download

Kembali padaku, bagaimana aku mencoba melawan arus kebiasaan. Rutinitas kelas yang hampir-hampir hanya dijadikan ajang mencari muka di depan para guru, ajang menaikkan nilai-nilai, poin-poin demi prestasi semu. Aku sudah bosan dengan segala macam sandiwara pendidikan ini. permainan peran para murid yang seolah-olah mencari ilmu, dan kepura-puraan para guru yang seolah pengajar dan pendidik. Namun tak sedikit di antara mereka yang hanya masuk ke penjara formal demi nilai dan popularitas semata; mengajar demi banyaknya jam dikali lembaran-lemaran rupiah. Walau dapat dikatakan tak semua begitu, tapi kebanyakan memang begitu nyatanya.

Berapa banyak penuntut ilmu dikeluarkan dari gedung-gedung megah itu, hanya karena tak dapat mengikuti pelajaran yang mengikat, nilai tak sampai, dan kenakalan-kenakalan remaja lainnya. Mereka yang tak sanggup diajar. Dididik. Dikeluarkan dari kelas-kelas dengan beratus, beribu alasan. Lantas mesti kemana lagi mereka berjalan, mencari jiwa-jiwa yang ikhlas mengajar tanpa sanksi ditenggelamkan, bahkan diasingkan?

Lebam sudah wajah pendidikan negeriku, sekolah-sekolah hampir tak mampu lagi memberi warna-warni pada mereka para pencari ilmu. Mereka disumpal dengan kurikulum-kurikulum berbau kapitalis, mengajar mereka curang dan opurtunis. Bagaimana tidak? Lihat pada ritual ujian tiap tahun di negeri ini. Bagaimana konsep ujian berganti-ganti, mengekang dan selalu berkembang seakan para murid adalah penjahat-penjahat yang tak bisa dipercaya sedikitpun. Bukan dengan cara meningkat pendidikan moral mereka diluruskan, tapi hanya dengan sekadar pemenjaraan ujian nasional yang tak jelas ujung pangkalnya.

Wajah-wajah pendidikan yang semakin bobrok akan selalu muncul dan semakin sulit saja dihilangkan. Akankah penerus generasi ini hidup dalam segala kecurigaan?

Cuplikan calon “anak baru”

Advertisements