Foto1351Entah sampai kapan lumpur itu kan terus menggenang. Ntah sampai kapan rumah-rumah itu tak berpenghuni. Entah sampai kapan kegersangan itu melanda. Entah sampai kapan…?

Lumpur itu telah keluar dari persembunyian panjangnya. Tak seharusnya dia keluar. Dia bukan ingus yang mesti dikeluarkan. Dia bukan penyakit. Tapi nyatanya, keluar juga dia. seperti bisul yang keluar dari peraduan. Meluber, membasahi sekitar. Membuat onar dan menyebarkan bau busuk tak bersahabat.

Sudah lama memang tak kudengar kabar mu. Media tak lagi memberitakan, media bungkam. Memang karena ditutupi, entah memang karena cerita tentang mu telah basi. Tapi yang jelas, masalah mu belum tuntas lagi.

Salah siapa? kata mereka ini salah alam. Alam yang murka kepada makhluk-makhluk durjana. Tapi ingat, ini bukan alam penyanyi dangdut. Bukan adiknya veti vera. Ini alam. Ya, sahabat hidup kita, tempat bernaung selama ini. kenapa kau dipersalahkan wahai alam? Apa yang kau perbuat? hingga manusia-manusia gila ini menyalahkan mu?

Kata mereka kau lah yang memuntahkan “selai” hitam itu. selai yang sampai saat ini pun tak kunjung berhenti mengalir. Benarkah kau kelaurkan ia beserta gas metana tanpa sebab. Apa mungkin begitu. Yang ku tau kau begitu baik pada kami selama ini. kau tak mungkin sejahat itu. buktinya, selama ini baik-baik saja. yang ku tau bencana datangpun pasti ada sebab. Jika tak karena keinginan Tuhan. Keinginan-Nya untuk mengazab makhluknya, keinginan Tuhan untuk menguji hamba-Nya. jika tak begitu pasti karena ulah tangan manusia sendiri.

Aku malah takut jika tak terjadi apa-apa pada alam ini. taka da bencana dan Tuhan membiarkan kita begitu saja. aku malah khawatir jika begitu adanya. Adakah Tuhan sudah tak perduli? Apakah Tuhan tak mau lagi mengurus kita? Membiarkan apa saja yang hendak dibuat. Jika begitu adanya? Tunggalah saat pembalasan. Takut sungguh aku.

Porong!!

Kau jadi saksi kerusakan tangan manusia. Sudah jelas ini bukan salah alam. Sudah jelas itu. lantas? Manusia mana yang mesti bertanggung jawab?

1 februari. Tengah hari aku lewat menghampirimu. Sebelumnya kau hanya ku tatap lewat layar kaca berbentuk kotak dari rumah. Melihat begitu banyak “selai” yang keluar dari perut dan kerak-kerak mu. Tak terbayang sebelumnya jika begini adanya. Pernah kudengar sekali, saat saudaraku pernah melewatimu. Dia katakana kau sungguh menderita. Tak terbayang pula jika aku akan juga mengunjungimu. Walau hanya lewat dengan kereta. Dan tampak tanggul kokok yang mengelilingi. Kau tak tampak lagi seperti kota. Tak tampak lagi pernah ada kehidupan disana.

Entah berapa kilometer persegi tetutup lumpur bau mu. Tak sempat aku mengira., atau sekedar bertanya pada penghuni disana. Aku masih diatas kereta, tak mungkin ku loncat menghampiri. Bisa mati. Terlihat pasti hanya satu. Tanggul! Benteng tanah tinggi yang dengan angkuh mengelilingimu.

Hampir 10 meter, mungkin lebih. Tak sempat memasang meteran disana. Hanya kira ku saja. tanggul yang awalnya onggokan tanah yang sengaja ditimbun agar “selai”mu tak kemana-mana. Kini, ia benar-benar telah menjadi gunung tinggi yang permanen. Seakan itu memang bentukan alam. Memang telah ada sejak lama. Sungguh ironis. Kenapa bisa desa-desa itu menjadi sunyi.

Tak ada lagi yang perduli dengan erangan napasmu. Tak ada lagi yang perduli kemana penghunimu melarikan diri. Tak ada lagi. Yang ada hanya perlarian diri dari tokoh-tokoh serakah yang menutup diri. Seolah ini bukan salah siapa-siapa.

Penghunimu entah pergi kemana. Yang tinggal hanya sepi, sunyi. Yang tersisa hnya pengais rejeki pinggiran jalan. Itu pun aku tak tau, apakah memang berteduh disana, atau hanya sekedar mencari uang untuk sesuap nasi.

Poster-poster masih berkibar megah, melambai-lambai di sepanjang tanggul mu. Tak pernah mati ditelan baunya lumpur. Andai saja para manusia terzolimi itu setegar poster, mungkin masih ada manusia dipenjuru lain yang mau perduli. Tapi sayangnya, manusia tak kan pernah seperti poster. Tak akan tahan ditengah situasi.

Bermacam-macam kata terpampang disana. Mulai dari keluhan korban. Tapi bukan korban untuk idul adha. Mereka menulisa berbagai kata memelas, sampai kata memaki. Juga menggelitik batinku. Tak luput juga dinding tanggul itu dari kampanye orang-orang gila kuasa. Masih saja sempat-sempatnya berbuat. Sempat-sempatnya juga menarik hati. Andai saja mereka langsung bergerak. Membongkar siapa dalang bencana ini. angkat bicara. Lantang tentang si “roti” itu. kemana ia pergi. Bukan hanya sekedar kampanye. Tapi lupa pada masalah. Malah sibuk mengobral janji. Jangan-jangan,, jangan-jangan. Kau hanya pengalih.

Porong. Sidoarjo. Lumpur mu bau, seperti orang yang menyebabkan ini. hilang tanpa jejak, meninggalkan berjuta Tanya. Meninggalkan “bau”, membuat otak selalu mencari-cari. Kemana lubuk masalah.

Penghunimu tak kan pernah ikhlas. Walau kata telah berucap. Walau mereka telah pergi. Hai penguasa. Haii. Tunggu mereka dihari pembalasan nanti. Salahkan mereka. Tunggu saat lumpur-lumpur itu keluar mengosongkan isi perutnya. Hingga kosong belompong dan ambruk kebawah lagi. Mengisi ruang yang hampa. Sama seperti kalian penguasa tak bertanggung jawab. Aku berharap kalian pun turut tenggelam. Tertimpa lumpur dan tanah.

Foto1352

1 februari, diatas Sri Tanjung.

Advertisements