4177013931_416c573057_o

Sudah berlangsung selama lebih dari setengah abad negeri ini merdeka dari penjajahan secara fisik, hampir selama itu pula negeri ini melakukan banyak metamorfosa guna mencari jati-dirinya. Mulai dari pergantian Ideologi yang sudah berulangkali, sampai pergantian pemimpin yang memiliki bermacam-macam watak pula.

Mari kita mulai dari awal berdirinya negara ini, kita sudah tahu Ir. Soekarno yang menerapkan Ideologi Nasakom (Nasionalis-agamis-komunis), telah gagal menciptakan kehidupan komunal seperti apa yang diidam-idamkan oleh ideologi induknya, Sosialisme. Bahkan mereka yang saat itu sedikit saja beraroma sosialis habis di breidel saat tahun bersejarah sekitaran 1965. Dengan jatuhnya Sosialisme di Rusia, ternyata juga berpengaruh pada cabang-cabangnya di Asia Tenggara kala itu. Sosialisme yang memang nonsense secara ideologi, dimana mereka memandang masyarakat adalah kumpulan individu beserta alat produksinya, dan menginginkan hidup yang sama rata dalam satu komunal tertentu, yang segalanya dipegang oleh negara, dan tak ada hak kepemilikan pribadi, semua mutlak milik negara, telah berbenturan langsung dengan fitrah manusia yang ingin pula menginginkan sesuatu.

Bagaimana mungkin ibu-ibu kita tak boleh memiliki hak atas taman-taman bunga dibelakang rumah mereka? Bagaimana mungkin ayah-ayah kita tak boleh memiliki sumur pribadi didepan rumah mereka? Dan bagaimana mungkin seorang dokter yang menghabiskan hidupnya belajar keras, dan menghabiskan dana yang besar, barangkali akan disamakan upahnya dengan mereka yang bekerja sebagai satpam yang bersekolah rendah? Dan akhirnya ideology inipun hanya akan jadi dongeng semata. Apalagi kejadian pada saat revolusi Bolshevik. Chaos besar-besaran terjadi. Pembantaian yang dilakukan Vladimir Lenin, guna menegakkan sistem sosialisnya malah membuat kacau soviet.

Berlanjut pada zaman setelah orde lama. Ideologi yang diusung berubah menjadi kapitalisme-demokrasi yang dipimpin oleh sang mantan pangkostrad, Soeharto. Semua berjalan secara otoriter, justeru demokrasi telah mati saat itu. Bagaimana mungkin ideologi yang menjunjung kebebasan berpendapat, bersuara dan semacamnya, malah membungkam mereka yang bersuara lantang. Kita tahu Wiji Thukul tenggelam dalam pusara yang tak terlihat, wartawan Udin alami hal yang hampir serupa. Dan masih banyak lagi beberapa nama yang hilang pada masa itu, disebabkan suara mereka yang terlampau vocal, melawan kediktatoran dan tirani. Lantas dimana demokrasi itu?

Mari kita memandang dari sudut ideology, terlepas dari para pemimpin yang pernah memimpin negeri, apalagi jika kita melihat saat ini, betapa krisis dan bobroknya pemimpim-pemimpin negeri kita. Menurut hemat saya, se-superior apapun seorang pemimpin, jika sistem yang menaunginya bobrok tak akan ada artinya. Sebagai analogi sederhana, kita lihat pada analogi sebuah kendaraan bus yang sudah rusak parah, serta arah tujuan dan kemudinya sudah tak dapat lagi dibelokkan, sebab sudah diciptakan dari pabrik dengan tujuan tertentu. Sebaik dan sehebat apapun sopir yang mengendarai, maka tak akan bisa mengubah apapun. Bis yang hancur dibagian-bagian pentingnya, ban yang bocor, karburator yang kotor, dan kemudi yang tak bisa lagi dikendalikan, dan mengarah sesuai dengan penciptanya, maka tak akan mungkin lagi bagi sopir untuk mengubah keadaan yang diinginkan oleh bis tersebut.

Hal ini, sama akan demokrasi yang membingungkan bagi negeri ini, walau sehebat apapun sang pemimpin maka itu akan jadi hal yang sia-sia saja. Demokrasi yang bahkan masih jadi perdebatan diantara para filsuf, ditambah lagi oleh filsuf-filsuf besar yunani kuno, sebut saja plato dan aristoteles. Mereka menolak penerapan sistem demokrasi ini. Sedikit untuk kita ketahui, menurut aritoteles, sebaiknya, pemimpin pemerintahan adalah dia “filsuf raja”, yang memikirkan apa yang baik untuk rakyatnya, dan menerapkan itu pada sistem pemerintahannya. Aristoteles malah berpikir bahwa sistem monarki lebih layak dari pada demokrasi yang seperti dongeng ini.

Kenapa saya menyebutnya sebagai dongeng? Bagaimana tidak, coba saja kita pikirkan bagaimana mungkin semua orang didunia ini punya kebebasan yang sama, semua berhak melakukan apa saja yang menurutnya baik. Tentu ini akan melahirkan kerusuhan besar nantinya, dan melahirkan ketimpangan nilai-nilai moral dan sosial. Ditambah, semestinya dalam memutuskan sebuah kebijakan dalam demokrasi, seluruh rakyat mesti turut serta dalam forum. Lantas, dimana dan kapan hal ini telah dan dapat terjadi? Sungguh utopis bukan. Sebisa-bisanya hanya akan melahirkan sistem oligarki, dimana hanya sebagian orang saja yang punya kuasa untuk memimpin negara ini. Dan itu telah tampak pada negara ini beberapa puluh tahun belakangan.

Ide-ide dasar dari demokrasi dan sosialisme memang telah gagal sejak dalam pikiran, dan memang pantas jika dalam penerapannya membuat kegaduhan disepanjang abad selama ia berdiri. Selain dengan argumen bahwa ide ini rusak sejak dalam kandungan. Khusus bagi muslim, kedua ide tersebut bertentangan sama sekali dengan Akidah seorang muslim. Dimulai dari akar ide sosialisme, dimana bentuk sistem mereka berawal dari pandangan hidup bahwa seluruh alam semesta berasal dari materi, hingga kebijakan-kebijakan yang lahir semata-mata sebab perubahan materi, bukan lagi keputusan dari Allah Yang Maha Kuasa. Konsep dasar demokrasi pula bernegasi dengan konsep dalam islam. Yakni, kedaulatan dalam demokrasi berada ditangan rakyat, padahal dalam islam kedaulatan tertinggi berada ditangan hukum syara’ yang diturunkan oleh Allah. Konsep dasar demokrasi semacam ini hanya akan membuat kita menimbang-nimbang hukum Allah, mana yang sesuai dengan kehidupan kita saat ini dan mana yang tak cocok lagi, hingga kita merasa kita lebih tahu daripada Tuhan. Padahal sebaliknya, kita mesti menyesuaikan kehidupan kita berdasar apa yang diturunkan Tuhan.

Konsep pemerintahan islam sendiri, sederhananya kekuasaan dipegang oleh seorang pemimpin yang dipilih oleh rakyat dan kedaulatan dihukum syara’, dimana pemimpin akan menjalankan hukum-hukum tersebut pada masyarakat. Hingga kemungkinan untuk terjadi perselisihan pemikiran diantara masyarakat dapat diredam. Karena ego kita sebagai manusia akan ditundukkan oleh hukum yang diturunkan oleh Allah.

Sebagai analogi akhir. Sebuah wadah yang kotor, bagaimanapun bersihnya air yang masuk, maka akan tercemar oleh kekotoran wadah. Maka air yang bersih membutuhkan wadah yang bersih pula untuk menciptakan kehidupan yang bersih.

Kini, kita tak hanya membutuhkan pemimpin yang bersih, tapi kita juga membutuhkan sistem yang bersih, yang mampu menjaga kebersihan masyarakat kita.

[Galah]

Advertisements