black-and-white-night-photography-3Tentang asa yang tak kan pernah pudar, tentang mata yang kan terus melihat, tentang telinga yang kan selalu mendengar, akan rasa yang tak pernah mati, serta tentang akal yang tak kan pernah bosan selalu mencari.

Semua lahir dari apa yang kami sebut sebagai tabir tersembunyi, satu hal yang membawa umat manusia muncul kedunia seperti sekarang. Sebuah selir yang melatarbelakangi segala sesuatu yang kami lakukan. menengok kebelakang tirai kehidupan, sebelum kami bicara tentang manusia dan seisinya.

Mencoba selami serat-serat tiap darah manusia, membaca pikiran tanpa mesti mereka lisankan. Menjadi bijak, tak memvonis sebelum menyelami dan terkubur bersama dalam pedalaman jiwa-jiwa mereka. Manusia terlalu kompleks untuk kita derai satu persatu. Tak kan cukup waktu menggambarkan semua jiwa dalam satu raga. Tapi kita bisa mencari satu jiwa dalam dua raga yang terpisah.

Ya, mereka yang aku sebut sebagai sahabat, sahabat dialam dunia. Tak membicarakan tentang sabahat sejati berupa amal, bekal setelah mati. Namun, hanya bercerita tentang manusia yang mampu bersama tenggelam dalam satu jiwa saling mengerti.

Aku memang tak miliki banyak teman, terlebih lagi sahabat. Bukan karena kami tak membuka pintu, namun bagiku, jumlah tak berpengaruh pada kualitas yang ingin dicapai dalam sebuah ikatan. Teman bertegur sapa, berlalu lintas dalam hidup, datang dan pergi, sebanyak apapun yang kami bicarakan, tak berarti menandakan mereka tahu pedalaman kami satu dan lainnya. Asa yang berada jauh tenggelam dijiwa sana, hanya bagi mereka yang mengetuk dengan sopan, dan sanggup menerima apapun konsekuensi selanjutnya, tanpa menimbang apa-apa lagi kelemahan dan kelebihan kami.

Kami punya satu rasa, yang tak kan mungkin hilang dan musnah. Tak pernah mengutuk sedikit pun akan rasa yang tumbuh, tak menyesali atas semua yang ada. Sebab rasa tercipta, bawaan orok yang akan kami bawa sampai mati, yang membuktikan kami adalah makhluk lemah lembut penuh perasaan.

Dalam persahabatan, tak sedikit dari kita yang menyandarkan ikatan dalam sebuah perasaan yang mendayu-dayu, Pada singgungan ribuan gejolak membatin. Rasa yang wajar, rasa yang tak miliki salah secara harfiah. Namun, semua ikatan itu dapat hilang, bahkan dengan sangat mudah. Saat rasa merasa tak lagi saling memiliki, semua akan sirna kala rasa tak lagi satu. Saat kepentingan satu dan lainnya berbenturan dengan sangat keras, tunggulah semua akan terburai dengan indah, terlepas dari rantai-rantai kehidupan. Dan yang tinggal hanya sunyi, bernyanyi dengan senyap, menunggu mati seorang diri. Itu ikatan teman atas dasar hanya perasaan. Itulah tabir dari nilai kedekatan tiap manusia dibumi.

Melihat tabir, mengintip belakang panggung dari fenomena. Mengubur diri dalam realita, menggali tiap apa yang terpendam didalamnya. Mengajarkan aku satu hal, bahwa manusia tak seperti apa yang kita lihat dari luarnya saja. menundukkan akalku agar tak cepat memvonis apa yang keluar dari tubuh-tubuh rapuh itu.

Anggaplah kita menemukan seorang anak kecil yang tengah mengemis diperempatan jalan, mengais rezeki dengan cara yang hina. Sebagian dari kita barangkali akan ada yang iba, dan memberi beberapa receh. Sebab perasaan itu disentuh secara tak langsung dengan kepiluan. Tapi tak jarang pula dari kita yang mencoba memvonis dengan membati buta. Jika tak keluar langsung dari kerongkongan, akan ada gerutu dalam hati.

“Bapaknya kurang ajar, anak sekecil itu disuruh ngemis”

“Ngapain ngasih receh, paling nanti juga dipake buat beli lem”

Dan berbagai macam gerutu mulai terbias dari jiwa mereka, tanpa sempat lagi mencoba sedikit mendalami apa yang sedang terjadi dalam tubuh-tubuh kecil itu. melihat tabir, penyebab dari segala realita. Melihat alasan dari segala apa yang mereka, bocah-bocah kecil itu lakukan sebenarnya. Kita menutup mata, dan tenggelam dalam curiga, terpasung prasangka buta.

Contoh kecil dari mulai pudarnya kebijakan yang kita miliki, sebagai manusia yang miliki akal. Akal yang mestinya jadi kerangka awal bagi kita menelaah setiap kejadian yang berlaku di alam penuh manusia ini. Keengganan kita untuk menempati diri sebagai bagian dari jiwa yang sedang kita lihat, sebelum menjatuhkan vonis pada satu pribadi tertentu. Ketakutan kita rasuki jiwa-jiwa yang melontarkan atau melakukan suatu hal buruk, tapi kita begitu berani menghukumi apa yang mereka lakukan dengan respon secepat kilat.

Begitulah, setidaknya menurutku bagaimana cara kita mencari jiwa yang satu dalam dua raga yang terpisah. Sahabat akan kita temukan, jika kita menemukan orang yang akan mencoba menyelami pedalaman kita, merasuki hati, mencoba bersetubuh langsung dengan alam pikir kita. Mereka yang akan menjadi orang paling berani, berada digarda terdepan, saat orang lain menjatuhkan kita. Saat mereka hanya melihat realita yang kita lakukan, sahabat akan berada disetiap sisi. Dari belakang, depan, kanan, kiri, dari segala penjuru. Membela, sebab ia tahu benar apa yang sebenarnya ada dipikiran kita. Ini lah satu jiwa dalam dua raga yang terpisah. Ia telah menemukan tabir dibalik setiap realita. Saat seperti inilah yang sebenarnya dinantikan oleh bocah pengemis tadi. Ia ingin beteriak bahwa ia mengemis sebab tak ada lagi tempat ia bersandar, semua sudah tak lagi perduli, kedua orangtuanya telah bersemayam dibalik tanah, saudara tak punya. Dan tak ada perhatian dari siapapun, tak ada yang menerimanya untuk bekerja. Lantas? Hanya mengemis yang ia bisa. Tabir terbuka, dan mereka yang memvonis hanya akan mengangguk-angguk, berdecak, kemudian pergi, hilang. Merekalah yang kusebut sebagai hanya teman, manusia bumi yang bergandengan hidup dengan kita ditanah yang satu, berpijak pada bumi yang sama. Tapi, dunia mereka sungguh berbeda, mereka berada dalam jiwa dan akal yang terpisah begitu jauh.

Namun sahabat, mereka akan datang, memeluk, berkata.

“Aku disini, kita berada dalam satu jiwa. Kau yang terluka, aku yang berdarah. Kau tersakiti, aku yang tak dapat bangun. Kau tuli, aku yang tak mendengar. Kau buta, aku yang tak melihat. Kau sendiri, aku yang sunyi. Kita, satu jiwa dalam dua raga”.

Akhirnya ini yang aku sebut sebagai neumena dibalik setiap fenomena. Dari sudut pandang persahabatan yang aku inginkan. Kala teman datang memberi bumbu untuk memasak, kau sahabat datang kedapur membantuku mencucikan semua kotoran didapur.

Kala teman datang dan pergi berbagi cerita tentang mereka. Ditengah malam kau datang hanya untuk mendengarkan celotehku.

Persahabatan yang diprakarsai oleh jiwa dan akal yang sama, saling menyelami pedalaman satu dan lainnya. Menelisik jauh sebelum kata kehilangan tenaganya. Mari berbijak-bijak dalam keadilan menilai. Adil sejak dalam pikiran.

Jogja, 4 November 2013

Advertisements