Bersyair Ria

raja-ubuMemang kebiasaan orang-orang disini untuk mendendangkan syair, apatah lagi jika ingin menidurkan anak-anak mereka. Alunan kata berangkai terdengar syahdu. Mengalun lembut diantara dua kuping kecil dalam ayunan, mengantar pada sunyi malam sebelum benar-benar kelam. Syair, hikayat, gurindam. Asal tau saja, itu kata terkandung makna yang begitu dalam. Terkadang akupun kasian pada anak-anak itu, masih kecil saja harus mendengar untaian kata sulit penuh makna seperti itu. Padahal mereka mau tidur, tapi malah didengarkan syair-syair tua. Aku saja jungkir balik untuk memahami isi syair-syairnya, melankolis namun terkadang juga dapat begitu kritis

Apabila terpelihara mata,

sedikitlah cita-cita.

Apabila terpelihara kuping,

khabar yang jahat tiadalah damping.

Apabila terpelihara lidah,

nescaya dapat daripadanya faedah.

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,

daripada segala berat dan ringan.

Apabila perut terlalu penuh,

keluarlah fi’il yang tiada senonoh.

Anggota tengah hendaklah ingat,

di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki,

daripada berjalan yang membawa rugi..

Itu, berapa hal yang diajarkan oleh Gurindam 12 dari seorang yang bernama Raja Ali Haji, yang biasa menemani kami menjemput takdir diatas tilam, menuju mati suri. Diatas ayunan kecil, anak-anak melayu kepulauan riau ini biasa ditidurkan oleh emak-emak mereka. Didalam rumah panggung kayu. Dengan tiang pondasi rumah tertancap kuat kebawah laut yang penuh lumpur.

Aku pun saat kecil, sering didengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh bapak ku. Aku bukan mengarang-ngarang cerita ini, ataupun aku tau bukan karena aku sudah bisa berpikir dan mengingat kejadian, tapi bapaklah yang menceritakan kembali saat aku sudah besar, seperti sekarang ini. Anehnya, yang dikumandangkan bapak bukanlah syair-syair penuh makna khas orang melayu. Tapi malah lagu-lagu pop jadul. Pantas saja gayaku sedikit nge-pop. Dari kecil ternyata sudah disental dengan lagu-lagu seperti itu. Namun untung saja, dari pada aku dahulu disental lagu-lagu pop sekarang, terlebih lagi pop boyband. Sungguh tak rela aku jika itu terjadi. Mau jadi apa aku nanti? Sungguh keluarga yang tidak romantis.

Aku mulai tertarik dengan syair beserta anak-pinaknya, pantun, karmina, puisi, hikayat, semenjak aku mulai bisa membaca. Aneh memang, ada seorang anak wanita yang suka mendengarkan syair-syair lawas, yang maknanya susah dicerna. Tapi bagiku, inti dunia dan nasehat ada disana. Tak jarang pula, terkadang aku berteriak-teriak sendiri didalam kamar seperti orang kemasukan jin timur tengah, melantunkan syair sesuka hati. Walau aku saat itu belum paham apa yang tersirat didalamnya, tapi bagiku indah saja.

Syair, itu cara orang tua dulu menyampaikan keluh kesah mereka. Cara menyalurkan isi hati yang terkunci dan bahkan memang sengaja dikunci dan terbungkam oleh mereka pemilik kuasa. Dan karya sastra pula sering mengangkat permasalahan sosial dalam masyarakat, untuk mengkritik suara mayoritas yang menyimpang.

Remaja pula bersyair ria, bersenandung utnuk memikat hati sang pujaan hati, yang bahkan tak pernah mau mengerti dan sedikit saja menoleh pada mereka, pada makhluk durjana yang hanya pandai bermain kata-kata. Demi cinta.

***

Itu awal tentangku, awal yang aku harap tak segera menjadi akhir. jika namaku sudah kau tau, barusan ini sedikit tentang pola pikirku, dan selanjutnya kan hadir tentang fisik dan hari-hariku.

Hari ini kami berkumpul kembali. Kumpulan anak-anak jarang mandi. Terlampau sering bermain dengan api takdir, mencoba menelusuk lebih dalam tentang makna hidup yang tersimpan dibalik setiap aksara.

Berkumpul diruangan pengap, tak berkipas apalagi tempat duduk nyaman. Hanya ada satu jendela disebelah pintu depan, angin sesekali saja mengintip, menghembuskan sedikit udara sejuk dari tenggorokan alam. Dan bila malam tiba, akan sedikit lembab sebab udara yang terkekang didalamnya susah tuk keluar.

Kami berselunjur, berselancar bermain kata bersama. Satu persatu tampil. Menyampaikan otak usang kami. Barangkali karena selama ini hanya dipakai untuk suatu hal yang lampau dan mencoba melihat neumena, membuka tabir dibalik fenomena dunia. Berpikir tentang hal yang terlewatkan oleh orang kebanyakan. Kami selalu menceritakan hal-hal. Bersyair tentang hidup dalam bumi berisi manusia berakal, yang mungkin tak pernah ingin diketahui siapapun didunia ini. Jangankan ingin. Mendengar saja mereka mungkin tak pernah mau.

Khayalan pun tak pernah berada jauh dari sisi. Selalu saja muncul khayalan-khayalan baru dari kepala yang barangkali habis terkena badai otak. Membuat fiksi menjadi lebih menarik dari pada realita.

Bayangkan kawan, kami menciptakan dunia kami sendiri disini. Tanpa harus bersusah payah bergerak kesana-kemari. Tanpa harus mondar-mandir, masuk keluar kantor. Tanpa harus melakukan hal-hal membosankan. Kami sudah dapat membangaun dunia kami sendiri. Disini.

Kami menyebutnya ruang “ Kontemplasi”.

Ya, hanya sebuah ruangan apak, berisi buku-buku tua, yang sudah hampir hancur dimakan usia. Dengan sederet rak-rak kayu yang hampir saja ambruk dimakan rayap. Sebuah panggung kecil yang kamu buat disudut ruangan, untuk penampilan agung tiap seorang dari kumpulan orang aneh ini.

Sebuah kursi goyang pun tak luput, hadir menemani diluar, dan akan sering kami perebutkan. Satu persatu kami ceritakan disini. Tanpa boleh seorang diluar sana tahu. Seakan-akan sedang merancang sebuah konspirasi untuk menghancurkan dunia.

Kami akan tetap bersyair ria disini. Merenung akan cerita rakyat-rakyat kami, para manusia dibumi. Kau sudah membaca ini, jadi kumohon cukup aku dan kau yang tau, biar yang lain mengejar takdir mereka seorang diri.

~masih bersambung~

Advertisements