujur tubuh, aku tak melanjutkan tidur, padahal kantuk dan lelah benar-benar telah berkumpul di pundakku. Sinar suci belum menampakkan wujudnya. Kelam masih memenuhi langit. Sunyi masih bernyanyi dengan harmoni yang tak terdengar oleh kuping-kuping yang bising.

Dawai harpa berdengung-dengung di dalam kepalaku. Siapa pula bermain alat musik sekeras ini di pagi buta. Tak di mimpi, tak di hidup nyata, banyak benar ragam manusia yang membuatku jengkel. Belum habis otakku berpikir tentang mimpi yang menghasilkan lebam di sekujur tubuh, sekarang suara dawai itu pula menambah-nambah kebingunganku.

Aku putuskan untuk keluar dari rumah, barangkali para hantu dan dedemit sedang menyerang, sedang ingin mengganggu manusia dalam kesendiriannya.

Aku berjalan mengitari taman-taman kota. Jalanan masih sepi, tak seorangpun aku lihat. Hanya ada angin yang kelabu. Hanya ada pepohonan yang saling bergandengan tangan mencipta suara gemeresak yang menggelitik kuping. Pandangku tak dapat menembus jauh ke depan, sebab gelap masih mengintai. Tapi inilah yang kuharap.

Tapi tetiba saja, sebuah suara manusia bergema di ujung sana, suara yang tak asing bagiku. Rasanya baru beberapa menit yang lalu aku mendengar dengan jelas suara itu. Tapi siapa?

“Hey kau!! Sudah menancapkah panahku pada jantungmu!? Racun itu akan segera menyebar. Dan lihatlah, sang maut sudah bergelayut pada pelupuk mata konyolmu itu!!. hahahaha!!!”

Suara itu bergema semakin mendekat, tapi tak ada seorangpun yang kulihat. Suara itu bergema ke seluruh penjuru, berputar-putar di atas kepalaku.

“Setan? Mungkinkah itu iblis dari alam mimpiku?” Aku bertanya ketakutan di dalam hati.

Aku tak menghentikan langkah, tetap dengan gontainya. Menyusuri awal pagi yang penuh dengan kabut embun.

“Lari!! Bangunlah!!”

Gelombang suara yang juga aku kenal bergema dari sudut yang berlainan. Aku kenal suara itu. Ya, aku kenal.

“Bangkitlah! Sadar kawan! Atau maut akan menjemput”

Itu suaraku sendiri, tapi siapa sosok yang meneriakkannya? Aku mulai merasakan hal yang janggal. Tetiba pula pantatku kembali terasa nyeri. Memar di wajahku berdenyut, aku mengelusnya. Benar saja, darah menetes dari memarku. Semakin lama semakin deras saja.  Dan kini, aku merasakan ada genangan air di kakiku.

“Ahhh!!”

Genangan air kental memenuhi jalanan, aku terendam dalam kubangan laguna semerah darah.

Dari ujung jalan aku melihat sesosok lelaki tinggi, dalam bayang-bayang itu dia berlari dengan kencang menuju ke arahku. Semakin dekat, aku ingin berlari, tapi kakiku tak dapat bergerak, genangan darah ini seperti semen yang mengeras, memaku langkahku.

Lelaki itu semakin jelas, tubuhnya kekar, hitam, dan wajah itu. Aku kenal wajah itu!! wajah yang penuh dengan bekas luka. Takutku benar-benar sudah sampai ambang kelimpungan. Tak tahu harus berbuat apa.

Pandanganku mulai kabur, sekelilingku memudar, pepohonan hanya terlihat semacam arsiran, belaian angin kelabu ini terasa semakin hangat. Lelaki itu terus berlari kemari. Tapi herannya ia seperti tak sampai-sampai.

“Traakk!”

***

Aku terbangun, kini tak di atas tempat tidurku. Aku berada di ujung jalan buntu. Aku berusaha untuk menggerakkan badan. Tapi tak kuasa. Sekujur tubuhku serasa tak bernyawa, tulang-tulangku seperti remuk.

Mimpi atau nyatakah?

Kupegang wajah. Dan, ahh!! Sakit.

Mimpi sialan apa lagi ini. Jantungku berdegup kencang. Tak, bukan, ini bukanlah mimpi, ini yang senyatanya. Sakit ini benar nyata. Tampaknya aku baru saja dirampok, dan dihajar habis-habisan.

Aku telentang memandang langit yang dipermainkan bintang. Kulihat para gagak terbang bergerombol seperti sedang mengintai bangkai. Dan di ujung lain gang buntu ini, aku lihat seekor anjing yang sedang menyalak, kemudian melolong seperti sedih meratap.

Kenapa hidup ini membawa sakit yang bertubi-tubi?

Dalam hitungan detik anjing itu berlari menuju tubuhku, dan burung-burung gagak itu terbang menikuk menghujam. Serentak mereka mencabik-cabik tubuhku. Aku senyap tanpa melawan. Jadi santapan binatang-binatang serakah pemakan sampah. Sakit luar biasa. Mimpi sialan apalagi ini.

“Traaak!!”

***

Aku terbangun, kini di atas sebuah kursi empuk. Alangkah indahnya. Nyaman bermula. Mungkin ini dimensi yang nyata.

Ahh, mimpi sialan apalagi ini.

Saat akan bangkit, baru aku sadari ternyata seutas rantai besar melilit tubuhku. Aku pejamkan mata, aku berusaha mencari kesadaran, aku muak dengan mimpi-mimpi ini. Tapi semua sakit yang kurasa begitu nyata. Aku tenggelam dalam hening.Tetiba dari rantai ini muncul tangan-tangan kekar yang mencekik leher, nafasku tercekat, nyawaku seperti sudah sampai kerongkongan. Mimpi apa yang bisa senyata ini?!!! Mimpi apa yang tak pernah usai macam ini?

“Tenanglah wahai jiwa. Dunia. Sakit. Mimpi. Kenyataan. Adalah sebuah rangkaian”

Suara itu, siapa lagi yang mencoba menasehatiku, bahkan dalam mimpi sialan yang menyakitkan ini.

Aku, aku, aku, lebih baik aku nikmati saja sudah ini semua. Tak tahu lagi mana mimpi dan mana kenyataan, semua terlalu nyata, sakit ini terlalu sering dan bermacam-macam. Lebih baik aku nikmati saja rangkaian ini. Mau mimpikah itu?!! Kenyataan?!! Semua sama saja! Aku tak mengerti akhir apa yang akan menungguku di ujung cerita ini nanti.

Entah mimpi itu nyata, atau barangkali, memang kenyataan ini sebenarnya semua hanya mimpi?

“Trakkk!!!”

Kini aku sedang mengapung di langit. Dengan ratusan alat musik yang terbang di sekelilingku. Memainkan lagu sakral, menyambut takdir yang mulai hilang.

Jogja, 27 Oktober 2014 // 11.26 Pm

Advertisements