Galeri-22-Wallpaper-Gambar-Bunga-tulip-satu

Katak rindu ingin bernyanyi di bawah taluan rintik hujan pada bulan oktober. Katak ingin benar melompat-lompat diiringi kecipak kaki serta gemerisik daun yang saling bersentuhan. Tapi siang ini, cuaca berantonim dengan keinginan sang katak. Udara panas menyelinap diam-diam dari jendela yang sedikit terbuka. Terdengar siulan jangkrik makin menjadi dari semak halaman belakang.

“Hay, sunyi dan dingin, datanglah padaku”

Jam dinding pada tembok merah itu berdentang dua kali, memberi tanda  ini waktunya aku ke halaman belakang. Mengangkat jemuran. Sudah kering, harus segera diangkat sebelum hilang.

Riuh-rendah mengisi rongga dengar, percakapan dari kamar-kamar di dekat ruang kamarku cukup mengganggu konsentrasi, lumayan memukul daya pikirku. Ini adalah asrama yang miliki banyak ruang. Memang sedikit beruntung, tempatku berada agak jauh di ujung, namun tetap saja, kegaduhan anak-anak yang tertawa itu masuk tanpa permisi dalam ruang privasiku.

Kata-kata terangkai, yang awalnya mengalir deras bersama tarian jemari, terhenti sejenak. Buyar dan tak mau lagi menari bersamaku, ia pergi entah kemana, entah siapa yang mencuri. Ruang sunyiku, hilang ditelan keangkuhan suara. Imaji-imaji yang sempat menggantung di atas pohon kreasi itu, yang hanya tinggalku petik dengan sebelah tangan tetiba runtuh tanpa sempat kupanen.

“Kurang ajar!!!”

Kucoba keluar sejenak, mencari angin segar yang dapat memberi kabar baik. Kubuka lemari kecil di sudut kamar, mengambil sebuah pensil kecil dan sebuah buku besar dengan ratusan halaman, hasil tulisanku selama beberapa tahun belakangan.

Kuturuni anak tangga yang berjejer berdekatan, perlahan meniti, hingga akhirnya kusampai pada sepeda yang telah terparkir di bagian halaman belakang. Kukayuh dan segera menuju sebuah hamparan luas yang berada di atas bukit tepat di belakang asrama.

Di atas bukit itu, terdapat hamparan rumput hijau yang terpangkas rapi, dengan beberapa pohon besar, dan tanaman bunga yang berwarna-warni. Bougenville, melati,dan tulip yang kekuningan, seolah sedang melukis alam. Ditemani dengan kirikan jangkrik yang menambah syahdu suasana saat itu. Kebetulan sepi, senyap, tak ada yang datang kemari. Damai rasanya, jarang kudapati keindahan semacam ini di tempat lain.

Dari atas sini, dapat kulihat lembah-lembah yang di bawahnya mengalir sungai kecil. Dan jauh di seberang sana, terdapat kota kecil yang sedang ramai akan aktifitas.

Kududuk di atas salah satu kursi yang mengelilingi sebuah meja bundar. Kukeluarkan kembali pensil dan buku besar yang sempat kubawa serta tadi. Coba temukan kembali imaji-imajiku yang sempat sirna, barangkali angin membawanya dan sudi membisikkannya kepadaku sekali lagi.

Kutulis segala hal yang terlintas dalam benak. Menguntai kata-demi kata. Merangkai aksara menjadi sebuah cerita. Mengalun penuh rasa dan hikayat tentang alam yang begitu sempurna. Kucipta seorang tokoh dengan perawakan putih tinggi, berwajah lonjong dengan mata lebar dan bola mata yang begitu bulat serta pupilnya hitam legam, hingga tampak seperti menatapku nanar. Dengan wajah datar, sungging bibir tanpa senyum, dingin. Rambut lurus hitam tergurai sampai ke pertengahan badannya. Mengenakan piyama, baju tidur bercorak bunga tulip.

Sedang asyik masyuk bersenggama dengan imaji ini, tetiba saja wanita yang sama persis dengan apa yang kugambarkan tadi hadir tepat di hadapan, dari seberang tempat dudukku, di bagian berlawanan dari meja bundar ini. Menatap tepat ke arah bola mataku, memandang kosong ke dalam jiwa, seolah sedang berbisik.

“Kenapa kau memanggilku?”

Aku tersentak, seketika ia bangkit dari duduknya, berjalan perlahan, dan kuikuti dengan tatapan yang tak lepas dari matanya. Ia ternyata menuju tempat dudukku, dengan tanpa tedeng aling-aling menggandeng tanganku dengan lembut dan mesra, sambil berkata, “Temani aku telusuri hamparan luas ini.”

Aku masih belum percaya dengan hal bodoh ini, tokoh sempurna itu muncul dari mana? Apa aku bermimpi? Kucubit pipi ini, kutampar berkali-kali dengan tangan kiri yang tak digandeng olehnya. Tidak! Aku tak sedang bermimpi. Tanpa sadar kaki pun sudah melangkah mengikuti langkah kaki wanita itu.

Tubuhnya yang tinggi walaupun belum mampu menandingi aku yang juga bertubuh tinggi, merapat padaku dengan mesra dan manja. Begitu hangat kurasa kepala yang terletak dekat dengan bahuku. Ia sandarkan dengan manja sambil berjalan perlahan menuju pohon besar, yang di salah satu batang besarnya menggantung sebuah ayunan tali yang cukup dinaiki oleh dua orang dewasa.

Aku masih belum dapat berbicara sepatah katapun. Tapi wanita itu, sudah berceloteh, sambil sesekali bernyanyi kecil. Ia rangkul pinggangku dengan lembut, sambil mengayun di atas sebuah papan, menendang-nendang tanah di bawah kaki, agar ayunan terasa lebih cepat.

Angin yang berhembus terasa begitu hangat, bertambah terasa membelai saja. Entah kenapa aku merasa begitu nyaman berada di sisi wanita ini. Padahal otakku belum lagi selesai mencerna, kiranya darimana wanita ini hadir, kenapa dalam hitungan detik saja, sejak aku selesai menuliskan tokoh idamanku, wanita inipun muncul tanpa dikira di hadapanku.

Ia bercerita tentang lelaki kurus berkacamata bulat. Tentang lelaki yang membuatnya ada di tempat ini. Sungguh ia ingin berterimakasih pada lelaki itu sebab telah mengajarinya tentang alam dan bagaimana ia harus menghargai itu semua. Lelaki yang mengajarkannya bahwa dunia bukan hanya tentang hidup, tak sekadar tentang pemuasan raga dan jiwa, tak hanya bercerita tentang sandiwara, tapi lebih dari itu. Kita juga makhluk hina-dina, kita harus tahu darimana kita berasal; tanah, dan padanya semesta kembali. Dan lebih dari itu, pencipta alam ini. Ke sana tujuan kita.

Usai lelah berceloteh tentang dunia. Ia turun dari ayunan, dan kembali menggiringku menuju hamparan luas terbentang di depan kami. Mengitari taman-taman bunga bougenville yang kemerah-merahan, beserta rangkaian tulip  kuning yang seolah menjadi pagar di tepi-tepi bukit agar tak ada yang terpeleset ke sana. Kamipun sampai pada ujung bukit yang langsung menghadap pada lembah-lembah, dan mengalir sungai kecil di bawahnya. Kupandangi, ia mengajakku merentangkan kedua tangan, meresapi belaian angin yang lembut.

Burung-burung bernyanyi, berkicau, mencipta suara yang menghangatkan rongga dengar. Sesekali terlihat tupai yang melompat dari satu dahan ke dahan yang lain dari pohon rindang di sebalah kiri kami. Sungguh pertunjukkan sempurna yang ditampilkan alam padaku. Sang maestro yang sungguh-sungguh sempurna telah menciptakan ini semua untuk makhluknya.

Aku kembali tersentak, tanpa sebab, wanita tadi mendorongku dan ia pun ikut masuk ke dalam jurang tepat di bawah kami yang mengalir sungai. Tinggi sekali, aku akan mati jika begini. Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba. Aku berteriak keras. Aku merasa gelisah dan takut. Kuperhatikan wajahnya dalam layangan, seperti daun kami melayang ke bawah, kulihat bibirnya tersenyum, mengucapkan sepatah kata tanpa suara, tapi bisa kubaca, ia katakan, “Selamat tinggal.”

Air di bawah sudah semakin dekat untuk kutabrak dan bebatuan besar di pinggir sungai itu bisa saja memecah kepalaku kapan saja. Aku takut,tapi wanita itu masih saja tersenyum bahkan semakin lebar sungging senyumnya, hingga terlihat gigi putih dengan seri yang besar. Sedetik lagi aku akan menghantam batu besar tepat di bawah, dan wanita itu sudah berganti piyama menjadi sebuah gaun indah, sambil tertawa besar, mencengkram tanganku menjadi lebih erat.

**

“Buarrrr!!!”

Aku terbangun, ternyata benar itu mimpi saja. Terlalu serius aku mengimpi wanita idaman itu, hingga cubit dan tamparan tak sanggup membangunkanku dari mimpi. Aku masih di meja bundar, dengan payung gumpalan awan putih seperti samudra di atas sana. Serta selimut angin yang membelai hangat. Kulihat ayunan pada pohon besar di hadapanku. Tak ada seorangpun, sepi, hanya aku sendiri. Kulirik, dan lempar pandang sejauh mungkin, tak ada sesiapapun.

Kulanjutkan, menulis cerita tentang hidup. Lupakan sejenak mimpi aneh itu. Pensil dari tadi masih menyangkut di sela-sela jariku. Dan buku tebal itu masih terbuka, siap untuk kugores. Beberapa kata sanggup kurangkai. Tapi titik jenuh pun sudah sampai. Kutinggal hal ini sejenak, melangkah pulang, kurasa cukup pelarian untuk hari ini.

Menelusuri jalan setapak yang dikawal oleh pohon-pohon rindang di pinggirnya. Rerumputan tak tumbuh di tengah jalan, hanya ingin mengiring di samping-samping saja. Aneh, seketika kulewati gapura besar yang dirangkai dari dedaunan dan ranting-rating. Seketika itu pula muncul wanita berpiyama dengan corak tulip itu sekali lagi. Menggenggam sebuah pistol berkaliber kecil, mengkilap terkena cahaya matahari yang menyelinap lewat dedaunan pohon-pohon besar.

Sambil menatapku marah, ia mengacungkan muncung senjata itu tepat ke wajahku. Kenapa ia bisa ada di sini? Siapa ia sebenarnya? Sambil berteriak kencang, ia menarik pelatuk senjata di tangannya.

“Jangan tinggalkan aku!!!”

Timah panas itu melayang seolah melambat ke arahku, siap membuat lubang dalam di kepala. Bisa kulihat dengan sangat, dan wanita di seberang sana, tertawa terbahak-bahak.

**

“Traang!!”

Aku terbangun sekali lagi, dan tawa-tawa menyambut kebangunanku. Oh, ruang pengap ini lagi, ternyata aku masih di sini. Di dalam kamar asrama yang riuh-rendah. Di tengah-tengah kota yang jauh dari harapan. Rumah-rumah berdempetan, dengan atap yang saling menopang. Selokan kotor di antara gang-gang sempit, bergandengan pada tiang-tiang listrik yang menguntai kabel menjadikan semrawut pandangan. Mimpi-mimpi indah tadi hanya sekadar mimpi-mimpi indah. Jauh, jauh sekali. Negeri dongeng itu ternyata masih sangat jauh. Mimpi indah yang berakhir buruk itu membawaku kembali pada dunia yang sebenarnya. Realita yang masih sangat jauh dari kata indah. Tapi? Ah,biarlah.

Bersyukurlah karena kita tidak memiliki semua yang kita inginkan, karena jika iya, apalagi yang hendak kita cari? –dailynomous-

Jogjakarta, 13 Desember 2013

banner250x300

Sponsor :  http://mimpiproperti.com/

http://www.kontesmimpiproperti.com/event-blog-kontes/

Advertisements