Terintypography5.jpggat bentangan tangan, hormat telapak saat festival mingguan yang diadakan setiap senin itu. tak akan terangkat bila kawan belakang tak menepuk pundak. Bersama bernyanyi layaknya penyembah salip. Berteriak melantangkan sila demi sila. Tak hormat? maka lambaian telapak lain siap mendarat dipipi. Dongeng-dongeng tentang kepahlawanan. Dogma tentang harga mati sebuah kata. sampai sekarang masih tetap, hanya tinggal sebuah cerita.

Masih bercerita tentang isu lama yang belum terlalu dimengerti, sebab memang sulit tuk dimengerti. Arti sebuah makna dan filosofi sebuah negara yang sekarang, secara tak sengaja diinjak dan terlanjur ku tinggali.

 

Mereka bilang tanah kita tanah surga. Tongkat. Batu. Kayu. jadi tanaman. Pantas saja negaraku tak pernah maju, lah makannya batu dan kayu. Sengsara kok yo dinyanyikan. Coba ya dibuat lagu, “tanah kita tanah surga, nasi padang, sate, gulai daging, ikan bakar jadi makanan”. Setidaknya terlihat sedikit makmur lah rakyatku.

 

Pancasila. Ya pancasila. sejak kecil telah kita dengar gaung namanya. dasar negara republic Endonesa. Banyak cerdik pandai berbicara, bersetubuh dengan alam pikirnya, bergelut dengan permainan kata-kata terdalam, mencari keagungan dari hanya sekedar kalimat. tentang kehebatan dan kesaktian mandaraguna yang terpancar dari kata-kata terangkai dalam lima sila-nya.

 

Awalnya tak ingin mengungkit-ungkit kisah lama, takut dibilang kaum sakit hati. Tapi tak rela juga hati jika terus begini. Alangkah baiknya, tak ada lagi mitos-mitos tersebar. Maju lah sedikit, jangan terlalu skeptic begitu.

 

Biasa mereka punya alasan atas apa yang mereka ajukan. Filosofi ini membawa kesatuan republic kita, karena kalimat-kalimat ini yang menyatukan bangsa Endonesa, menyatukan wilayah-wilayah kita. Kata-kata filosofi ini juga yang menjadi landasan tertinggi. Ini harga mati, akan diperjuangkan walau sampai titik darah penghabisan. Terhapus sedikit saja isinya, bubar sudah negeri ini. katanya.

 

Founding father sudah merumuskan, berkelit sesamanya, memperkosa kata demi kata, demi mencapai kata-kata agung ini. akhirnya, lahirlah rumusan sakti mandraguna. Yang sampai saat ini tak bisa diganggu gugat. Dogma? Ya, barangkali.

 

Pancasila dianggap ideology yang sanggup membantu Endonesa bersaing dengan ideology yang dianut negara-negara global. Pancasila membawa kesejahteraan bagi rakyatnya. Pancasila dapat membawa persatuan dan kesatuan. Pancasila dapat membuat kita lebih beradab. Pancasila dapat membuat kita menjadi bangsa yang bijak dan adil. Negara yang menjunjung kebebasan beragama, berpendapat, dan bla-bla-bla-bla. Sungguh, Negeri dongeng macam apa ini yang sedang diceritakan? Hampir puluhan tahun tak satu pun kudengar realita cerita ini.

 

Dimulai sejak jaman orde lama, sang pemimpin menunggangi pancasila dengan ideologinya yang condong pada sosialis. Runtuh kekuasaan, terganti oleh pemimpin yang berwarna kapitalistik, hingga sekarang pemimpin-pemimpin yang berbaju neo-liberalis. Lantas disemat kemana sila-sila itu? bersembunyi pada kantong-kantong baju sang penguasa, tak bergidik. Tanpa kuasa apapun.

 

Makna dan kata ambigu dari untaian nan berfilosofis tinggi. Layaknya pengkaburan yang disengaja agar mudah sesuai dengan ingin dan laku pemegang kuasa.

Dogma hidup, yang lama-kelamaan membawa pada pendirian tak jelas atas suatu bangsa yang katanya berperikehidupan, berTuhan. Tapi entah Tuhan yang mana satu yang mereka akui.

 

Awalnya, sila pertama begitu terdengar percaya diri. Namun tujuh kata itu hilang bak ditelan bumi. Entah kemana larinya. Ada apa? ada agenda apa saat itu. kaum tua hanya diceritakan ikhlas atas semua itu. diberi janji manis apa oleh sang penguasa orde lama?

 

Konon katanya, tujuh kata yang menjelaskan penjalanan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya itu dihapus sebab dapat memecah Endonesa. Endonesa yang mana pertanyaannya? Mana wilayah Endonesa saat itu? lebih jauh lagi siapa yang punya Endonesa ? atas dasar apa Endonesa dari sabang sampai merauke? Lagipula dalam sejarah, mereka yang protes tak pernah jelas asal-usulnya. What’s wrong with this word?

 

Asal tau saja. Aceh diujung barat sana, berperang atas dasar wilayah mereka saja, bukan untuk Endonesa, mereka berusaha merdeka dengan sendirinya. Disebut negara kantong oleh kekuasaan Hindia-belanda saat itu. belum lagi bali dengan darah mereka. Mempertahankan bangsa dan tanah bali tetap dikuasa mereka atas kuasa kerajaan klungkung saat itu. perang puputan pun terjadi dipulau dewata. perang “ente’-ente’an”, habis-habisan sampai darah dan orang terakhir. baik lelaki ataupun perempuan. kompeni memporak porandakan mereka, dibantu satuan pribumi yang dikirim dari jawa.

 

Belum lagi, tak ada dasar kenapa melayu Malaysia terpisah dengan melayu Riau Endonesa. Mereka satu bangsa, kenapa tak dibilang bangsa Endonesa. Dayak Malaysia dan dayak Endonesa begitu juga berlaku. Sebaliknya, bangsa melayu tak akan mau dibilang satu bangsa dengan bangsa Papua. Tapi kenapa mereka disatukan. Kenapa?

 

Lantas atas dasar apa Endonesa adalah Endonesa seperti saat ini? itu semua tak lebih dari sekat-sekat yang dibuat oleh kuasa Belanda. Lanjutnya, negeri ini hanya buatan tangan mereka saja atas kuasa Sri ratu Nederland. dan uniknya, kita mempertahankan dan membanggakan hasil buatan mereka itu. hebat bukan kepalang.

 

Masih mengaku Pancasila yang menyatukan? Malah timbul pertanyaan baru. Kalau memang iya, pancasila menyatukan Endonesa kita ini.

Kemana pancasila saat Timor-Timur lepas? Kemana perginya burung sakti itu?

Keadilan Endonesa. Kemana larinya saat pencuri buah dihukum lebih lama dan sengsara ketimbang pejabat pencuri hak-hak rakyatnya?

Kemanusiaan yang adil dan beradab. Kemana larinya? Saat bintang porno jadi pujaan anak-anak kita. Kemana larinya?

 

Pancasila tak sakti lagi? Atau memang pancasila tak sesuai lagi untuk Endonesa yang sudah modern ini? begitu kan alasan kebanyakan orang saat syariat islam hendak diterapkan lagi.

Saat perjalanan negeri ini makin semrawut. Bermunculan bermacam motivasi untuk kembali pada pancasila yang hakiki. “sudah saatnya kita kembali pada pancasila, agar kita kuat kembali”

Logikanya, “Kenapa kita harus kembali pulang, saat kita sudah berada dirumah kita sendiri?” benar-benar dogma kronis.

 

Atau memang kita tak pernah sebenarnya menggenggam pancasila dalam negeri ini? hanya hiasan dinding perelok suasana. Agar dikira masih negara berdaulat dan merdeka.

Memang pancasila bukan ideology yang sanggup bersaing. Ia hanya serupa judul, merek, tagline yang mempermanis barang dagangan.

 

Tak ada, dan tak pernah diajarkan pada kita untuk menerapakannya. Tak ada metode baku untuk mewujudkan hikayat dan dongeng-dongeng pancasila ini.

Tak ada satupun rezim yang berhasil kembali, bahkan menerapkan nilai-nilai ini. sungguh, mungkin tak akan pernah ada.

Yang sekarang jelas terpampang pada negeri ku. Hanya anutan atas demokerasi. Ya , demokerasi. Dan lagi-lagi pancasila hanya jadi tunggangan dan tumbal tanpa kuasa.

Demokerasi ? kau punya giliran nanti untuk ku ceritakan.

 

Jogjakarta, 6-6-2013

Advertisements