dua1

“Ssstt, kau jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita berdua. Jika ada orang yang tahu, aku cari kau, tak ada yang lain.” Ucap lelaki pendek dan hitam itu pada teman di sebelahnya.

Lelaki itu adalah kotak hitam penyimpan mantra. Brankas tanpa kunci. Hanya ada dua lubang untuk memasukkan kata lewat tubuhnya. Dan tak ada jalan keluar untuk kembali bagi setiap kalimat rahasia yang masuk.

Tubuhnya tinggi. Rambutnya ikal dan gondrong sebahu. Wajah lelaki itu oval dengan hidung yang kecil mancung. Matanya sipit di balik kacamatanya yang bulat. Lelaki itu sedang berdiam dengan seorang temannya yang hitam pendek, di sebuah ruangan kelas.

“Baiklah, aku percaya padamu. Terimakasih sudah mendengar segala celotehku. Kau sudah makan?” Tanya lelaki hitam yang bernama oblong itu.

“Belum.” Hanya dibalasnya singkat.

“Ayo kita makan dulu kalau begitu. Bakso daging bagaimana?”

Lelaki itu hanya mengangguk tanda mengiyakan. Ia jarang sekali berbicara. Tapi herannya setiap orang yang dekat dengannya merasa sangat nyaman. Selain pintar menjaga rahasia, ia punya semacam energi, entah apa itu, yang begitu menarik orang lain untuk tetap di sisinya.

***

“Aku di tempatmu dulu, boleh ‘kan?” Pinta seorang lelaki dengan tato bergambar rantai di sekujur lengannya.

“Berapa lama?”

“Tak lama, cukup seminggu saja.”

“Baiklah, kau tidur di kamar belakang. Barang-barangmu letakkan saja di sana.”

“Jiwa, kau mau keluar?” Tanya lelaki dengan wajah kotak dan mata sayu itu.          “Iya, aku mau keluar sebentar, mengambil bahan tulisanku di perpus daerah.”

“Aku titip rokok satu bungkus, ya wa,” pesan lelaki bertato itu. “Oh, iya wa, kau jangan bilang siapa-siapa kalau aku kemari dan tinggal sementara di sini. Kalau teman-temanku atau siapa saja yang mencari, bilang saja tak tahu.”

Jiwa hanya mengangguk dan pergi.

***

“Wa, aku ingin bertemu. Kau lagi di mana?” Suara dari telpon genggamnya tampak sangat gugup.

“Aku sedang di taman belakang gedung fakultas. Kemarilah.” Jawab Jiwa pada suara di seberang sana.

“Tunggu aku.” Pinta suara wanita itu.

Di bawah hembusan daun-daun pohon ketapang, mereka bercengkrama dengan malam. Jiwa sedang melacurkan bibirnya pada secangkir kopi hitam pekat. Duduk di sebuah kursi dekat meja bundar. Wanita di telpon tadi pun datang. Tampak wajahnya kusut masai.

Tetiba saja ia merangkul tubuh tinggi Jiwa. Memeluk dengan erat sambil terisak-isak.

“Wa, aku menyesal!! Aku bodoh, aku kotor!! Kenapa bisa-bisanya aku menerima ajakan dan bisikan setan itu.”

“Kau duduklah dulu, ceritakan dengan tenang.” Pinta Jiwa pada wanita dengan baju berwarna merah polkadot itu.

Akhirnya wanita itu pun duduk berseberangan dengan Jiwa. Masih tersisa sedikit isak tangis di wajahnya. Matanya sembab, rambutnya tak tertata dengan rapi, seperti habis dijambak-jambaknya seorang diri.

“Apa yang terjadi?” Jiwa memulai pembicaraan setelah wanita itu tampak sedikit tenang dan siap berceloteh.

“Aku tak menyangka sahabatku yang selama ini aku percaya bisa melakukan itu. Dia renggut kesucianku. Dan bodohnya!! Aku membiarkan semua terjadi begitu saja. Jiwaaa, tolonglah aku.”

“Kenapa kaulakukan itu?”

“Akuu, aku tak tahu. Benar-benar aku tak tahu. Semua terjadi begitu saja. Setan, benar-benar setan sudah menutup mataku.”

“Kenapa kau menyalahkan setan? Bukankah kau yang melakukannya.”

“Jadi aku harus bagaimana, Wa?”

“Siapa yang melakukan itu?”

“Sahabatku sejak lama, sudah dari SMA kami saling kenal. Kami begitu dekat. Dia terkenal sebagai seorang jenius. Tubuhnya pendek dan hitam. Dan ia satu kampus denganmu. Oblong namanya.”

Jiwa diam dengan wajahnya yang selalu hampir tanpa ekspresi. Datar dan dingin.

“Jangan kaulepaskan dia. Pinta ia tetap bersamamu, hingga kapanpun.” Ujar jiwa.

Wanita itu akhirnya diam. Mencoba membayangkan perkataan Jiwa, dan kemudian berdiri, kembali memeluk Jiwa.

“Baiklah wa. Aku percaya padamu. Akan aku lakukan itu. Tapi wa, tentu kau sudah tahu. Ini hanya milik kita berdua.”

Jiwa dalam duduknya hanya mengangguk dan tetap memandang ke layar laptopnya.

“Kau sedang apa?”

“Menulis.” Jawabnya singkat sambil menutup laptopnya itu.

“Oh iya, maaf. Aku tahu itu pasti berisi rahasia. Maaf, aku tak akan pernah mencoba untuk mencari tahu apa itu yang kautulis.”

***

Di sebuah warung lesehan. Jiwa sedang berbicara empat mata dengan seorang lelaki separuh baya. Namun badannya masih sangat tegap dan terlihat berisi serta tinggi. Rambutnya pendek dipotong cepak.

“Jadi, sekarang kau sibuk apa?” Tanya lelaki itu pada Jiwa.

“Biasalah om, kuliah seperti biasa.”

“Kaulanjut ke program doctoralmu?”

“Iya.”

“Kau ini memang gila. Tak bosan-bosannya kuliah dan belajar. Memang tipikalmu sejak dulu.” Lelaki separuh baya itu adalah adik dari ibu Jiwa. Lelaki yang bisa dikatakan dekat dengan kehidupannya.

“Ada proyek apa sekarang om?”

“Oh iya, Om ada misi. Menangkap seorang pengedar narkoba. Dia sudah lama buron. Pengedar kelas internasional. Orang-orang perusak bangsa ini memang harus dimusnahkan.”

“Mau om cari di mana orang itu?”

“Entahlah, tapi dari informan, dia sekarang sedang berada di daerah ini. Orangnya putih pendek, dengan tinggi kira-kira 160cm. Wajahnya kotak. Matanya sayu. Di lengannya penuh tato dengan gambar rantai.”

“Jika ketemu akan Om apakan orang itu?”

“Kau ini pendiam. Tapi kalau bertanya sudah seperti wartawan.”

Lelaki paruh baya itu mendekatkan mulutnya ke telinga Jiwa. Dengan suara pelan dan hampir berbisik ia katakan.

“Perintah dari atasan. Tangkap ia hidup atau mati”

Jiwa memandang lurus ke depan. Mungkin terbayang banyak harapan di dadanya.

“Tapi perlu kauingat wa. Ini misi sunyi. Orang di luar komando hanya kau yang tahu. Tapi jika kau bertemu dengan orang ciri-ciri seperti itu, laporkan pada Om.”

***

Jiwa masih di dalam kamar gelap itu. Menulis kalimat demi kalimat yang selama ini masuk ke dalam jiwanya. Semua rahasia selama ini , ia tuliskan di dalam laptopnya, dan ia beri judul “Rahasia Jiwa”. Ia takut lupa akan semua rahasia yang ia pegang dengan erat. Ia takut salah mengucapkan pada orang-orang. Ia takut saat ia berkata, rahasia yang akan keluar. Hingga ia catat semua. Dan ia akan berkata hal yang bukan rahasia saja.

Tapi, rahasia di dalam jiwanya tampak sudah melampaui batas kemampuannya sebagai manusia. Rahasia-rahasia sudah mengembang. Saling bertaut satu dan lainnya. Dunia hampir tampak hina dalam jiwanya. Ia sudah tak tahu lagi mana kebenaran dan mana keburukan. Ia tak bisa lagi membedakan.

Suatu hari, kotak hitam penyimpan rahasia itu hilang dicuri orang. Dan semua rahasia hilang pula bersamanya. Jiwa hanya diam. Linglung, bingung, dan hilang arah. Jiwanya seperti hilang meninggalkan raga. Malam dan hari ia lalui tanpa bicara. Siang merenggut geraknya, ia tenggelam dalam mati suri. Malam pula telah menjadi tempat ia sembunyi dalam hening dan dingin. Hingga akhirnya ia putuskan untuk pergi menghilang.

Jiwa menuliskan suatu kalimat di depan pintu kontrakannya, sebelum ia pergi menjauh dari riuhnya jiwa-jiwa manusia. Manusia-manusia yang bagi dirinya hanya memenuhi langit dan bumi dengan jutaan janji. Pengkhianatan. Kenistaan. Nafsu buta. Keegoisan.  Keserakahan. Dan sumpah-sumpah palsu.

“Aku tak mengenal kalian. Dan kalianpun tak akan pernah mengenal aku”

Hingga kini di kehidupan barunya. Jiwa benar-benar tak pernah lagi bicara pada manusia manapun. Manusia dengan titel doctor ini hanya diam dalam bisunya. Tak berucap sepatah katapun. Selain satu.

“Pak, sedang apa?” Tanya seorang lelaki kecil di sebuah sudut taman pada Jiwa suatu hari.

“INI RAHASIA”, Jawabnya.

 

Jogjakarta, 3 September 2014

Advertisements