Blue_Wildebeests_at_Sunrise_Masai_Mara_Kenya

Kota kecil ku

Langit jingga diujung timur sana, kembali dengan gelombang awan dan kabut tipis hasil kepulan dapur para ibu dilembah-lembah kecil. Udara sejuk menambah hangatnya kopi pagi ini. laut pun mengombak dengan tenang tanpa riak sedikit pun. Burung bangau terbang rendah tak tahu hendak mendaratkan tubuhnya didataran mana. Sekarang masih pukul enam pagi.

Pagi ini, para orang tua sibuk menemani anak-anak mereka, berbelanja ketoko buku. Sebab, libur sekolah kan segera berakhir tak lama lagi. Ya hari senin nanti hari berleha-leha tertunda dan akan kembali tahun depan. Sekarang waktunya rutinitas dimulai.

Jalan menanjak dan menurun ini akan kembali menjadi makanan kami sehari-hari, menemani kami menuju tujuan masing-masing. Entah pergi kesekolah, kantor atau pun sekedar untuk berkeliling menikmati indahnya kota. Hari melelahkan ini akan kita mulai, sekali lagi.

Jalan setapak dibelakang rumah akan kembali tergenang air, tanah berwarna merah menyimpan bauksit itu kembali becek oleh guyuran hujan yang mulai turun perlahan dan akan semakin lebat dengan berjalannya waktu menuju musim hujan.

Dengan ikhas menikmati hari, dengan jadwal-jadwal sekolah yang makin lama tampaknya semakin membosankan. Teriakan tukang tape setiap pagi, terkadang pun ada teriakan tukang air tahu melewati gang rumah, menambah kebosanan dan kejenuhan ini. Kehadiran para penjual ini yang tak selalu sama, terkadang saja tak sengaja muncul bersamaan, membuatku selalu bertanya, “Tak bosankah mereka dengan pola?”

“Tapee, tapeee, tapeee~~.” Begitulah sekiranya cara bapak tape menawarkan barang dagangannya. Sambil mengayuh sepeda ontel yang sudah berkarat, dengan dua keranjang anyaman bambu sebagai wadah menyimpan tape dibagian belakang sepedanya. Tak pernah sedikit pun terpikir untuk menawar harga atau meminta diskon dari si bapak , agar menjual tape yang rasanya asem sedikit kecut itu, sedikit lebih murah. Kasihan si bapak , sudahlah harus mendayung sepedanya mengelilingi setiap penjuru kampung, ditampah pula penderitaannya dengan harus menjual dagangan dengan harga lebih murah.

***

Pagi disekitar tepian laut kota pelabuhan itu pun mulai tampak ramai dengan berjalannya waktu menuju siang. Ombak yang awalnya tenang, kini sedikit demi sedikit mulai beriak. Hujan rintik-rintik mulai membangunkannya, disertai dengan kecipak kaki anak kecil dipinggir laut, ditambah lagi dengan mulai beraksinya ferry-ferry kecil yang mondar-mandir pulau Bintan-Batam. Yang dengan setia, sejak aku kecil hingga sekarang, mengantarkan penduduk-penduduk sekitar menyebarangi dan melintasi lautan. Dan terkadangpun mesti mengantar jauh kepulau dan daerah lainnya. Pekanbaru di Riau daratan, tanjung balai, selat panjang, dan lobam. Itu bebarapa tujuan yang biasa ditempuh olehnya.

Disisi lain, anak kecil itu masih meliuk-liuk seperti ulat bulu hendak naik daun. Ntah apa yang dipikirnya. Kekanan-kekiri tubuh kurus itu ia sentil-sentil. Menendang setiap sudut kamar kecil, bukan kamar kecil buat buang air kecil. Tapi hanya kamar tidur yang berukuran kecil, ya bahkan sangat kecil untuk ukuran manusia biasa.

“Kruyuk-kruyuk-kruyuk…”.

Ini bukan suara ayam jago yang sedang kena goreng, apalagi bunyi nada sambung telpon genggam yang minta di isi ulang, hanya nada sumbang hasil gaya peristaltic dari perut yang tampak seperti busung lapar. Kasian benar anak kurus itu. Sudah lah kurus sebab tak ada yang hendak mengurusinya ditambah lagi mata bulat menonjol seakan-akan mau keluar dari rongga mata, menambah kesenduan dan ketidaksejahteraan anak ini. Coba saja ada yang menggemukkannya, tentu anak itu lebih gemuk dari tampangnya yang biasa. Tapi sudahlah itu salah dia kenapa tidak rajin makan.

Karena merasa perutnya tak dapat lagi berkompromi lebih lama, diputuskanlah. Bahwa dia harus keluar dari kamar apek serta berbau seperti gudang penjemuran pakaian dalam yang sudah 3 minggu tidak diangkat-angkat oleh tuannya. Setelah berbincang, menimbang , menganalisa bersama dengan cacing-cacing perut. Akhirnya diputuskan, pagi ini mereka, yakni dia beserta cacing-cacing peliharaannya akan makan  mie rebus.

Terputuskan juga untuk sarapan indomie telur, diwarung sebelah kost-kostannya. Niat keluar dari kamar hanya sekedar sarapan dengan ditemani oleh secangkir kopi hangat. Tapi, ya lagi-lagi hanya sanggup dengan segelas air putih rebusan si ibu penjual. Ahhh, sialnya, uang bulanan belum diambil.

Sarapan yang dimulai sekitar pukul 10-an ini lumayan berjalan lancar, dan sedikit banyak berjasa menegakkan kembali tubuh kecil wanita mungil itu. tak terlalu mungil juga, tak seperti liliput atau pun tuyul. Yaa, sekitar 150cm lah. Cukup untuk berenang dikolam orang dewasa sambil jinjit dan berpegang dengan kepala temannya untuk ditenggelamkan.

Pertemuan ku dengan wanita ini bermula diwarung kecil ini. yaa, diwarung kecil ini. Diwarung ibu waginem, ibu perantau yang beruntung bisa tersesat dipulau kecil antah berantah diujung semenanjung Melaka. Wanita kecil itu yang akan bercerita nantinya. Ya, dari sinilah akan diceritakan semua kisah. Dari tempat ini, tempat terawal yang pernah dan sanggup tuk diingat. Warung ditepian, yang langsung menghadap ke anjungan, pintu belakang yang langsung menunjuk kearah laut cina selatan. Disini lah segala hal akan bermula untuk diceritakan. Ya, barangkali.

~Bersambung.

Satu dari Kumpulan Utuh.

Advertisements