Magritte_Artwork_ml0002copy

SEJAK lima minggu yang lalu aku tak bisa tidur nyenyak. Pikiranku dihantui oleh makhluk yang lalu-lalang keluar masuk kamarku. Aku tak tahu pasti makhluk apa itu. Mereka kecil dan berlari sangat cepat bagai kilat. Lewat di bawah tempat tidurku. Duduk di atas kursi kerjaku. Sesekali bermain di atas langit-langit kamar. Mereka mengeluarkan suara-suara tak teratur, lalu saling sahut-menyahut.

Pagi ini pun ketika aku ingin keluar untuk berjalan pagi, saat aku akan menutup pintu rumah dari luar, suara-suara itu bergema di seluruh ruangan di dalam sana.

Akuuu…

Kauuuu…

Pergilah…

Dari…

Lumbung…

Kesunyian…

Suara itu bergema seolah mengusirku dari rumahku sendiri. Suara itu kian hari kian sering muncul dan terdengar di segala penjuru rumah. Namun anehnya, suara itu hanya sayup-sayup, seperti datang dari tempat yang jauh. Saat aku di kamar tidur, di dapur, teras belakang, gudang, ruang kerjaku, bahkan saat aku di kamar mandi. Suara itu menggangguku selalu. Bayang-bayang itupun muncul berkelebat lalu-lalang. Aku rasa rumahku ini ada hantunya. Tapi kenapa? Dan kenapa pula baru sekarang?

Kejadian ini terus terjadi berulang-ulang hingga berminggu-minggu. Setiap malam saat aku berada di rumah, kala aku akan menutup mata untuk menjemput mimpi-mimpi, mereka hadir merusak malamku.

***

Suatu malam, aku kembali menulis. Mencipta syair-syair. Saat sebelumnya aku sempat berhenti untuk menuliskan kata-kata. Tapi herannya, malam itu tak kudengar suara-suara aneh. Tak ada bayang-bayang yang keluar masuk kamarku. Hanya terdengar suara sayup-sayup angin masuk dari jendela yang terbuka. Hanya ada bayangan dari penutup jendela yang berkibar terkena angin, dan bayanganku yang terkena lampu meja.

Malam itu aku benar-benar merasa tenang. Tanpa suara yang saling sahut-menyahut. Tanpa bayang-bayang yang lalu-lalang. Tetiba aku merasakan kantuk yang begitu sangat. Memang jam sudah menunjukkan angka dua malam. Suara dan bayang itu belum lagi muncul. Aku rasa mereka sudah pergi jauh. Aku pikir barangkali mereka bosan merayuku.

Aku tertidur di atas kursi kerjaku. Kepalaku bersandar pada meja. Lenganku berlipat sebagai bantal. Namun kemudian aku terbangun, sebab ada suara yang berbisik ke telingaku.

Bangunlah…

Teruskan…

Bangkitlah…

Suara itu membangunkanku. Aku menoleh mencari sumber dari suara itu. Aku melihat ke belakang tepat ke arah jendela. Sekelompok bayangan meloncat keluar dari ruang kerjaku. Aku kejar mereka. Kulihat keluar ruangan. Tak ada apa-apa. Kemudian suara-suara dari ruangan lain rumahku kembali bermunculan. Berteriak-teriak. Tertawa terkekeh-kekeh. Memanggil-manggil namaku. Saling bersahutan. Mungkinkah mereka para liliput dari negeri dongeng? Atau para peri malam?

Aku keluar dari ruang kerja. Mencari mereka di setiap ruangan. Tapi yang kudapat hanya bayang-bayang yang selalu lari saat aku mulai mendekat. Suara-suara itu pun semakin terdengar, seolah datang dari jauh, namun terasa begitu dekat dan semakin mendekat. Aku putuskan untuk tak tidur di rumah, bisa gila jika terus seperti ini. Akhirnya aku tidur di luar. Di dalam mobilku yang terparkir di teras depan.

Saat aku akan keluar dan berada di ambang pintu, sebuah bayangan mencoba menjentik telingaku. Dan meyenandungkan kata-kata.

Pergilah…

Jauh…

Kami…

Akan…

Tetap…

Menanti…

***

Keesokan hari aku pergi ke tetangga. Menanyakan pada mereka apakah mengalami hal yang serupa. Tapi hanya tertawaan yang aku dapat. Mereka sarankan, harusnya aku mencari dukun. Ada hantu di rumah itu. Dan ada pula yang menyarankanku untuk mengunjungi rumah sakit jiwa.

Malam harinya, aku memberanikan tidur di kamar tidurku seperti biasanya. Namun sebelumnya aku habiskan waktu di luar, melepas lelah, mengelilingi jalanan dan taman-taman perumahan.

Pukul sepuluh malam aku kembali ke rumah, langsung menuju tempat tidur. Suara dan bayang-bayang itu belum muncul. Aku paksa mata ini untuk segera menutup sebelum mereka kembali hadir dan merusak malam dan istirahatku. Aku masuk dalam gelap, dan benar-benar tertidur.

Tersentak. Aku terbangun oleh goncangan-goncangan di atas tempat tidurku. Kubuka mata perlahan. Di sana aku lihat. Makhluk-makhluk berbentuk huruf, angka, merangkai kata-kata. Ada di antara mereka yang hanya satu huruf dan ada pula yang berbentuk sebuah kata.

K. A. M. I.

SUNYI

TULIS

K

E

M

B

A

L

I

Mereka memenuhi kamar tidurku. Memanjat-manjat dinding. Bergelantungan pada langit-langit. Duduk di atas kursi dan meja kerjaku. Keluar masuk dari jendela yang terbuka.

Aku dikelilingi oleh mereka. Apa pula ini?!! Kuberanikan bertanya dengan suara yang berat.

“Siapa kalian?”

Mereka menjawab serentak, dengan nada datar, bergema mengisi seluruh ruangan.

“KAMI ADALAH SYAIRMU.”

Aku berdiri, menabrak mereka semua. Tak peduli pada mereka yang terinjak-injak. Aku menuju meja kerjaku. Kubuka buku, mengambil pensil. Dan aku mulai menuliskan semua hal. Perlahan mereka semua mengecil, berarakan masuk ke dalam buku di depanku. Suara-suara itu perlahan hilang. Bayang-bayang yang selama ini mengganggu masuk ke dalam lembaran-lembaran kertas.

Mulai malam itu. Aku tak pernah lagi tertidur saat berada di rumah. Aku terus menulis, menulis kata demi kata. Sebelum mereka kembali mendapatkan tenaga untuk bangkit menggangguku dengan suara dan bayang-bayang itu.

Jogjakarta, 10 September 2014

Advertisements