27

Meninggalkan sarkasme untuk sementara waktu. Sedikit penjelasan mengenai sarkasme, sebab memang jarang sekali istilah ini muncul dalam setiap pembicaran. Menurut wikipedia , Sarkasme adalah suatu majas yang dimaksudkan untuk menyindir, atau menyinggung seseorang atau sesuatu. Sarkasme dapat berupa penghinaan yang mengekspresikan rasa kesal dan marah dengan menggunakan kata-kata kasar. Majas ini dapat melukai perasaan seseorang.

Sebelumnya pernah saya menulis sebuah tulisan yang berjudul “Mayat Hidup”. Dalam tulisan tersebut saya mencoba menggunakan bahasa sarkasme guna menyindir dan menyinggung sebuah pemahaman, bukan sebuah organisasi, institusi apalagi pribadi tertentu, tidak sama sekali.

Hanya sebuah keresahan, kejenuhan atas sebuah realitas yang benar adanya. Penjelasan yang lebih lunak barangkali dibutuhkan untuk menceritakan kembali apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Sarkasme mungkin memang tak cocok untuk sebagian orang, tampak kasar, kurang ajar, jika itu yang dirasa dari tulisan saya sebelumnya, maka ajarkan saya, agar saya tak lagi kurang ajar. Atau jika realitas itu memang tak ada, artinya memang saya yang pandir, “sok superior”, tapi jika ada yang tersinggung dan marah dengan tulisan itu, malah saya merasa tambah khawatir dan curiga, malah bisa jadi realita itu benar dan tersebar tanpa kita sadari.

Dalam “Mayat Hidup”, saya mencurahkan kegelisahan atas realita pemahaman yang saya jumpai, bahkan saya sendiri merasakan menjadi seperti itu sebenarnya. Lebih mudahnya, loyalitas, kesetiaan kita terhadap sesuatu hanya timbul dan muncul dari sebuah sistem yang menundukkan kita, atau mandat dari orang tua dan seorang petinggi. Memang tak tampak memaksa, namun dengan tanpa sadar kita terpaksa mengikuti walau awalnya kita tak ingin. Hanya sebab lingkungan sekitar menganut sebuah pemahaman tertentu, maka kita agar tak “malu” dan merasa “terasingkan”, juga memilih menjadi salah satu dari mereka. namun sekali lagi, itu bukan dari sebuah kesadaran bahwa kita menganut paham yang satu itu sebab akal kita yang terpuaskan dan memang dengan sadar menginginkan, namun tak lebih hanya karena lingkungan yang menggiring.

Sebagai contoh, masyarakat dalam dunia demokrasi. Mereka tidak dipaksa secara langsung, tak ditodong senjata untuk mengikutinya. Tak tampak paksaan secara langsung, tapi apa bisa kita mengatakan demokrasi tak memaksakan kehendak dan pahamnya untuk masuk kedalam benak masyarakat muslim kita? Tidak, bukan?

Nyatanya, mereka memaksa kita, menggiring kita secara tak sadar. Dengan menggunakan sistem pada negara, lewat segala segi, demokrasi dengan perlahan menjadikan sebagian masyarakat kita menjadi penganut-penganutnya. Alasannya bisa banyak, salah satunya bisa sebab lingkungan sekitar yang memang sudah membenarkan paham ini, sudah menjadi kebenaran bagi mayoritas dan tak bermasalah serta tak bertentangan dengan keislaman mereka. Orangtua dan petinggi-petinggi mereka sudah menganut sebuah paham tertentu, maka mereka pun terpaksa mengikuti.

Bisa pula layaknya kerajaan atau sistem monarki, dimana rakyat hamba sahaya mesti, mau tidak mau mengikuti raja dan petinggi-petinggi mereka, ditempat dimana mereka berdomisili.  akhirnya, loyalitas mereka pada demokrasi dan kerajaan pun bisa bangkit, bangkit sebab terjebak sistem dan perintah, bukan atas kesadaran dan pencarian mereka bahwa demokrasi atau perintah raja itu benar, bagus dan terbukti memuaskan akal. semua tak lebih karena terjebak opini saja dan ketundukan. Dengan pemahaman semacam itu, hanya kan melahirkan loyalitas yang lemah, hanya sebatas mengikuti mayoritas, atau sebab masih memiliki kepentingan pada demokrasi saja. namun saat mayoritas berpindah paham, atau karena tak lagi miliki kepentingan pada raja-raja, maka demokrasi dan kerajaan akan ditinggalkan.

Sama halnya dengan sebuah organisasi atau lembaga lainnya. Akankah kita seperti halnya penyebaran demokrasi dan paham raja seperti diatas. Organisasi yang menundukkan loyalitas massanya dengan sistem dan perintah mutlak sang raja?

Andai sebuah loyalitas itu memang lahir dari sebuah kesadaran, pencariannya dan usahanya memang untuk mencari kebenaran, tanpa mengikuti sang raja atau terjebak dalam sebuah sistem, loyalitas bisa bangkit dan terpegang erat. Kita bisa saja menawarkan mereka, ya sekedar menawarkan, dan berdiskusi, bukan memaksa mereka dengan secepat mungkin mesti sepaham, dan menuruti aturan-aturan yang kita punya dengan segera. Mereka manusia, biarkan mereka berpikir sendiri, mencari kesana-kemari sampai mereka benar-benar menemukan paham yang sebenar-benarnya.

Mestinya kita iri pada saudara-saudara kita yang masuk kedalam islam dengan pencarian mereka, menelusuk kepedalaman hati mereka sendiri, bergelut dengan bermacam pemahaman tentang ragam agama didunia. Sebenarnya ini memang tak terlalu penting bagi sebagian orang, sudah beruntung kita didalam islam, atau diajarkan sebuah paham tertentu, dan sudah terbukti benar -setidaknya menurut pemikir- bukan karena pikiran kita sendiri. tapi itu semua hanya akan melahirkan sebuah kesetiaan yang tak kuat. Lain hal jika mereka benar-benar menemukannya sendiri.

Untuk apa yang kita lakukan dihadapan umum nantinya bersama-sama dengan sebuah organisasi, setidaknya tiap pribadi yang turut serta tau kenapa kita mesti dihadapan umum dan membawa opini tertentu, alasan yang menjadikan kita benar-benar mesti melakukan hal tersebut. Bukan kita berpendapat dan taklid buta sesuai dengan pendapat orang lain, tanpa kita tau kenapa kita berpendapat seperti itu.

Sebenarnya, loyalitas yang hadir dari kesadaran itu hanya untuk menjelaskan bahwa kita memiliki sebuah otoritas, bukankah Allah juga memerintahkan pada kita untuk memeriksa terlebih dahulu kabar yang datang pada kita. Bukan dengan menerima mentah-mentah apa yang sampai. Saat orang-orang langsung berkata “iya” tanpa memeriksa dulu ketika disodorkan sesuatu, kita bisa mengatakan “tunggu, aku pikirkan dulu”. Saat orang langsung pergi, kita akan berkata, “sabar, aku persiapkan dulu”. Inilah yang dinamakan eksistensi. Bukti bahwa kita manusia, bahwa kita itu ada sebagai seorang pribadi. Bahwa kita berpikir. Ditambah lagi, bukankah kita takut menjadi ibarat keledai-keledai yang membawa tumpukan ratusan buku diatas punggung, tapi tak pernah tau kemana akan diejawantahkan, digunakan apa yang kita punya.

Adapun hal mengenai agama, lain yang berlaku. Jika inti agama telah terpecahkan, maka ketundukan mutlak mesti kita persembahkan. Agama hanya membutuhkan sedikit akal diawal dan sisanya adalah kepatuhan . Namun, dalam organisasi dan hal yang bersifat administrative, uslub serta ilmu, apakah dibutuhkan kepatuhan mutlak pula? Bukankah kita masih berhak memeriksa kebenaran dan kepantasannya untuk masuk kedalam diri kita, dan menjadikannya hal yang mengikat kita. Bukankah masih bisa kita ubah dan membantu memikirkan hal yang terbaik. Walaupun dengan hal yang terkecil sekalipun. Saya ingin “berpikir dulu”, bukan berarti saya tidak setuju dan tak ingin ikut dalam barisan, atau sebab saya merasa superior dan tak ingin diperintah, sama sekali tidak. Saya hanya ingin membuktikan eksistensi sebagai makhluk berakal, dan bukan berarti pula saya tak butuh guru.

Menyebut mereka sebagai robot, adalah majas yang digunakan untuk mereka yang tak mau berpikir dulu. Main langsung saja, “grapa-gropo”, hingga otoritas mereka sebagai makhluk berakal hilang. Itu sindiran bagi mereka yang berpaham ikut-ikutan saja, pragmatis, taklid buta pada pimpinan. Jika tak merasa taklid buta, ya tak mengapa. Santai saja. ini hanya untuk mereka, yang menurut saya, ada didalam realita dunia.

Ini hanya sebuah kegelisahan pribadi dan kegundahan jauh dipedalam jiwa saya. Hanya butuh dituangkan, dan berilah saya selalu masukan. Terkadang memang merasa jumawa, memang bodoh, terasa superior, tapi setidaknya itu saya sebagai manusia, bukan malaikat. Hanya ingin melihat kita semua melahirkan loyalitas atas dasar pilihan kita sebagai manusia yang memiliki otoritas dan mampu berpikir, tak lebih dari itu. bukan untuk menjatuhkan seseorang ataupun intitusi tertentu.

Ini mungkin terlihat bodoh dan sombong, tapi memang terkadang manusia memang seperti itu. orang yang tak tahan kritik sungguh sebenarnya tak pantas berada didepan, setidaknya menurut saya. Kritik akan terus membangun, otokritik kedalam dan keluar, yang masih dalam koridor yang diperbolehkan. Saya masih berpikir sebab saya merasa ada, dan saya sayang pada paham-paham yang berkembang dan bahkan sampai saat ini saya pegang, saya merasa perlu pula untuk ikut mewarnai, setidaknya dengan cara saya sendiri.

Jangan taasub pada seseorang guru atau tokoh, karena kebenaran tidak ada kaitan dengan kehebatan peribadi seseorang.

Allah SWT telah berfirman dalam al-Quran dengan menyebut ;

نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مّن نّشَآءُ وَفَوْقَ كُلّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“Kami tinggikan darjat sesiapa yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang alim itu ada lagi lebih mengetahui.” [Yusuf :76]

Kata Imam Hasan al-Basri Rahimahullah,

ليس عالم إلا فوقه عالم ، حتى ينتهي إلى الله عز وجل

‘Tidak adalah seseorang yang alim melainkan di atasnya pasti akan ada orang lain yang lebih alim daripadanya sehinggalah berhenti kepada Allah Azza WaJalla.’ [Tafsir Ibn Katsir]

Dalam hidup ini, kita memerlukan orang lain, karena biarlah betapa hebatnya ilmu kita atau guru kita maka pasti akan ada yang lebih alim daripadanya. Disebabkan itu taasub dan ghulu kepada seseorang adalah dilarang karena perbuatan itu akan menghalang kita daripada kebenaran.

Diriwayatkan Ali bin Abi Thalib RA berkata ;

إن الحق لا يعرف بالرجال، اعرف الحق تعرف أهله

‘Sesungguhnya kebenaran itu tidak diketahui dengan berpandukan kepada orang-orang tertentu tetapi kenalilah kebenaran maka engkau akan mengenal siapakah orang yang benar.’ [Al-Adab Al-Syar’iyah]

Wallahu’alam.

Galah

22 oktober 2013

Advertisements