384978_236848506384185_221525687916467_580111_1381465024_nAngin semilir

Hembusan memaksa dan menekan angin untuk bergerak lebih cepat. Berbondong-bondog awan saling mengejar satu sama lain, seolah berlomba siapa yang sampai ketujuan lebih awal dari pada yang lain. Berangkat dari barat ke timur. Ntah apa yang hendak dituju awan-awan putih ini. Ingin rasanya bertanya, menarik mereka sebentar, dan mengajaknya ngobrol menemani ku menikmati semilir angin pagi. Tapi sudahlah, mereka tak mungkin mau, mereka terlalu tinggi untuk ku gapai.

Awan satu level diatas bergerak sangat lamban dari terlihat. Tapi ntah lah jika sebenarnya. Sebab sangat jauh barangkali, lantas terlihat tak bergerak, terseok-seok, seakan-akan tak mau beranjak dari posisi awalnya. Masih ingin menikmati keindahan posisi tidur telentangku, yang sedang menikmati putih mulusnya dia. Mungkin karena itu sang awan tak hendak beranjak pergi.

“Wain fradimi”, itu nama ku, yang sengaja diberi ayah waktu aku lahir. Ya, untung dia tidak telat memberi ku nama. Andai saja telat, barangkali aku akan memberi namaku sendiri, sesuka hati, sebab aku kurang suka dengan nama ini.

Kata ayah, nama ini serapan dari bahasa inggris. “wain” berasal dari kata “wind”. Karena “wind” jika dibaca menjadi “wain”, dia memutuskan nama depanku wain. Dan fradimi diambil dari plesetan kata “freedom”. Memang aneh-aneh saja orang tua itu.

Nama ku secara bahasa akan menjadi sebuah angin yang bebas. Barangkali ayah ingin aku menjadi seorang anak yang seperti angin. Bebas pergi kemana pun dia mau. Kadang bisa menjadi sangat lembut dan bisa membelai setiap orang yang dilaluinya. Menjadi pemutar kincir, menjadi manfaat bagi siapapun. Semilir angin yang membawa keindahan serta keharmonisan jika dinikmati.  Namun, bisa menjadi sangat garang dan merusak apapun yang dilalui. Dapat meyengsarakan jika berubah menjadi puting beliung. Menjadi angin muson, apatah lagi Menjadi tornado. Dia bisa mengangkat sesuatu yang bahkan tak dapat diangkat oleh mesin tercanggih sekalipun. Angin kadang kala dapat menjadi bencana. Dengan filosofi inilah , jalan hidupku sedikit banyak terpengaruhi. Dan lama kelamaan, sedikit demi sedikit aku mulai senang dengan nama itu.  Walaupun awalnya aku bertanya-tanya. “ nama aneh apa ini?!!”. Tapi ternyata ayah ku sangat jenius, nama ini sungguh indah nan berfilosofis. Terimakasih ayah.

Walaupun namaku berarti angin, aku bukanlah anak yang berasal dari negara angin. Negara yang berhasil dihancurkan oleh negara api. Sudahlah aku tak berharap ini menjadi cerita fantasi. Jangan paksa untuk menceritakan hal ini, walau hanya sedikit.

Bunyi jangkrik menambah keelokan tarian angin diatas sana, seolah-olah, jangkrik menjadi penabuh gendang, dan angin menjadi penari yang mengikuti tabuhan gendang sang jangkrik.

“krikkkkk, kriiikk”. Keterlauan sekali si jangkrik. Tambah merasa kasian aku pada tubuh ini untuk digerakkan. Biar sajalah ia tetap rebah ditempat peraduannya. Diatas kursi kayu ibu warung. Tanpa peduli orang lalu-lalang. Biar mereka lihat, aku akan tetap dengan angin dan nyanyian jangkrikku. Telentang dibawah langit cerah, dengan semilir angin membawa kedamaian.

“Hey ! anak perempuan kok tidur terlentang gitu sih?! duduk yang benar gi”.

Aku biasa dipanggil gigi, mungkin karena gigi gingsul yang aku miliki. Hadiah dari sang pencipta. Agak tersinggung memang, jika dipanggil dengan nama itu, tapi ntah kenapa aku lebih memilih ini, ketimbang mesti dipanggil dengan nama wain. Lebih kepada nama minuman keras. Memalukan jika dipanggil begitu. Dirumah pun aku biasa dipangil dengan gigi. Walaupun awalnya nama kecil ku dulu adalah rara. Diambil dari fradimi. Agar gampang diucap jadi rara.

Namun, setelah aku menginjak kelas 3 SD, aku mulai dipanggil dengan nama gigi, sebab salah satu gigiku, dengan tanpa komando dan aba-aba, maju dan keluar sedikit kedepan tanpa aku perintah.

“Ahh, biar lah bu, lebih seru seperti ini. asyikk.” Jawab ku ketus, “biar mereka lihat aku ini, siapa tau mereka ikut mencoba. Andai saja mereka tau begitu nyamannya posisi seperti ini”

“Hmm, suka-suka kamu aja deh gi. Awas jangan terlalu ngangkang kamu!”. Perintah bu waginem padaku, seolah-olah aku adalah budak peliharaannya.

Terdiam aku mendengar perintah ibu, malas mau menjawab dan malas mau bicara. Andai saja tiap perintah yang dijawab dapat bayaran tentu aku akan mengubah pikiranku dengan segera, sayangnya tidak begitu kenyataan berlaku.

Hampir aku lupa pada angin siang ini, tiba-tiba sebuah pohon tumbang kira-kira berjarak 20 meter dari tempat ku berbaring. Bukan main ribut itu orang-orang kampung. Hampir-hampir seperti konser, aku yang tak tau apa-apa dan tampak naif, hanya bisa melihat dari kejauhan, dan masih juga dikursi itu. Tak ingin rasanya badan ini beranjak sedikitpun. Ingin rasanya membantu, tapi apalah daya, bukannya kasih tak sampai , atau seperti punuk merindukan bulan, yang tak mungkin melakukan hal itu. Tapi, aku merasa tak rela saja badan kecil ini harus melakukan aktifitas yang bukan tugasnya.

Orang-orang kampung bekerja sama. Gotong royong bahasa tenarnya. Memotong batang pohon agar benar-benar lepas dan pergi jauh dari kakinya. Sebab jika ia tetap disitu, akan banyak kendaraan yang tak bisa lewat. Entah ada yang terburu-buru mengantar anaknya pergi kesekolah, bergegas mengantar pesanan, atau pun sekedar ingin menyetor isi perut. Tidak layak sepertinya dan tidak etis, jika itu orang harus membuang hajatnya, yang menjadi panggilan alam itu dibawah pohon tumbang. Akan terlihat aneh, seperti orang minta ilmu hitam, masang sesajen disekitar pohon.

Ya, angin semilir dikampung kami, tiba-tiba menjadi angin berhembus kencang, menjadi begitu garang. Dalam sekejab, meruntuhkan dan membanting ketanah pohon yang telah tegak berpuluh-puluh tahun.

Angin, jangan kau tiup aku, aku terlalu kecil. Biarkan aku tetap ditempat ini. merasakan kelembutan mu yang murni, yang membawa awan-awan cerah menuju jalan nya. Biar kan aku disini menikmati belaian mu.

~bersambung~

Advertisements