images (3) 

“Suatu hari manusia akan mengerti arti penting membaca, setelah mereka kehabisan kata untuk ditulis dan berbicara” –Saya-

 

Mereka yang mengklaim diri sebagai mahasiswa, namun tak pernah membaca, adalah mahasiswa gadungan, yang tak sadar bahwa ia sebenarnya bukan mahasiswa.

Mahasiswa dan mereka yang mengaku kaum intelejensia, tak pernah lepas dari aktivitas satu ini. Mereka lahir dari aktivitas membaca, tumbuh dan berkembang, menjadi lebih bijaksana dengan memahami tiap isi pikiran manusia lintas zaman lewat buku-buku yang mereka baca.

Sayangnya, di zaman ini, banyak di antara mereka yang menyandang gelar kaum intelek, hanya sibuk dengan aktivitas hedon mereka. Pagi hingga siang mereka berada dalam kelas, mendengar dan hanya mendengar. Sore hingga malam mereka ngerumpi berbicara seperti ibu-ibu arisan yang kerjanya hanya menghabiskan waktu berbicara hal yang tak penting. Hingga malam mereka tidur hingga pagi.

Lantas? Kapan waktu mereka untuk membaca.

Sudahlah!!! Jangan mengaku mahasiswa kalau begitu. Daftarkan saja diri kalian pada ajang mencari bakat menyanyi, atau daftarkan diri pada komunitas ibu-ibu arisan di tempat kos-kosan kalian.

Kaum intelektual yang mestinya banyak membaca buku, menggalinya bersama dalam lingkaran-lingkaran kecil, menyelesaikan problem masyarakat dengan teori dan konsepsi yang mereka pelajari dari buku-buku. Sekarang malah sibuk sendiri dengan aktivitas yang jauh dari kata mencerdaskan.

Berapa banyak buku di dunia ini? sudah berjuta-juta. Sudah banyak para pemikir yang menitipkan pikiran mereka pada lembaran kertas, untuk para generasi penerusnya. Mereka habiskan puluhan tahun untuk memahami dunia dan seisinya, dan mereka tuang dalam ribuan halaman. Mereka gunakan akal sampai ambang batasnya.

Dan kalian? Hanya disuruh untuk membaca dan memahami, lalu terapkan pada kehidupan nyata. Dan itu masih banyak juga yang enggan!! Manusia macam apa itu? Apalagi jika disuruh untuk menuliskan buku, untuk mereka generasi setelah ini. Ahhh, sudahlah, hapus saja nama kalian dari daftar mahasiswa kampus. Bakar saja, mungkin hanya IP yang kalian kejar. Jika mereka, para pemikir dan penulis itu tau buku yang mereka kerjakan tak disentuh oleh generasi selanjutnya. Aku rasa mereka pasti menangis dalam kuburnya.

Sungguh, aku takut. Aku khawatir. Jika generasi saat ini malas dan enggan hanya untuk membaca, aku takut budaya keilmuan ini punah pada generasi selanjutnya. Tak ada lagi yang akan meneruskan rantai ilmu ini.

Tak ada lagi yang membaca, maka tak ada yang bisa diteruskan pada manusia di zaman selanjutnya. Sungguh peradaban ini akan menjadi peradaban paling hina.

Hey kalian, yang mengaku intelektual. Sudah berapa buku kini kau baca? Itu buku sudah menangis darah, ditimbun debu 5cm. kapan mau kau cicip dia? untuk apa gelarmu itu jika malas membaca. Katanya agen perubahan. Perubahan tak akan pernah datang dari mereka yang tak belajar dari dunia. Dunia bisa kita lihat dalam buku-buku. Lintas zaman, lintas generasi. Ribuan alam pikir terpahat di sana. Pelajarilah.

Namun, membaca pun tak sekadar memenuhi nafsu intelektual, bukan hanya untuk mencapai orgasme pemikiran. Membaca lebih dari itu. Membaca untuk menyampaikan kembali. Melakukan analisis mendalam dan menemukan pemecahan-pemecahan untuk masalah yang ada.

Mencari titik-titik temu dari berbagai macam pikiran yang pernah lahir, dan mencipta sintesis baru atas semua itu.

Ya, itu. Itu baru kaum intelejensia namanya.

Membaca telah memberi kita arti dan makna yang lebih. Membaca membuat kita mengerti akan dunia.

Dengan membaca, kita tau banyak orang hebat di dunia ini. Walaupun tak pernah bertemu dengan orang-orang itu.

Membaca, membuat kita tau banyak tempat, walaupun tak pernah ke sana.

Membaca, membuat kita tau banyak pikiran, walaupun tak pernah berbicara langsung dengan mereka.

Dengan membaca, kita dapat menembus waktu. Walau kita tak abadi.

Dengan membaca, kita dapat berbagi lebih banyak dengan apa yang didapat dari membaca.

Tapi ingat, Membaca hanyalah jendela dunia, kita hanya bisa mengintip isinya, tidak dengan menyentuhnya. Maka, setelah membaca terjunlah ke dunia nyata, beritakan pada mereka apa yang kita dapat darinya.

Mari kita suarakan, “reading is my bone”. Aku dapat berdiri dengan membaca. Membaca adalah tulang-belulang yang menopang daya pikirku. Aku akan lebih hebat dengan membaca. Akulah sang intelejensia. Ya, memang keras kepala. Apalah artinya muda, jika tak keras kepala?

“jika kau berhenti membaca, maka kau telah membunuh satu di antara budaya beradab manusia” –juga Saya-

[VAL]

Atas Nama Bangsa Indonesia

Advertisements