zombie-kuSatu kata buat mereka yang berpaham pragmatisme ideologis, “PECUNDANG !!!”

Jangan banyak bicara,

Tak usah banyak bacot, sok intelek, dengan paham yang kalian gendong kemana-mana.

Pragmatisme ideologis, sebutan yang ku ciptakan bagi mereka, yang mengaku menyandang predikat aktivis, revivalis, ideologis. Mereka yang mengaku membawa misi suci, namun tak sekalipun tau apa yang sebenarnya mereka bawa.

Ya, mereka ibarat keledai-keledai yang membawa tumpukan ratusan buku diatas punggung, tapi tak pernah tau kemana akan diejawantahkan, digunakan apa yang mereka punya.

Berpaham mengikuti, hanya ikut-ikutan sebab guru-guru mereka, ustadz-ustadz mereka, sistem yang menaungi, memerintahkan, dan menunjuk agar berpikir selayaknya mereka yang memegang erat ideology yang sudah pasti, tanpa keraguan lagi benarnya.

Semua lahir dari sebuah ketundukan, bukan lagi dari sebuah kesadaran nyata. Bukan dari akal yang berakal, dan berpikir. Tapi, tak lebih dari sekadar ketakutan akan menjadi pecundang, padahal tanpa sadar ketundukan dan ke-pragmatis-an mereka jauh lebih mengantarkan mereka pada pecundang, sebenar-benar pecundang.

Tak ada beda lagi dengan mereka diluar sana, yang hanya menurut sepenuhnya pada guru-guru mereka, tanpa memeriksa terlebih dahulu apa yang disampaikan oleh guru-guru.

Akal hanya menjadi pajangan indah, jadi perhiasan yang memperelok dan melengkapi, agar masih dikatakan manusia.

Mengikuti mayoritas agar tak terasingkan, itu yang dilakukan oleh mereka yang memang bukan aktivis ideologis, mereka yang berkutat pada dunia, dan terkotori oleh ideology-ideologi asing. Tapi itu mereka, bukan kita!! Bukan!!!

Namun, tak bisa memang dipungkiri, diantara banyaknya aktivis ideologis, terkhusus lagi mereka yang mengaku diri adalah aktivis ideology Islam. Tak jarang diantaranya menjadi orang-orang yang pragmatis. Berpikir sebab ketakutan mereka terasing dari kumpulan, hingga semua yang lahir, bukan lagi lahir dari sebuah kesadaran yang tulus. Bukan dari akal yang berpikir, mencari dan terus menginginkan kebenaran.

Tapi semua tak lebih dari sebuah ketundukan akan sebuah perintah, tanpa lagi dipertimbangkan oleh otak mereka sendiri. bukan dari pencarian hakiki, semua tak lebih dari rasa ketakutan mereka dikatakan orang, manusia yang tak berpendirian, hingga mencuri, bermain peran. Sandiwara, dan deklamasi mereka. bahwa mereka juga adalah seorang aktivis ideologis. Tapi sungguh, itu semua omong kosong!!!

Sebuah loyalitas yang lahir dari sebuah ketundukan hanya akan melahirkan aktivis pecundang, yang takut akan pengasingan.

DOGMA??? Jangan sampai, jangan sampai menjadi dogma semata.

Saat diserukan untuk menampilkan diri dimuka umum, meramaikan jalanan menyebarkan opini, begitu getol dan berada digaris terdepan, mejeng di depan umum, tanpa sadar opini apa yang sedang diperbincangkan. Apa yang sedang berlaku? mereka yang berwatak pragmatism ideologis ini akan kehilangan pandangan.

Saat ditanya, “kenapa mereka turun kejalan, apa yang sedang dibicarakan secara detail tentang opini yang sedang dibawa?”.

Bingung, ya, mereka linglung. Dan akhirnya, pokoknya itu-lah, nganu.

Sungguh, tak ingin aku melihat mereka-mereka yang berwatak semacam ini, hanya menjadi Zombie, robot yang digerakkan, tanpa tau dulu apa yang sebenarnya sedang mereka bawa dan bicarakan.

Wahai, para aktivis, aku menyeru pada kalian.

Lahirkan loyalitas atas dasar kesadaran, bukan sekadar ketundukan!!

Jangan sampai menjadi kambing-kambing peradaban.

Yang hanya turuti kata majikan, tanpa tau sebab musabab kalian berlaku.

 

Salam hangat.

Si GALAH

 

Advertisements