lantang berbicara kebenaran, tak menjamin semua orang tertarik mendengar. malam ini kembali aku lantangkan hakikat sempurna tentang islam. sekali lagi, aku hanya bisa diam.

awalnya baik saat ku tontonkan sebuah video yang berdurasi tak begitu lama, kaum kerabatku begitu antusias menunggu kelanjutan dari sebuah cerita nyata, berbalut kata-kata penuh makna.

ahh , lagi-lagi suara pesimis itu muncul. suara yang paling tidak ingin aku dengar itu kembali mengalun ditelinga yang belum dibersihkan ini.

“kita benarkan dulu diri kita, kencing aja belum lurus. udah sibuk ingin mendirikan negara islam”

dahulu bola lampu pun seakan tak bisa diwujud, namun setelah ribuan kali mencoba , edison pun mampu. apatah lagi dengan negara islam yang memang janji Allah ?

memang aku tak setegar Umar Bin Khotob , tak sebijaksana Usman Bin Affan , tapi ingat aku juga muslim, yang punya hak untuk menyampaikan risalah.

jika menunggu jadi malaikat, sampai kapan umat ini akan sadar akhirat?

menyampaikan pada orang tua memang tak bisa dengan sekali percakapan, aku tetap hanya bisa diam. tapi aku pun tak mungkin menunggu sampai usiaku bisa meloncati usianya agar beliau mau mendengar dan memahami apa yang ku ucap.

memang sifat orang tua itu tak selalu seideal yang kita pikirkan, layaknya teori yang kita baca dari buku atau dari seorang ustadz.

namun saat suara bising seperti itu terdengar, aku tak boleh gentar. usaha dan mimpi bersama jutaan umat pasti akan terlaksana, saat mimpi kami seakan lari menjauh, bisa jadi itu tenaga terakhirnya untuk lari dari kami.

aku tak kan pernah tau sedekat apa mimpi itu kini, sebelum aku mati dalam perjuangan pasti. aku akan selalu lantang mendaki opini curang yang curam , sampai akhirnya “AKU HANYA BISA DIAM” didalam peristirahatan terakhir.

Advertisements