1125777-_the_death_mask__by_blue_moon402

“Aku mulai mengerti mengapa hantu-hantu itu begitu suka melolong dan menjerit. Itu bukanlah untuk menakut-nakuti keturunan mereka. Melainkan, karena mereka begitu kesulitan bernafas dalam waktu yang bukan waktu mereka.”
— Jostein Gaarder

 

Jauh sebelum kami mengenal Tuhan secara hakiki. Tak kenal kami akan Dia, sunyi senyap walau kami tetap membungkuk dan menunduk. Tuhan bagi kami hanya tempat pelampiasan, tempat lari saat dunia mengucilkan. Tapi, jika dunia kembali dalam genggaman, kami lupa. Kami lupa siapa kami, lupa akan Tuhan.

 

Namun itu dulu, saat kami hanya berupa onggokan daging penuh kebodohan. Sekarang kami sadar Tuhan bukan hanya tempat sesembahan. Tuhan tak sekedar tempat melepas lelah akan dunia. Tuhan bukan sekedar ruang sunyi, tempat kami melarikan diri dari riuh-rendahnya dunia. Bosan sudah kami menjadi binatang ternak yang tak pernah paham.
Bosan menjadi binatang sosial, kata mereka. Yang hanya sibuk mencari keanggunan dunia. Menata hidup dengan cara kami sendiri. Tuhan lebih dari apapun yang dapat kami pikirkan, jauh dari apa yang bisa kami bayangkan. Itulah Tuhan.
Jika dan hanya jika kami dapat hidup, semata-mata itu kehendak Tuhan. Lantas? apa yang bisa kami banggakan dari hidup?
Kami kembali pada semaraknya dunia. Kami hanya peduli pada diri kami masing-masing. Kami sudah kenal Tuhan, tapi kenapa rasa-rasa seolah tak kenal juga. atau kami hanya sekedar kenal namun tak pernah merasa sayang dan cinta pada_Nya?
Iman kami kembali dipertaruhkan. kembali jadi bulan-bulanan.
Mereka, pemimpin kami, bersumpah atas nama Tuhan. Berjanji akan mengurus kami. Tapi tidak dengan cara Tuhan. Pemimpin kami terjerumus dan menjerumuskan. Dengan kuasa, mereka memaksa dan kami dipaksa melupakan Tuhan, jika tak begitu kami benar-benar akan melarat. Kami akan asing dengan keramaian.

vox populi vox dei. Suara rakyat, suara Tuhan. Mereka mengangkat diri sebagai Tuhan. Hebat, memang hebat benar kami. Apa yang kami putus bersama, sederajat dengan Tuhan.
Kemana perginya kata-kata manis itu, bahwa kami mengenal Tuhan? entahlah.
Entah Tuhan yang mana satu yang kami kenal. Pesta mereka sebentar lagi akan bermula, memilih salah satu dari kami sebagai penjalan keinginan Tuhan, keinganan rakyat kami. Kami benar-benar telah buta. Buta karena kuasa dan buta bahwa kami bukan Tuhan. Kami tak berhak mengatur sendiri diri kami. Tapi kami lupa itu. Kami memang kenal akan Tuhan. Tapi ternyata, kami belum paham, belum sayang dan cinta, hingga mengikuti semua kata Tuhan.

#DEMOKRASI IS DEAD

“Jika kemudian sang waktu menjadi pengingat, maka suatu hari nanti, kita akan menganggap segala yang terjadi hari ini, dan semua yang kita yakini, tak lebih dari kenangan masa lalu yang selalu bisa diam-diam kita tertawakan.“
— Maradilla Syachridar

Advertisements