Lentera malam

cahaya

Malam terlalu indah tuk dirasa. Malam terlalu gelap tuk diraba. Malam pun terlalu sunyi tuk menemani hati yang kosong bernyanyi tentang dunia. Malam datang, mentari tenggelam. Aku masih dipinggir tepian laut, meresapi deru ombak yang membelai batu karang. Lembut namun mengikis.

Ujian akhir semester telah berakhir. Sebentar lagi semester empat akan segara ku jarahi. Mencuri ilmu dari pengajar-pengajar berbakat itu. Memang pandai mereka bermain angka. Selalu aku termangu dikursi belakang, ditemani beberapa kursi usang yang tak pernah diduduki. Entah ada mitos apa padanya, hingga semua anak takut tuk mecoba. Jangankan meletakkan pantat. Lewat saja mereka enggan. Bukan karena kursi itu berhantu, tapi memang kursinya saja yang sudah lapuk. Keropos dimakan masa, bersama dengan rayap-rayap rakus. Sedikit demi sedikit menggerogoti tubuh kaku barang itu.

Aku memang dijurusan matematika. Tak sesuai benar dengan keinginanku.  jadi seorang penyair. Tapi tak apalah. Toh walaupun kuliah disana, aku masih tetap bisa bersyair tanpa ada yang melarang.

“Sin 30 + cos 90 = ????”

Begitu contoh angka yang selalu tertera dipapan putih tepat didepan kelas kami.

“Apalagi ini? macam-macam saja kerja dosen itu”. Gerutu ku dalam hati. Tapi sudahlah , dia tak akan pernah mau mengerti isi hati. Yang ia tahu hanya angka, angka, angka, dan angka. Mungkin sebelum tidur dan makan itu beliau harus mengerjakan terlebih dulu rumusan kalkulus matematika. Ahh, biarlah.

Ujian memang telah usai. Tapi bukan berarti hidupku selesai pula. Aku baru saja dapat kata-kata baru tadi. Tepat tertulis dikertas soal ujian terakhir. Begini tulisannya.

“ujian itu untuk belajar, bukan belajar untuk ujian”.

Sedikit banyak aku setuju dengan kata-kata ini, belajar lah, memang belajar. Ujian itu belajar. Jadi tak perlulah kau jadikan belajar itu semata-mata hanya untuk ujian. Andai begitu, kau hanya akan belajar jika akan ujian.

Aku sangat setuju dengan itu guru. Ya, kenapa tidak. Dengan kata-kata itu aku terinspirasi. Dan memang kata itu pula seakan tahu isi hatiku. Dia telah menerawang jauh isinya, sebelum aku keluarkan terlebih dulu. Dengan kata-kata itu aku temui dalih. Tak usahlah belajar lagi andai telah masuk masa ujian. Belajar itu sudah dari dulu-dulu. Jadi andai masuk minggu tenang, tak perlu susah-susah belajar lagi. Tetap tenanglah. Toh nanti pas ujian kita akan sama dengan belajar lagi.

Akibat kata berfilosofi, dan akibat ilmu mantiq. Ilmu logika terlalu dalam ku pelajari. Aku temukan makna dari tulisan guruku itu. Maka itu, aku dapat nilai C hampir dalam setiap mata kuliah. Sungguh memalukan. Tapi biarlah, tak di hukum juga. Aku sudah usaha.

Liburan menanti setelah ujian. Itu yang dinanti. Ini hari pertama libur, dan masih belum kemana-kemana. Masih didalam ruang lusuh. Sekedar tempat, yang hanya cukup untuk tubuh kecil 150cm,beserta dengan beberapa peralatan dan rak buku.

Akhirnya kucoba keluar, dekat-dekat saja. Melamun dipelataran rumah bu waginem. Rumah yang sedikit menjorok kearah laut. Tempat ini menjadi salah satu singgasana merenungku. Renungan kembali pada suatu hari saat ujian. Aku bertemu dengan seorang teman yang kuliah difakultas bahasa. Biasa, sudah tentu dia seorang sastrawan muda.

Jurusan sastra. Iri benar aku dia bisa disana. Sejak dulu kursi diruangan itu aku idam-idamkan. Berharap sekali dapat satu ruangan dengan orang-orang gila kata ini. Orang yang bergelut dengan macam-macam bahasa. Bergemul dengan apa yang namanya sajak dan irama. Sungguh indah dunia mereka. Tanpa harus mengutak-atik angka, semua terasa berwarna.

Siang kemarin aku bertemu dengannya. Seorang lelaki kurus, tinggi. Perawakan pribumi. Biasalah. Gondrong. Memang ciri khas mereka yang berurusan dengan banyak untaian kata-kata. Lusuh, tak tahu gaya. Untung mereka tak tahu apa itu mati gaya.

“Mau kemana engkau, wahai wain”. Sapanya sedikit berbisik padaku. Ini anak telah aku kenal jauh sebelum aku mengenal apa itu pembalut. Telah lama kami tahu satu dan lainnya. Kami berasal dari tempat yang sama. Dari sudut kota tua itu. Kota para raja dan sultan melayu.

“Mau ujianlah pram, mau kemana lagi”. Sambil tetap berjalan pelan aku menjawab pertanyaannya. Dan tentunya masih dibuntuti oleh lelaki bau rokok itu, yang tak pernah sekali pun mau memakai kemeja.

“aku sudah telat ini, sudah 30 menit berjalan”

“ahh, wain. Tak usahlah diambil pusing. Toh juga nanti kau tak bisa menjawab”

“setidaknya aku ada usaha pram, walau angka-angka itu tak bersahabat sama sekali”, dia tetap mengekor tepat dibelakangku.

Kemudian dia datang berbisik, mendekatkan mulut baunya itu. Hanya sekitar 3cm mungkin jaraknya dengan telingaku.

“ingat wain, kita ini penyair. Kau harus ingat ini. ingat baik-baik. Jangan sampai ujian mengganggu tidur siang mu. Apalagi mengganggu imajinasi mu”

Pelan bisikannya. Pelan benar. Tapi sungguh. Terhujam dalam itu kata-kata. seakan masuk langsung kedalam alam bawah sadar, bermain dengan jiwa yang senyap, dan langsung memerintah otak untuk segera memproses. Mencari kebenaran dari setiap katanya.

Benar saja. Ternyata aku setuju dengan itu. Tanpa bisa aku pungkiri, itulah yang aku inginkan. Perkataannya begitu menghujam jauh didalam ruh ku. Kata itu semakin menambah keyakinanku untuk segara masuk dan seketika itu juga keluar dari ruang ujian, yang siang ini dengan terpaksa aku ikuti.

Dengan tetap berjalan pelan, kujawab kata-kata pram.

“ohh, memang kau binatang jalang, dari kumpulannya terbuang”.

Pram berlalu, tanpa tanggung jawab. Sebab telah berhasil mempengaruhiku kali ini. ya, sekali lagi dia berhasil.

Pram. Begitu aku akrab memanggilnya. Nama sebenarnya adalah Ramli bin Sudin. Tapi, ya, dia lebih senang dipanggil pram. Lebih kontemporer katanya.

Aku dan pram memang telah bersahabat lama, kami jumpa sejak kelas 1 SD. Lama memang. Tapi, sampai sekarang aku tak pernah tahu seperti apa dia secara pasti, manusia penuh kejutan. Bagaimana isi pikirannya. Tak tahu aku makhluk apa dia itu. Kami berdua memang sering bersama. Tapi kami sangat jarang berbicara. Apalagi menceritakan hal-hal pribadi. Jika bicara pun paling hanya khayalan, dan berdebat tentang teori dan kehidupan.

Renunganku, diatas kursi pinggir laut malam itu. Mengantarkan pada satu hal. Betapa beruntungnya aku bisa mengenal pram. Walaupun dia seperti itu. Aku banyak belajar darinya.

Namun, mari kita tinggalkan kenangan itu sejenak. Aku masih diatas laut. Menikmati indah lampu dari kelong dan kapal laut yang lalu lalang.

Mencari kata paling tepat untuk ku teriakkan malam ini. Di laut berlumpur pinggiran kota.

 

Malam,

Temaram lampu perelok pesonamu,

Ketiadaan cahaya, jadikan kau hitam pekat,

Gelap gulita.

Malam,

Tak ada ruang disebalikmu.

Aku tak melihat,

Tak dapat melihat, kemana kau telan itu mentari.

Nelayankan kembali,

Saat mentari kau acungkan lagi.

Sekali kelam, kan tetap kelam,

Sampai cahaya itu kembali,

Kepangkuan pagi.

 

~bersambung lagi~

Advertisements