P1060852Bertanya tentang Jakarta, memang tak ada habisnya. Ibarat kau bertanya, “ seperti apa isi saptiteng itu?”. Saptiteng itu isinya…sudahlah, telalu menjijikkan untuk diutarakan disini. Diutarakan ditempat umum. Yang jelas benda itu lembut dan tak enak dimakan. Jangan pernah berpikir untuk mencicipi.

Berdesakan. Kotor. Memang menyebalkan. Mungkin itu kata yang tepat melukiskan Jakarta. Yang katanya ibukota negara Indonesia. Ibarat saptiteng tadi, memang menggelikan. Tapi tak mesti selalu begitu. Jika pintar dan pintar-pintar, justru menjadi manfaat. Tak sedikit orang yang beternak disana. Ternak hewan licin yang lumayan lah. Lumayan untuk dimakan. Ya lele, apalagi memangnya?

Ohh, Jakarta. Tunggu sebentar, aku kesana. Jangan kemana-mana.

Kemarin, kira-kira. Kami baru sampai pada muqoddimah perjalanan. Pembukaan tentang suka-cita menuju kota sesak, tanpa toleransi.

Tidak bercerita tentang siapapun disini. Jika berharap seperti novel, silahkan tinggalkan bacaan ini, sekarang juga. Dapat ku jamin. Itu tak akan didapat. Hanya bercerita tentang sebagian kecil dari negara ku, ya negara Indonesia. Terbentang dari sekian-sekian bujur dan lintang. Perjalanan panjang dari penjuru jalur selatan. Untung-untung tidak melewati pantai selatan. Bisa-bisa hilang, lenyap kami diculik “nyai blorong”. Yang katanya penguasa pantai selatan. itu sedikit mitos dari rakyat kami, yang akalnya belum bisa juga berpikir pintar. Apatah lagi mengerti agama kebanyakan mereka. Hanya mengaku-ngaku saja. mengaku islam barangkali.

Perjalanan memang selalu menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan, dibanding hanya duduk termangu didalam kamar sempit, bertembok tak dicor. Tapi, perjalanan pula bisa jadi sama sekali tak menyenangkan, jika mabuk darat. Bukan kopi darat, apalagi buaya darat. Dasar hidung belang. Bukan itu. Mabuk darat, hanya mabuk, mual-mual karena perjalanan darat.

Akibat tentu memiliki sebab. Mabuk tentu ada penyebab. Hukum klausal selalu berlaku didunia penuh logika.

Pertanyaan menerawang, “ kenapa jalan ini begitu rusak dan tak layak. bobrok ?!” . apa kerja mereka para kontraktor jalan. Mereka lumeri dengan apa jalan ini? dengan adonan kue? Tentu bukan. Lantas dengan apa?

Hey pemerintah. Jalan ini jalan kami. Mau disalahkan kesiapa jika aku muntah-muntah didalam armada darat ini? malu aku, sungguh malu.

Jalan berlobang menjadi salah satu penyebab besar. Menjadi terduga, bahkan tesangka keluarnya kembali segala macam produk dari dalam perut. Barangkali gaya peristaltic dalam tubuh tak sempurna. Malah muncrat kembali keluar. Keatas. Kemulut. Tertahan. Keluar diluar sana.

Sudah lah berlika-liku. Ditambah Jalan berlobang. Apa perlu kusebut ini jalan seperti wajah penyanyi “itu”. Yang pakai narkoba itu. Haa?

Sudahlah aku tak ingin mempitnah apalagi berghibah. Jalan ini menambah potret kemiskinan negeri ini. padahal tadi sudah dibilang “negara ku”. Hampir menyesal menulis itu.

Jalur selatan, menelusuri tiap kabupaten. Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera. Untung tak terseret arus samudera selatan.

masih bergelut di banyumas, menikmati malam indonesiaku. Lagi-lagi “ indonesiaku”. Puluhan bahkan ratusan kendaraan tetap bekerja dan lalu-lalang dijalan rusak nan sempit ini. tak layak sebenarnya disebut jalan. Lebih tepat disebut, hanya tempat lewat saja. mungkin banyak yang tak sudi lewat, jika ada jalan yang dapat dikatakan lebih layak.

Jawa tengah telampaui, walau bukan dengan sekali dayung. Dua-tiga kabupaten terlampaui. Hampir tidak ada perbedaan antara jogja dan jawa tengah, secara landscape keduanya hampir sama saja. pepohonan rindang disertai dengan terasering sawah berbaris indah. Dilengkapi saluran irigasi yang membelah satu dan lainnya. Indah memang. Itu lah anugerah Tuhan ku.Tuhan kalian juga tentunya.

Tapi, perbedaan terjadi. Memang harus terjadi. Ya, lagi-lagi pada jalannya. Jika jogja jalan bisa dikatakan, “bolehhh lah”. Jawa tengah hampir kejawa barat mungkin berganti, “ pasrahhh lahh”.

Kocok saja perut ini. kocok. Kami telah rela. Sungguh.

Lain provinsi lain lagi cerita. Bandung  menyambut sedikit ramah. Jalan tak terlalu arogan, tak terlalu egois. Tapi sungguh. Jalan disini begitu kapitalis.

Bayangkan, hampir setiap permisi lewat “gerbang tol”, kami harus bersedekah. Terpaksa bersedekah lebih tepatnya. Kata mereka ini “dari rakyat”, “oleh rakyat”, dan “untuk rakyat”. Benar saja. memang dari kami uang ini. pajak mereka tarik. Lantas kami bayar lagi jalan itu untuk melintas. Sungguh kejam negeri orang ini. memang jargon “dari”, “oleh”, dan “untuk itu melekat sekali.

Aneh memang. Jika rugi rakyat mayoritas menanggung. Jika untung?? Ya siapa lagi?

Salah satu tol. Sebut saja punya “grup ROTI”. Coba translet itu kedalam English. Kalian tentu tau siapa sang pujangga harta itu.

Hendak lintas saja, mesti merogoh lumayan dalam kantong dangkal ini. tega sungguh “kalian”.

Gratis, siap lewati “tempat lewat” berlubang, memacu emosi. Jalan mulus, ya sediakan isi kantongmu. Begitu saja kok repot sih.

itu potret sebagian pulau domisili. Masih di”jalan” dan “tempat lewat”. Perjalanan belum masuk “saptiteng”. Bagaimana mencari napas disana. Sesak kah???? Tentu. Kita lihat nanti. Aku masih melawan isi perut. Bergelut dengan usus. Berkongsi dan berkompromi dengan lambung, agar membantu. Tak mengeluarkan “barang-barang” itu.

P1060824

 

Jogjakarta, 13 menuju 14 januari, 2013

Atas nama armada dan seluruh awak .

Advertisements