TIME TO DEATHEnam puluh delapan tahun sudah kita merdeka. Sejak founding father negara ini memproklamirkan kata yang membebaskan bangsa dari segala penindasan kaum penjajah. Tak ada lagi kompeni, tak ada lagi kerja rodi, romusha tinggal kenangan. Bangsa kita sudah merdeka, bebas lepas, bangsa asing tak lagi menindas. 68 tahun lalu, tepat tanggal 17 agustus 1945, proklamasi kemerdekaan Republic Indonesia digemakan oleh presiden pertama kita, Bung Karno. Ini menjadi tanda awal bagi bangkitnya apa yang kita sebut sekarang sebagai bangsa Indonesia.

Perjuangan para pahlawan, tak terkira nyawa yang hilang. Dari sabang sampai merauke, katanya, berjuang demi memerdekakan dan mempertahankan Indonesia ini. Namun itu dulu, jauh, sudah lewat berabad-abad yang lalu. Mereka dengan gigih terus berjuang demi bangsa dan negara, demi masa depan anak-cucu mereka.

Proklamasi dan memerdekakan diri dari kekangan kaum penjajah, tak berarti rakyat kita serta merta menjadi sejahtera dan berlanjut kehidupannya selalu bahagia. Musuh nomor satu masih bercokol dalam diri , tak terlihat oleh mata, hanya hati yang tak buta saja dapat melihat dengan jelas lawan-lawan itu. Ya, setelah itu diri sendiri justru menjelma menjadi momok yang lebih ditakuti ketimbang sosok keparat kaum kompeni.

Sekitar dua puluh tahun setelah merdeka, bangsa ini dipimpin oleh Bung Karno dengan ideology demokrasi terpimpinnya. Selama itu pula rakyat dipimpin. Tak lupa sesuatu yang diagung-agungkan bangsa ini, Pancasila, sebagai peneman masa kepemimpinan, yang konon digunakan oleh seluruh pemimpin dalam memimpin negara ini.

Tahun 60-an, terjadi chaos dipusat negara. Rakyat menjerit, pemimpin diminta turun, dan para menterinya dicaci maki oleh rakyat yang digerakkan oleh kaum mahasiswa. Rakyat tak puas, kebijakan ekonomi saat itu dianggap menyengsarakan rakyat kecil, kenaikan harga benar-benar dapat membunuh mereka. Masih disekitaran tahun itu pula. Kejadian penuh konspirasi, penuh misteri, bahkan hingga kini tak dapat dipastikan siapa dalang dibalik semua realita. Ya, gerakan G30 S/PKI, tercatat oleh sejarah sebagai kejadian yang menggetarkan bangsa ini, bahkan oleh dunia Internasional sekalipun.

Pembasmian dilakukan membabi buta oleh oknum-oknum tak bermuka, entah siapa mereka. Untuk merebut harta, tahta, dan anak-anak gadis, mereka membantai siapa saja yang diduga terlibat oleh partai terlarang itu. Ribuan nyawa pun melayang, nyaris tak berharga. Sampai disini, apakah ini yang dikatakan bangsa yang merdeka?

Akhirnya, Bung Karno turun jabatan. Tahun 1968, Soeharto naik menggantikan. Era baru pun bermula, sekali lagi. Seolah pijakan awal tak berbekas, gaya kepemimpan Soeharto bercorak lain lagi. Kapitalisme otoriter tampak diwajah pemerintahannya. Selama hampir 30 tahun memegang jabatan tertinggi dinegara ini, hutang luar negeri Indonesia pun dimulai. Hampir-hampir seluruh kebijakan politik ekonomi terpengaruh pemegang modal, pesanan sang majikan. Belum lagi suasana layaknya dikerangkeng yang dialami oleh mereka para penyambung lidah rakyat. Mereka yang mengkritik kebijakan yang tak memihak rakyat, berakhir dibui atau hilang tanpa bunyi, tak berbekas. Orde baru yang begitu represif benar-benar menjadikan rakyat layaknya kerbau yang tak patut didengar dan tak patut diperdulikan betul. Sudah sampai disini, apakah masih pantas Indonesia dikatakan bangsa yang merdeka?

Tahun 1998, akhirnya Soeharto tak mampu juga mempertahankan lebih lama permainan perannya. Setelah 7 kali berturut-turut selalu terpilih menjadi presiden lagi dan lagi, mantan Pangkostrad inipun lepas jabatan pula. Turun setelah baru beberapa bulan dilantik kembali. Terpaksa turun sebab rakyat sudah jengah dengan kepemimpinan berbau kapitalistik miliknya. Berhari-hari mahasiswa dan rakyat bergerak, menyeru agar ia turun. Pendudukan mahasiswa digedung DPR, keringat dan lelah mereka berhari itu akhirnya jadi kenyataan juga, walau dengan rusuh terlebih dahulu, bahkan sampai mengorbankan beberapa nyawa dipihak mahasiswa. Tepat tanggal 21 mei 1998, sekitar pukul 9, soeharto mengumumkan penngunduran dirinya.

Kini, masa telah berlalu. Kita memasuki zaman baru pula, zaman reformasi namanya. Sekarang semua sudah berbau neo-liberalisme. Tapi sungguh hampir-hampir tak ada bedanya dengan yang sudah-sudah, bahkan jauh lebih bobrok dari apa yang pernah dicatat oleh sejarah barangkali. Perekonomian benar-benar sudah carut-marut, harga melambung tinggi. Rakyat terhimpit oleh keadaan yang benar-benar memaksa. Namanya sudah neo-liberalisme, sistem yang begitu bebas. Hingga saking bebasnya, hampir-hampir dari sabang sampai merauke, bebas diperjual-belikan kepada asing. Hampir tak ada lagi milik kita. Bangsaku sudah seperti babu dirumahnya sendiri. Belum lagi trauma lama akan orde baru yang begitu represif kembali dihidupkan oleh pemimpin baru, Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan membuat UU Ormas, yang berkemungkinan membungkam mulut rakyatnya sendiri. Rakyat sakit, menjerit, terhimpit oleh susahnya hidup. Tapi apa daya, mereka pun ingin ditutup mulutnya, tak boleh bicara, cukup lihat saja, dan tunggu hingga ajal menjelma. Hampir sepuluh tahun sudah SBY memimpin, namun rakyat tetap saja merana. Apa sudah saatnya ada chaos baru? Penurunan paksa lagi bagi pemimpin itu?

Sekali lagi, apakah ini yang dikatakan sebagai bangsa yang sudah merdeka? Mau dibawa kemana bangsa ini. Sudah lebih dari setengah abad, tapi tak juga tampak cahaya. Tak tampak bahwa bangsa ini benar-benar telah lepas dari penindasan. Apa yang salah? Sudah berganti-ganti rezim dilakukan, tetap saja sama. Apa sekarang saatnya kita bertanya tentang Revolusi? Barangkali sudah waktunya kita mengganti sistem, bukan lagi rezim. Mencari ideology baru yang lebih mampu menyejahterakan. Agar tak ada lagi tanya, “Sudahkah kita, bangsa Indonesia merdeka?”

_Agie_

Menjelang 17 Agustus 2013

Advertisements