pergerakanMesir kembali bergejolak, sudah setahun semenjak Mubarak lengser dari tampuk kekuasaan. Kini, Mursi menyusul, setelah ultimatum dari militer digaungkan. Kumpulan massa bergerombol inginkan penguasa itu segera letak jabatan.

Atas nama demokrasi mereka hancurkan pula demokrasi. Demokrasi?? Cuiihh. Muka ganda phsycopat kekuasaan, sistem jagal, penggal siapa dan apapun yang tak satu haluan. Kata mereka, kami mayoritas, yang besar selalu benar, kami adalah rakyat, ya kami adalah mereka. Omong kosong! Mereka adalah mereka, tetap mereka dan hanya mereka, tak akan pernah menjadi rakyat, menjadi kami. Itulah penguasa-ha demokrasi.

Ada diantara manusia zamanku, mencoba membersihkan kubangan lumpur kandang babi dengan masuk dan bergumul didalamnya. Menguras, mengeruk lumpur kotor hingga ingin benar-benar bersih, badanpun ikut terciprat, tercemar dan kotor. Kubangan belum tentu bersih, badanpun sudah tak lagi suci, najis terkena lumpur babi. Ilusi, begitulah utopis demokrasi, menyeret siapapun didalamya ikut serta, dan menjadikan diri hina. Nikmati oleh kalian kekotorannya.

Revolusi timur-tengah, islamis hampir berhasil disana, bahkan sudah duduk diatas kursi tertinggi. Tapi seperti sudah kuduga memang sebelumnya. Sama seperti yang sudah-sudah, Hamas juga begitu, mereka yang diboikot.  FIS di aljazair pun mengalami kudeta yang serupa. Lumpur itu tetap saja kotor, kubangan itu memang tak bisa dibersihkan dengan kita masuk kedalamnya. Pikirku, cara paling mujarab mestinya kita sedot dari luar dan tindih dengan tanah baru yang bersih. Begitu memang tampaknya cara kerjanya. Jika tidak, mungkin akan ikut terciprat atau tersisih kembali, dan bahkan terlempar keluar menjadi lebih hina, walau awalnya bersih sebelum terjun.

Demokrasi tampaknya memang bukan jalan bagi sebuah idealisme. Kuburan bagi mereka yang menginginkan keadilan dan moral. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, begitulah sajak mereka. Baru-baru ini terjadi dinegeriku, salah satu lagi kontradiktif yang dikandung oleh demokrasi.

Baru beberapa hari ini memang, masih dinegeriku, endonesa raya, yang sebelumnya masih berupa rancangan UU, bertransformasi menjadi UU. Ini terjadi juga, setelah tuhan-tuhan baru dan palsu didalam gedung itu mengetokkan palu dan mengesahkan aturan dan hukum baru bagi manusia endonesa.

Aku belum membaca memang draft terbaru dari pengesahan ini. tapi, sudah kubaca sedikit draft sebelumnya, banyak pasal dan ayat yang mengekang organisasi masyarakat dan kudengar yang terbaru sekalipun masih ditemukan banyak pasal “karet” yang berkemungkinan menjadi alat penguasa untuk membungkam mulut-mulut rakyat yang mengeluarkan suara, meneriaki ketelanjangan mereka, kebusukan para penguasa yang berkubang dalam lumpur demokrasi.

UU ormas disahkan oleh mereka wakil rakyat dalam ruang riuh parlemen. Namun aku masih berpikir. Apa ini yang dinamakan demokrasi? Bagaimana dengan rakyat, kemana mereka dicampakkan dalam perumusan dan pengesahan UU semacam ini. banyak ormas yang menentang dan menolak, begitu fakta yang terlihat dan terpampang nyata dair rakyatku. Slogan demokrasi itu kemana sembunyinya?

Harusnya, semua ormas dan anggota yang tergabung, dan berada didalam negeri ini dikumpulkan menjadi satu dalam satu ruangan. Dan merekalah yang mestinya memutuskan, bukan malah beberapa anggota parlemen yang tidak seberapa itu yang memutuskan, mereka yang hanya berjumlah sekitar 300-an orang saja. sudah jelas semestinya mereka dengarkan suara rakyat dalam yang tergabung dalam ormas, bukan suara 300-an orang itu. apa memang jargon dari rakyat , oleh rakyat, dan untuk rakyat itu hanya khayal saja, Cuma mimpi demokrasi?

Trauma lama dari rakyatku, akan adanya kekangan penguasa, dan pembungkaman masal atas pekikan-pekikan kepada penguasa. Kiraku, mestinya ini tak terjadi lagi pada bangsa yang mengaku diri mereka maju dan pintar. Bebaskan saja ormas-ormas itu, toh sudah ada aturan lain yang mengaturnya, pengkhususan semacam ini nantinya hanya kan berdampak pada pembungkaman sifat kritis rakyat.  Ormas yang menjadi penyambung lidah rakyat kenapa mesti dibuat aturan yang akhirnya akan menjadi kerangkeng. Namun disisi lain, dinegeri demokrasi lainnya, lesbian, gay, biseks, transgender baru-baru ini dibebaskan, tapi kenapa tidak pada Ormas (organisasi masyarakat)? Yang sudah jelas-jelas suara mereka lebih mayoritas daripada binatang sesuka sesame jenis itu. lagipula ormas tak menyalahi apa-apa, jika pun ada tak seberapa. Atau memang prinsip kebebasan itu hanya berlaku pada kebebasan model binatang?

Memang pengaturan tak berarti pelarangan, tapi tetap saja ada irisan dan kemungkinan terkecil akan adanya pembatasan yang dapat berakhir pada pengekangan dan pelarangan, jika pasal-pasal karet dalam draft undang-undang ini terlanggar, sesuai nafsu sang pembuat, mereka ormas dapat terjebak.

Dalam beberapa minggu ini pula, masih dinegeriku, endonesa raya. Harga-harga mulai melambung. Biadab-biadab diatas sana menaikkan harga bahan bakar minyak, dengan alasan menyelamatkan APBN negara yang membengkak, disebabkan subsidi BBM selama ini. cerita apa lagi yang hendak mereka karang. Dikira rakyatnya semua bodoh.

Kesejahteraan kata mereka yang hendak dituju, sejak kapan harga mahal disenangi rakyat? Kenapa BBM kita bisa mahal? itu sengaja supaya asing bisa ikut bersaing dengan pertamina didalam negeri kita ini. begini cara kerjanya, BBm itu awalnya tak seberapa mahal, namun menjadi mahal sebab mesti dijual lebih dahulu pada harga internasional, kemudian baru dijual lagi didalam negeri dengan harga internasional itu, barulah dibuat murah seolah-olah murah, padahal tidak kawan. Hanya tipu itu semua. Sederhananya begini saja, BBM naik, pertmbuhan ekonomi 6,23%, tapi inflasi 7,72% ini menurut sumber yang kubaca. Jadi, kemungkinan negara sekarat akan semakin besar andai BBM naik harganya.

Bajingan-bajingan itu memang tak jemu-jemu juga mengebuli rakyatnya, dipikir semua bodoh dan dangkal. Namun, sebodoh-bodoh rakyat mu ini, jika sudah menyangkut urusan perut, berbaring dijalan dan menjahit mulutpun mereka jabani. Asal harga turun kembali, jika tidak kalianlah yang mesti turun dari jabatan itu. sembunyilah dibawah ketiak-ketiak penolong kalian, kaum asing, diluar negeri ini. berselimutlah pada keindahan dunia yang menipu dan menyesatkan.

Inilah demokrasi, tak perlu dibunuhpun, akan bunuh diri juga akhirnya. Memang rakyat yang punya kuasa dan daulat, tapi hanya milik satu dua orang saja, jika lebih, itupun tak seberapa. Tak lebih dari kumpulan kapitalis serakah.

Tampaknya revolusipun hendak terjadi pula dinegeri endonesa rayaku ini. pada 1998, sudah pula terjadi reformasi, tapi sayang, hanya berisi pepesan kosong. Tetap saja makin carut-marut negeri ini setelahnya. Hanya pergantian tokoh saja, namun sistem dan isinya masih sama saja. reformasi oleh rakyat segera dibajak. Memang begitu tipikal reformasi dengan penyebab bakul nasi dan isi perut. Sudahlah bakul tak terisi, ditambah pula dengan bakul-bakul pun dicuri penguasa baru.

Belakangan ini isu revolusi kembali mencuat. Menjadi perbincangan hangat diantara kami kaum intelektual, mahasiswa, calon sarjana. Kelas intelegensia mesti melakukan sesuatu pada kendaraan rusak, bernama republic Endonesa ini. tapi aku masih belum tahu pasti kawan, bagaimana teknisnya nanti, kita lihat saja, aku tetap ingin menjadi actor didalamnya, menjadi actor sejarah.

Disatu sisi seperti ini, aku cenderung setuju dengan adanya pengesahan UU ormas, penaikan harga bensin dan segala chaos yang terjadi dinegeri ini. lebih-lebih pada UU ormas, yang dalam kemungkinannya akan melahirkan trauma lama, melahirkan kembali rezim represif ala orde baru, pembungkam suara rakyatnya yang tak sejalan, tak sehaluan dengan pemimpin dan kehendak mereka. Semakin represif rezim ini, semakin terbuka jalan endonesa sebagai tanah revolusi, bukan lagi hanya sekedar titik integrasi.

Dizaman ini mahasiswa benar-benar mesti bersikap agnostic pada pemerintahan, demi terwujud rakyat yang bermoral, mulia dan jauh dari segala macam ketololan.

Manusia-manusia dan khususnya mahasiswa apatis boleh masuk lubang buaya, mati saja, daripada hidup jadi beban dan tak berguna.

UU ormas disatu sisi, jadi pintu bagi terbukanya jalan tuk terjadi revolusi, semakin ketat, semakin represif, maka semakin bergejolak bangsa ini, semakin sengit perlawanan, semakin tinggi clash peraduan antar ideology mana yang mampu bertahan. Jika perlu, mari kita berdarah-darah, kawan.

Tanjungpinang, 5 juli 2013.

 

 

 

Advertisements