aloneTerpekur diatas kursi goyang milik kakek, menghadap laut selatan, ditemani riak gelombang sore, yang siap mengantar para nelayan berlayar malam ini. Kopi sudah tak lagi panas, ibarat jejak yang tak lagi miliki bekas. Sama hal nya dengan hati yang tak lagi berpemilik.

“Sedang merenung apa?” tutur kakek padaku sore itu. Memecah lamunan.

“Tidak kek, cuma sekedar nikmati angin”. Jawabku seadanya pada kakek, yang tiba-tiba muncul dengan sepiring pisang goreng hangat, sambil duduk disampingku.

“Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan. Jalani saja, itu kan sudah keputusanmu”.

“Iya kek, ini pun sedang memuaskan diri, menikmati hari terakhirku di kota kelahiran”.

Aku baru saja menyelesaikan secara tuntas sekolah menengah atas. Besok, aku akan berangkat ke kota yang sama sekali baru, kota yang terbayangpun dulu tak pernah. Apatah lagi aku harus benar-benar berada disana.

Ya, besok aku akan segera meluncur ke Jogjakarta. Kota pendidikan, kota pelajar kata orang kebanyakan. Agak berat memang bagiku, anak yang terbiasa dekat dengan keluarga. Anak yang belum pernah beranjak sedikit pun dengan para kerabat, dan besok, ternyata hal itu harus ku lakukan, walau sedikit terpaksa. Ayah dan ibu menginginkan anak bungsunya ini untuk menuntut ilmu nun jauh disana, dinegeri orang, agar anaknya tahu arti hidup. Memang tak banyak yang mereka tuntut, sedikit saja, supaya aku tahu apa itu hidup mandiri.

Sore menjelang malam. Rona mega sudah tak lagi jingga. Kemerahan berganti kelam. Semakin lama semakin hitam, malampun tiba dengan gemerlap bintang.

Usai solat isya, aku kembali kekursi goyang. Kembali menerawang, apa yang akan ku dapat disebarang sana nanti. Mengira-ngira, apa aku sanggup hidup tanpa seorangpun keluarga yang ada disisi. Hingga waktu berjalan begitu cepat, tak sadar jiwa sudah tak lagi disana, terbawa oleh mimpi kosong. Disusul raga yang berpindah.

Ya, kali ini aku benar-benar sudah di Jogjakarta. Ayah, ibu, nenek, kakek beserta saudara dan beberapa sahabat karib mengantarku sampai dibandara tadi pagi. Dan siang ini, aku telah sendiri, dinegeri Ngayogyakarta Hadiningrat, kota istimewa.

Tak sulit mendapatkan tempat tinggal disini, hampir tiap kilometer ada saja kos-kosan yang siap memberi keteduhan. Hanya cukup menyiapkan 100 sampai dengan 200 ribu perbulan, sudah tersedia kamar empat kali empat meter, yang cukup menampung satu lemari dan satu tempat tidur.

Ini hari pertamaku dikampus, Universitas Negeri Yogyakarta. Fakultas sastra, fakultas yang aku pilih sendiri, walau untuk dapat duduk dikursi kelasnya, aku mesti berdebat dulu dengan hampir seluruh keluarga. Memang mereka yang menyuruhku untuk sekolah di jogja, tapi bukan fakultas sastra yang mereka terka.

Termenung dalam lamunan, tepat dibawah pohon rindang depan perpustakaan. Berharap dapat menggali sedikit makna, mengolah kata untuk ku rangkai dalam sebuah untaian, yang rencananya akan segera ku bukukan. Angin bertiup lembut membuatku sedikit terkantuk-kantuk. Hingga pada momen yang begitu singkat, lewat seorang perempuan bertudung kelabu.

“Siapa dia?” hati bertanya, meronta-ronta ingin dapat berbicara empat mata.

Aku bukan tipe yang mudah dekat dengan manusia lain, ditambah lagi orang yang belum atau baru saja kukenal. Tapi perempuan tadi sungguh memikat, seolah tudungnya membisikkan sesuatu, menarik hatiku agar segera menanyakan siapa gerangan nama pemiliki tudung kelabu.

Jadwal kampus hari ini telah habis ku rasa, segera ku bergegas, menunggu digerbang kampus, mengajak seorang temanku, untung-untung dia tahu siapa nama si tudung kelabuku. Rasa ini sungguh tak bisa kurangkai, tak bisa ku untai dalam puisi indah sekalipun. Bukan gombal atau apapun namanya. Memang ini sulit untuk ku larikan kedalam tarian jemari, diatas secarik kertas. Bilangan binary pun kurasa tak sesulit ini. Bahasa mesin tak mampu menyaingi.

Akhirnya yang dinanti benar lewat. Dengan tudung kelabu, ia tertunduk, berlalu tanpa melihatku. Bagai pucuk dicinta, ulam pun tiba. Sabi, temanku ini, tahu siapa gerangan itu.

“Namanya Puput, Ta. Cepat kau kejar, minta nomor hapenya”. Seru Sabi, seakan ini kesempatan terakhirku untuk dapat berkenalan dengannya.

“Tenang Bi, si Tata ini bukan orang yang suka serobotan. Sabar saja, lihat cara mainku”. Balasku pada Sabi, seolah aku ini santai saja. Padahal, hampir kambuh diareku, gugup melihat si tudung kelabu, yang tadi hanya berjarak dua meter dariku.

***

Malam telah datang, mentari kembali sembunyi dibalik barat, tak tampak lagi. Segera saja ku buka laptop dan mencolok modem pemberian kakak, dengan bergegas membuka akun facebook. Mencari, menspionase keberadan puput si “tudung kelabu” didunia maya. Benar saja, seketika itu berselancar didunia kedua, setelah ku ketik nama lengkapnya, “Puput Humairoh”, Sabi yang memberitahu tadi. Muncul nama dan poto akun yang diselipnya dengan poto karikatur wanita, yang entah siapa aku tak kenal. Tapi, yang membuatku yakin itu dia, adalah biografi dan lukisan indah yang terpampang di cover akun si “tudung kelabu”. Aku yakin betul, ini pasti karyanya.

Tak lama ku add dia sebagai teman. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, dapat dipastikan ia menerima permintaan itu. Setelah ini, apa yang terjadi terasa begitu cepat. Setelah kutelusuri, kutelik satu persatu apa yang tertera di dinding profile nya. kudapat satu alasan untuk segara melakukan sentuhan kata.

Puput, begitu teman-temannya memanggil. Duduk disalah satu kursi fakultas bahasa. Berjualan buku secara online, sebagai tambahan penghasilan. Konkret, ini alasanku. Setelah menimbang dan sedikit berpikir, akhirnya kuputuskan untuk segera menghubungi si “tudung kelabu” lewat hape, yang kudapat nomor itu dari akun facebooknya.

Lama ku rangkai kata, hampir lima belas kali ku tulis dan kuhapus lagi, takut tersalah kata. dengan keberanian yang sedikit ku paksa akhirnya, kukirim juga.

Assalamu’alaikum. Maap, aku Tata, anak fakultas sastra. Ini Puputkan? aku berminat membeli buku yang kamu jual lewat facebook. Judulnya padang bulan. Gimana caranya kalo aku mau membeli?”, singkat memang, tak panjang, tapi sampai keringat dingin aku untuk menulisnya.

Walaikumsalam, iya aku Puput. Ohh, novel padang bulan ya. Besok kita ketemuan di depan perpus aja, aku bawa bukunya, harga 45 ribu. aku tunggu kamu disana. Jam 9”. Terbayang olehku bagaimana ia menuturkan kata-kata barusan.

Setelah ku balas “oke”, langsung kututup mata berharap pagi segera menjelang. Memang agak sulit kumasuk ke alam mimpi, tapi tidur juga akhirnya.

Mentari bersinar penuh pesona hari ini, tak seperti biasa. Segera ku bergegas kekampus, padahal tak ada kuliah pagi ini, jam pun masih jam 7 pagi. Sambil membaca dan meminum kopi yang kubeli tadi dikantin, kutunggu kedatangan si “tudung kelabu”.

Benar saja, setelah hampir dua jam aku menunggu, ia pun hadir ditemani seorang temannya. Langsung ku sapa, sebab ia belum kenal siapa aku.

“Puput?”. Tuturku tanpa bersalaman.

“iya, Tata ya?”

“iya, perkenalkan aku Tata”, jawabku agak bergetar, entah ada apa dibibir ini, lebih lagi hati yang berdegup tak jelas dari tadi.

“ini bukunya”. Ia menyodorkan buku itu. Dengan ragu ku ambil dan langsung menyerahkan uang senilai 45 ribu rupiah padanya. Tanpa banyak bicara, setelah mengantongi uang yang kuberi dan berucap terimakasih disusul salam, ia beranjak. Tentu saja dengan senyum khasnya yang merona.

Singkat perkenalanku. Tak banyak kata, setahun, dua tahun berlalu. Masih ku pegang dengan kokoh buku itu. buku saksi bisu redam hatiku. Tak ingin ku buka bungkusnya. Sampai sekarang tak sekalipun ku baca, biar ia jadi mahar dan bukti kesetiaanku. Jika suatu saat nanti aku berjumpa dengannya ditempat yang seharusnya. Masih kusimpan dengan rapat isi hati. Belum pernah sekali pun ku utarakan padanya. Sejak kejadian setahun lalupun, tak lagi pernah ku sapa si “tudung kelabu”. Biar ia nikmati hari nya tanpa harus ku ganggu. Cinta, mungkin itu yang kurasa. Tapi cinta bagiku, suatu yang sakral, yang mesti ku jaga hingga saatnya tiba. Biar ku pendam, jangan kau tahu. Jangan kau tanya, “Apakah ku benar padanya. Apa ku benar mencintai dan akan teguh pada satu hati”. Jangan kau tanyakan itu. Tapi tanyakan padaku, “Apa yang kan kulakukan untuk menyiapkan semua, hingga aku menjemputnya, kelak. Diatas singgasana pelamin.”

 

Tulisan ini cuma fiksi. Sekali-kali pengen membahas cinta lewat cerpen.

🙂

Advertisements