0

Pox amei-amei, belalang kupu-kupu

Tepok jidat amei, kalo nanti nyuri susu

Susu lemak manis, santan kelapa muda

Itu koruptor pada nangis, potong aja kepalanya

***

Dunia udah semacam panggung lawak, bahkan jauh lebih lucu menurut ane. Apalagi di Indonesia. Gimana enggak? bayangin aja ni ya, Ketua dari penegak hukum tertinggi bisa ketangkap korupsi, menteri agamanya ketangkap korupsi juga, bahkan presiden pun diduga terkait korupsi. Mukeee gileee. Stres ini negara. Punya pejabat tapi banyak yang sakit jiwa. Di depan rakyat sok bijak, pidato sana-sini. Ehh, di belakang meja malah nilep duit rakyat. Tapi sayang, sekarang ane sedikit kecewa. Belakangan ini berita korupsi lagi sepi, mungkin lagi sibuk pencitraan.

Mari kita melompat.

Selain itu ada juga orang masuk penjara bisa keluar-masuk seenaknya. Jangan salah, bukan cuma gayus coy, sampe sekarang, sampe tulisan ini ditulis, masih banyak napi yang dengan longgar keluar-masuk kamar mandi rumahnya sendiri. Ane bukannya bohong, tapi temen ane ada yang kerja jadi sipir, jagain penjara. Nah, dia itu yang cerita. Manggil pelacur buat ke ruang tahanan itu udah biasa. Keluar masuk beli rokok sama makan juga biasa. Waduhh, gawat! Kadang bener kata para biduan, “Dunia iniii, panggung sandiwara, ceritanya mudahhh berubah, uwooo.” Siang masuk bui, kalo malam jualan susu.

Sekarang ini dunia fiksi udah kalah seru sama dunia nyata. Banyak kejadian di dunia ini yang gak pernah kepikiran sama kita tiba-tiba terjadi. Yang dulunya suatu hal dianggap tabu, zaman sekarang malah diburu-buru. Emang udah kebalik nih zaman.

Jadi begini, ane mau mulai cerita nih.

Jadi kemaren, sekitar 4 bulan yang lalu ada kejadian, lagi-lagi warga gaza dibombardir oleh Israel, negara biadab yang kelakuannya kayak binatang. Lah? Gak setuju? terus apalagi namanya kalo bukan binatang buat makhluk yang suka membunuh, menerkam, menyayat-nyayat orang gak bersalah. Oh iya, binatang gak sekejam itu, mereka membunuh paling kalo lagi lapar atau terancam. Terus sebutan hina apalagi buat mereka ini? setan bin iblis keparat biadab? Oke itulah, kita sepakat kasi mereka panggilan itu.

Jadi Israel bin setan bin iblis keparat biadab ini. Halah, kepanjangan. Mereka ini sudah membunuh dengan membabi buta warga-warga sipil palestina yang tidak bersalah. Udah ribuan orang meregang nyawa. Bahkan itu udah bermula sejak tahun 1948. Kalo diitung dari awal mungkin udah ratusan ribu orang yang meninggal.

Tapi ane heran, kok negara lain adem ayem aja gitu lo. Ini dunia masih ada manusia yang punya hati gak sih sebenarnya?

Oh, ada kalian? baguslah.

Bahkan negara-negara sesama muslim juga bisanya cuma runding-runding, kirim obat, kirim uang, kirim doa, kasi makan. Udah itu aja. Ibarat kayak anak-anak lagi maen game pukul-pukulan untuk matiin lawannya di PS (Play station). Anak ini Israel, dan yang dipukul itu warga palestina. Warga palestina hampir mati, terus sama kita cuma ditambahin darah, udah mau mati tambahin lagi darahnya.

“Ayo nak, pukul lagi lawannya, pukul sampe puas, itu belum mati, nanti kalo udah mau mati kita isiin lagi kok darahnya. Kalo mati, juga nanti bisa kita restart, ulang lagi dari awal pukulnya. Silakan pukul, pukul sampe puas, nak.”

Atau kita cuma jadi penonton, yang kalo di rental PS kerjaannya duduk di belakang yang maen, maklum gak punya uang atau takut gak berani lawan. Kita gak dukung tuh anak Israel, tapi kita takut mau ngelawan, jadinya cuma gerutu-gerutu gak jelas di belakang. Halah boy, pengecut amat, tinggal ambil stick-nya, banting, terus pulang. selesai

Biadab bener tuh kelakuan. Entar ane cabut juga nih listriknya, biar usai sudah segala permainan ini.

Jadi posisi negara-negara muslim saat ini, kayak orang yang ngisiin darah itu. Ya, minimal kayak yang nontonlah.

“Kami mengecam tindakan Israel, kami tidak setuju dengan perbuatan biadab itu”, halah bro, teriak aja di laut. Ngomong aja sama angin, biar masuk angin, terus kentut-kentut dah. Mending bau kentut dari pada bau mulut kalian yang busuk itu. Eh, tapi jangan marah dulu, kalian di sini ane tujuin buat pemerintah yang punya kuasa, bukan kalian para rakyat jelata. Jangan tersinggung.

Jadi begitulah yang terjadi di dunia ini. Parah bener boy. Sekarang yang disayat dan dibunuh bukan kaum muslim di Gaza aja, tapi di mana-mana. Di Thailand ada, Rohingya ada, di Syiria ada. Duh, bingung ane sama pemerintah ini. Kayak kambing. Diem aja liat sodaranya di siksa.

Terus banyak juga mereka yang ngaku-ngaku aktivis HAM-pimpa-alay-ium-gambreng. Kalo kehendak mereka buat buka-buka aurat dilarang, uhhh, pada ribut, “Ini melanggar hak asasi manusia, kami menolak jika kebebasan berekspresi ini dilarang.” Kalo mereka mau nikah sesama jenis, terus dilarang, mereka juga pada ribut, “Ini hak kami, kemana HAM? Kita kan suka sama suka.” Cihh, menjijikkan.

Kalo ada aktivis mereka yang dibungkam, bahkan katanya sampe dibunuh karena menyampaikan kebenaran menurut mereka, mereka teriak lagi, “Kami menuntut hak kami, tindak dan hukum para pelaku kejahatan HAM.”

Dan banyak lagi gaya teriakan mereka.

Tapi di sisi lain, saat kaum muslim hampir di banyak belahan dunia ini dibantai, dikejar-kajar buat dikuliti, diusir dari tanah mereka sendiri. Mereka cuma diam, kayak anak ayam lagi berak (buang kotoran. Penj) kapur. Kemana kata-kata HAM yang mahabijaksana itu? yang kalian puja-puja itu kemana larinya? sembunyi di celah-celah ketiak bau asam kalian?

Inilah yang terjadi di dunia ini. Sungguh dunia sudah menjadi tempat yang tidak nyaman buat ane, gak tau kalo menurut kalian.

Nah, sekarang kita lompat lagi. Juga pernah terjadi di negeri kita, Endonesa. Pemilihan presiden tahun 2014. Ada sengketa, salah satu calon gak terima kekalahan, katanya ada kecurangan. Udah kayak bocah aja, maen curang-curangan. Tapi bukan itu yang mau ane angkat. Tapi ane ngelihat ada sesuatu yang janggal. Apa itu? Jumlah!! Ya itu dia, jumlah rakyat yang milih itu sedikit. Jadi yang milih presiden itu cuma ada sekitar 150juta orang. Padahal jumlah penduduk kita itu ada sekitar 250juta. Artinya apa? ada 100juta orang yang gak ikut milih. Kemana mereka menghilang? Adakah yang melihatnya? Klik!! Nah itu dia. Mari katakan “peta”. Halah, kok malah jadi dora.

Dalam sebuah rapat organisasi, demi menjunjung tinggi arti demokrasi, untuk mengambil sebuah keputusan dibutuhkan setidaknya 2/3 suara dari seluruh peserta rapat. Dan pada pemilu saat itu, Cuma ada 3/5 peserta/rakyat, dan itu belum sampe pada angka 2/3. Jadi kalo menjunjung demokrasi, keputusan yang ada belum memenuhi syarat demokratis.

Pertanyaan selanjutnya adalah??? Kenapa 100juta orang itu bisa tidak memilih? tanyakanlah oleh kalian pada suara kentut yang berhembus. Ada kebusukan apa pada negeri ini sebenarnya.

Belum lagi suara satu orang cendikiawan, ulama dan orang pintar lainnya, sama nilainya dengan satu orang preman, pemabuk, dan orang-orang yang suaranya bisa dibeli. Sedang orang-orang rusak ini lebih banyak jumlahnya daripada orang pintar dan ulama. Lantas? Mau jadi apa pemilihan macam itu nanti?

Selain itu, bermacam kebijakan yang ada di negara ini juga tidak demokratis sama sekali. Buktinya apa? berapa banyak kebijakan-kebijakan yang diambil tanpa mendengar suara rakyat? Banyak sekali. Keputusan-keputusan diketok palu hanya oleh satu pihak, dan rakyat kecil dikucilkan. Malah diketok kepalanya kalo ribut. Kasiaannn!!

Contoh? Mau contoh? Kenaikan BBM? Rakyat mana yang mau harga bensin mahal? Kenaikan TDL? Siapa yang mau? Presiden Selfie lagi nyapu buat pencitraan? Siapa yang mau? Presiden buat album? Siapa yang mau? Halah.

Itu sedikit contoh aja. Tapi, itu tandanya apa? tandanya suara kalian, ya kalian para rakyat bukan suara tuhan. Jangan ngaku-ngaku tuhan-lah, entar murtad. Suara kalian itu gak lebih daripada suara kentut bagi para pejabat dan petinggi-petinggi negara ini. Suara kalian itu dianggap pengganggu, benalu. Kecuali jika terpaksa untuk meraih kursi, maka rela mereka untuk mengemis meminta bau kentut kalian itu.

Vox amei-amei, belalang kupu-kupu.

Vox populi vox dei, cuma mimpi di malam kelabu.

Suara rakyat saat ini lebih tepat seperti suara nyanyian anak kecil yang sedang bermain. Keras terdengar, sedikit menghibur, namun tak ada dewasa yang peduli. Cihhh, demokerasi ta*i lembu.

Advertisements